Kelas Kata (Word Class) Bahasa Indonesia untuk POS Tagger

7 Juli 2008

Setelah googling, ternyata sulit juga mencari informasi mengenai kelas kata bahasa Indonesia.  Apalagi corpus yang sudah diberi tag atau software Part of Speech (POS) Tagger-nya (atau saya yang salah mencarinya ya?).  Satu-satunya yang saya peroleh adalah dokumen TA seorang mahasiswa UI. Kondisi ini termasuk menyedihkan untuk bahasa yang digunakan oleh sekitar 200 juta orang dan dimengerti di beberapa negara (Malaysia, Singapura, Brunei).

Pemberian tag kelas-kata pada dokumen atau kalimat bermanfaat untuk berbagai hal: information retrieval,  language generator, information extraction, summarization dan machine translation.  Berikut adalah contoh kalimat yang telah diberi tag: “Anwar/NNP meninggalkan/VB Kedubes/NN Turki/NNP”.  Mengikuti penaamaan corpus Penn Treebank, NNP adalah proper noun, VB kata kerja, NN adalah kata benda.

Daripada hanya mengeluh , saya coba membuat ringkasan mengenai kelas kata bahasa Indonesia berdasarkan dua buku. Saya fokuskan terhadap aturan untuk setiap kelas kata karena inilah yang dibutuhkan sofware tagger untuk corpus yang sedang saya kumpulkan. Beberapa aturan yang saya perkirakan jarang muncul juga dihilangkan.

Pengembangan di tahap awal adalah pembuatan POS-tagger berdasarkan aturan (ruled-based), kemudian dilanjutkan dengan membuat POS-tagger yang menggunakan Hidden Markov Model.  Rencananya sih kedua tagger ini akan dijadikan open source.

Berikut adalah ringkasannya:

1. Kata Benda
Menurut [KER88][KOS04], kata benda dapat ditentukan dari dua hal, bentuk dan ciri. Dari bentuk, kata yang mengandung ke-an, pe-an, pe-, -an, ke-,  -at, -in, -wan, -wati, -isme, -isasi, -logi, -tas dapat dicalonkan sebagai kata benda. Misalnya “kebakaran”, “pembunuhan”, “karyawan”.  Sedangkan berdasarkan ciri, ciri utama kata benda adalah dapat diperluas dengan “yang”+ kata sifat,  misalkan “sinar yang terang”.  [KOS04] menambahkan ciri:  diawali “bukan” dan tidak diawali “tidak”, misalnya “bukan niatnya”.

2. Kata Kerja
Menurut [KER88] berdasarkan bentuk, kata yang mengandung  me-, ber-, -kan, di-, -i, ter- dapat dicalonkan sebagai kata kerja. Misalnya “berlari”, “menyayi”.  Sedangkan berdasarkan ciri, ciri utama kata kerja adalah kata yang dapat diperluas dengan “dengan”+kata sifat. Misalnya “tidur dengan nyenyak”.  [KOS04] menambahkan ciri: tidak dapat didahului kata “paling”, dapat didahului “akan”, “sedang”, “sudah” dan “tidak”. Ciri-ciri dari [KOS04] bukan ciri utama karena tidak eksklusif untuk kata kerja. Misalnya “sudah harum” dengan “harum” adalah kata sifat.

3. Kata Sifat
Menurut [KER88] kata sifat adalah segala kata yang dapat mengambil bentuk se + reduplikasi + nya, serta dapat diperluas dengan: “paling”, “lebih” dan  “sekali”. Misalnya “seteliti-telitinya”, “sebagus-bagusnya”, “paling cepat”, “lebih kuat”, “sakit sekali”.

4. Kata Keterangan
Kata keterangan adalah kata yang menjelaskan kata yang lain. [KER88] membagi kata keterangan menjadi 13 jenis: Keterangan kualitatif: “ia berjalan perlahan-lahan”; Keterangan waktu: “sekarang”, “nanti”, “kemarin”, “kemudian”, “sesudah itu”, “lusa”, “sebelum”, “minggu depan”; Keterangan tempat: “di sini”, “di situ”, “ke sana”, “ke mari”; Keterangan modalitas: “memang”, “pasti”, “sungguh”, “tentu”, “tidak”, “bukan”, “benar”, “sebenarnya”, “mungkin”, “rasanya”, “mudah-mudahan”, “hendaknya”, “jangan”,”mustahil”; Keterangan aspek: “sedang”, “sementara”, “sudah”, “telah”, “sering”, “biasa”; Keterangan derajat: “amat”, “hampir”, “kira-kira”, “sedikit”, “cukup”, “hanya” “satu kali”; Keterangan kesertaan: “bersama”; Keterangan syarat: “jika”, “seandainya”; Keterangan perlawanan: “meskipun”, “meski”,”jika”; Keterangan sebab: “sebab”, “karena”, “oleh karena”; Keterangan akibat: “sehingga”; Keterangan tujuan: “supaya”, “agar”, “untuk”, “hendak”; Keterangan perbandingan: “sebagai”, “seperti”, “bagaikan”; Keterangan perwatasan: “kecuali”, “hanya”.

5. Kata Depan
Kata depan adalah kata yang digunakan untuk merangkaikan kata atau bagian kalimat [KER88]. Kata-kata depan terpenting adalah  [KER88][KOS04]: “di”, “ke”, “dari”, “pada”, “akan”, “sejak”, “dengan”, “oleh”, “demi”, “guna”, “untuk”, “buat”, “berkat”, “antara”, “tentang”, “hingga”, “menurut”, “menghadap”, “mendapatkan”, “melalui”, “menuju”, “menjelang”, “sampai”, “atas”, “antara”, “bersama”, “beserta”, “sekeliling”, “selama”, “sepanjang”, “mengenai”, “terhadap”, “bagaikan”, “daripada”, “kepada”, “oleh sebab”, “sampai dengan”, “selain itu”.

6. Kata Sambung
Kata sambung adalah kata yang menghubungkan kata-kata , bagian kalimat atau kalimat  [KER88]. Beberapa kata sambung menurut [KER88]: “dan”, “lagi”, “lagipula”, “serta”, “tetapi”, “akan tetapi”, “melainkan”, “apabila”, “ketika”, “bila”, “demi”, “sambil”, “sebelum”, “sedang”, “sejak”, “selama”, “semenjak”, “sementara”, “seraya”, “setelah”, “sesudah”, “waktu”, “supaya”, “agar”, “karena”, “karena itu”, “sehingga”, “sampai”, “jika”, “andaikan”, “asal”, “asalkan”, “seandainya”, “atau”, “maupun”, “seperti”, “bagaikan”, “meskipun”, “biarpun”, “maka”, “adapun”, “akan”, “yakni”, “umpama”, “bahwa”.  Ada juga kalimat yang tidak memerlukan kata sambung. Misalnya “Dia datang, kami berangkat”.

7. Kata Ganti
Kata ganti adalah segala kata yang dipakaikan untuk mengganti kata benda [KER88]. Menurut [KER88] kata ganti dapat dibagi menjadi enam jenis. Kata ganti orang: “saya”, “aku”, “dia”, “kami”, “kita”, “kamu”, “mereka”, “anda”; Kata ganti empunya: -mu, -ku, -nya (”bukuku”, “bukumu”, “bukunya”); Kata ganti penunjuk: “ini”, “itu”, “di sana”, “di sini”, “di situ”; Kata ganti penghubung: “yang”, “tempat” (”kotak yang berisi kalung”, “kota tempat kita bertemu”); Kata ganti penanya: “apa”, “siapa”, “mana”, “mengapa”, “berapa”, “bagaimana”, “bilamana”, “kenapa”, “betapa”. Kata ganti tak tentu: “masing-masing”, “siapa-siapa”, “seseorang”, “para”, “barang”, “sesuatu”, “salah satu”, “barang siapa”.

8. Kata Bilangan
[KER88]  membagi kata bilangan menjadi empat jenis: Kata bilangan utama: “satu”, “dua”, “ribu”, “juta”, “miyar”, “triliun” ; Kata bilangan tingkat “pertama”, “kedua”; Kata bilangan tak tentu: “beberapa”, “segala”, “semua”, “tiap-tiap”, “sebagainya”; Kata bilangan kumpulan: “kedua”, “kesepuluh”, “bertiga”, “bertujuh”.

Kata Tugas
Dapat dilihat bahwa kata keterangan, kata depan dan kata sambung seringkali sulit ditentukan karena saling tumpang tindih. Oleh karena itu  [KER88]  mengusulkan kelas kata pengganti yaitu kata tugas. Jadi semua kata yang tidak masuk ke dalam kata benda, kerja dan sifat akan masuk ke dalam kelas kata tugas ini.

Penentuan kelas kata yang tidak jelas seperti ini sebenarnya adalah masalah utama yang harus dipecahkan aplikasi POS-Tagger.

Mungkin perlu diteliti apakah kata keterangan, sambung, depan memang dapat diganti dengan kata tugas. Tentunya berdasarkan kinerja untuk task tertentu, misalnya untuk summmarization atau information retrieval.

Referensi:
[KER84] Keraf, Goris (1984), “Tatabahasa Indonesia”, Nusa Indah.
[KOS04] Kosasih, E (2004), “Kompetensi Ketatabahasaan dan Kususastraan”, Yrama Widya, Cetakan 2.


Java untuk Text Processing

5 Juli 2008

Saat saya membuat tools untuk eksperimen tesis, ada beberapa class Java yang paling sering digunakan.  Class tersebut adalah:

  • Scanner untuk membaca file teks dan memparsing kalimat menjadi kata.
  • Printwriter untuk menulis file teks. Sangat dianjurkan untuk menyimpan hasil proses ke file pada setiap tahap.
  • HashMap untuk menyimpan informasi yang berkaitan dengan kata. Misalnya probabilitas dan frekuensi kemunculan kata.  Mengapa HashMap? karena waktu untuk menambah dan mengambil data dari struktur ini tetap dan saya tidak membutuhkan keterurutan.

Berikut contoh  pemakaian ketiga class tersebut untuk menghitung frekuensi kata di dalam dokumen dan menuliskannya ke file:


import java.io.*;
import java.util.HashMap;
import java.util.Scanner;
import java.util.Map;

public class HitungFrek {
    public static void main(String[] Args) {
        HashMap<String,Integer> countWord  = new HashMap<String,Integer>();  //frekuensi word di document
        String namaFileInput  = "c:\\tes.txt";
        String namaFileOutput = "c:\\freq.txt";
        Integer freq;
        String  kata;
        File f = new File(namaFileInput);
        try {
            Scanner sc = new Scanner(f);
            //hitung frekuensi
            while (sc.hasNext()) {
                kata = sc.next();
                freq = countWord.get(kata);  //ambil kata

                //jika kata itu tidak ada, isi dengan 1, jika ada increment
                countWord.put(kata, (freq == null) ? 1 : freq + 1);
            }
            sc.close();
            //simpan hasilnya ke file teks
            PrintWriter pw = new PrintWriter(namaFileOutput);

            //loop untuk semua isi countWord
            for (Map.Entry<String,Integer> entry : countWord.entrySet()) {
                kata = entry.getKey();
                freq = entry.getValue();
                pw.println(kata+"="+freq);  //tulis ke file
            }
            pw.close();
        } catch (Exception e) {
            e.printStackTrace();
        }
    }
}

Selesai S2..

28 Juni 2008

Akhirnya selesai juga Sidang S2, bersyukur? jelas. Lega? tidak terlalu juga karena sudah banyak pekerjaan yang menumpuk.

Rencana mau jalan-jalan ke Palembang via jalan darat akhirnya dibatalkan, hanya Lia dan Furqon saja yang pergi dengan pesawat. Ya sudah, nikmati dan syukuri saja, banyak kerjaan artinya saya masih dipercaya orang lain.

Bagi yang tertarik dengan topik tesis saya mengenai “Kompresi Kalimat dengan Hidden Markov Model” dapat mendownload versi lengkapnya di: fpmipa.upi.edu/staff/yudi/tesis_yudi_wibisono.pdf Belum versi final karena masih diperbaiki sedikit-sedikit.

Prasidang dan sidang semuanya lancar, cuma seperti biasa, selalu terbentur masalah tulisan. Saya masih harus banyak belajar menulis laporan teknis.

Seusai sidang agak sedih juga karena teringat Bu Wanti yang menjadi penguji saat seminar proposal dan seminar. Kalau beliau masih ada, pasti beliau yang akan menguji pra dan sidang saya.  Minggu kemarin sambil menjenguk makam bapak, saya sempatkan mampir ke makam Ibu Wanti yang juga berada di Cibarunai. Saya yakin pasti banyak amalan ilmu beliau yang akan terus mengalir.  Amin.


Lab. Basisdata Ilkom UPI

12 Mei 2008

Setelah setahun cuma memiliki nama, dosen dan asisten, alhamdullilah akhirnya hari ini kami punya ruangan beserta komputer :-)

Kami memperoleh ruangan seluas 4×6 meter di gedung perpustakaan Lantai 4 dan komputer baru sebanyak tiga buah. Lab ini memang bukan untuk praktikum kuliah, melainkan tempat riset dan tempat asisten+dosen basisdata “bermarkas” (kesannya perang nih). Jumlah komputer memang sedang diusahakan ditambah lagi.

Kemungkinan saya akan lebih banyak duduk disini dibandingkan ruangan lama saya di gedung FPMIPA. Soalnya internetnya lebih cepat sih :-) Ditambah lagi di ruangan ini saya hanya sendiri beserta para asisten kuliah, jadi lebih bebas.

Hari ini kami berbenah ruangan, kursi dipindahkan (dulunya ruangan ini bekas ruang kuliah), lantai disedot dan dipel, komputer dipasang. Setelah itu makan-makan sambil diskusi mengenai apa yang akan kita lakukan ke depan. Tentu saja masih banyak hal yang perlu ditingkatkan dari lab ini, nanti pelan-pelan akan kita lengkapi.

Ket foto:

Baru ada meja untuk saya dan tiga komputer.
lab basdat

Para asisten sibuk menyiapkan komputer.
lab basdat

Belum punya meja rapat, jadi manfaatkan saja yang ada. Enam meja komputer kecil digabung, jadilah meja besar darurat :-)
meja darurat


Notebook Byon MF31

23 April 2008

Laptop pertama saya, Relion sudah berumur “lanjut” (5 tahun) dan tampaknya memang harus pensiun dengan damai :-) Walaupun merknya tidak begitu dikenal, tapi notebook ini sangat bandel, saya sering menggunakan nonstop belasan jam sehari dan sampai sekarangpun baterenya masih dalam kondisi 75%. Dari awal saya yakin notebook ini memang bagus karena dia berani menawarkan garansi sampai 3 tahun.

Berbekal pengalaman bahwa notebook yang bagus tidak harus bermerk maka saya mulai mencari notebook yang paling optimal dari sisi dana. (sayangnya Relion sudah tidak dijual lagi). Karena notebook bagi saya bukan untuk gaming, maka prioritas utama adalah prosesor, memori, dan garansi.

Ternyata ada mahasiswa saya yang jualan notebook, lalu saat saya tanya apa merk notebook murah yang garansinya diatas satu tahun, dia menyebutkan Byon dan Asus. Dari forum online, ternyata review Byon umumnya lebih bagus dari Asus. Masalahnya cuma satu, banyak komplain dengan pihak service yaitu Astrindo. Tapi karena saya membeli lewat mahasiswa saya harusnya tidak masalah karena nanti kalau ada apa-apa tinggal lewat dia saja.

Akhirnya saya beli Byon MF31 lewat mahasiswa saya. Setelah barang diterima ada masalah sedikit yaitu cd drivernya tertukar dan ada satu dead pixel, tapi dua jam kemudian sudah ditukar dengan unit baru, barangnya dijemput dan diantar lagi :-)

Spesifikasi MF31 adalah sbb: garansi 2 tahun (service+sparepart), T7500, memori: 2 G, HD: 120 G (SATA), vga Intel 256 (shared), 14.1″, non OS dan fitur standard lain: webcam, dvd dual, wifi dst. Harga dibawah 9 juta :-)

Setelah dua minggu menggunakan, berikut review Byon MF31:

  1. Layar diatas ekspektasi saya, ternyata wide screen dan tidak terlalu memantul. Saya beli notebook ini tanpa lihat secara fisik barangnya terlebih dulu, jadi ini merupakan kejutan yang bagus.
  2. Performa bagus, apalagi dulunya saya hanya menggunakan P4 dengan memori 512.
  3. Audio juga diatas ekspektasi.
  4. Untuk main game tidak begitu bagus, sedikit ada lag, tapi tidak masalah karena memang bukan untuk main game.
  5. Tidak panas dan tidak berisik.
  6. Bentuk fisik tidak menarik, berkesan plastik sekali. Tapi ini tidak masalah bagi saya.
  7. Batere bagus, untuk pemakaian normal tanpa wifi bisa tahan 3 jam.
  8. Diluar ekspektasi juga, ternyata ada bluetooth (atau memang sekarang sudah jadi standard seperti wifi?). Jadi sekarang saya bisa internetan dengan HP tanpa perlu pasang kabel. Seperti punya wifi yang jangkauannya luaas sekali :-)

Prinsipnya saya puas dengan notebook ini, apalagi harganya juga relatif lebih murah dibandingkan dengan merk lain.

Kalau ada yang berminat membeli lewat mahasiswa saya, bisa kontak dia melalui ym dengan ym-id
“rizaupi”. Saya rekomendasikan :-)

-update 18mei08- perbaiki T750 jadi T7500, tambah beberapa spek lain –


Saran untuk Depkominfo

13 April 2008

Baru mau ngomel tentang pemblokiran youtube dst, eh keburu dibuka. Bagus untuk depkominfo yang cepat sadar.  Kalau saya jadi menteri depkominfo, sudah saya pecat staf yang merekomendasikan langkah pemblokiran ini.  Menteri boleh jadi tidak mengetahui secara detil cara kerja internet, tapi harusnya punya staf yang benar-benar ahli untuk hal ini. Saya tidak perlu bahas lagi kenapa langkah blokir ini adalah blunder yang fatal, sudah jelas sekali dan sudah banyak dibahas.

Sebaiknya depkominfo fokus pada prioritas pertama: menyediakan akses internet seluas-luasnya kepada seluruh masyarakat.  Ini memang sulit dan butuh perjuangan  panjang. Berapa persen sih masyakarat kita yang memiliki akses internet? dari sekian persen tersebut, berapa yang punya akses broadband? Angka-angka ini harusnya ditulis sebesar gajah lalu ditempel di pintu masuk depkominfo dan ditempel di setiap meja kerja.

Mengenai film yang kontroversi ini, solusinya ya buat film tandingan yang mengklarifikasi. Film ini mencomot ayat-ayat tanpa melihat konteksnya, jadi tinggal buat film yang menjelaskan.   Hanya beberapa saat  setelah heboh film ini,  saya  langsung melihat koran barat yang mengundang ahli agama Islam untuk mengomentari dan mengklarifikasi setiap ayat.  Media asing saja bisa, apalagi kita? Dengan resource yang ada di Indonesia, saya pikir cukup 1-3 hari untuk membuat film tandingan, dan tidak butuh anggaran besar. Kemudian undang blogger,  tulis di forum-forum online untuk menyebarkan fim tandingan ini secara viral. Solusi yang mudah, murah dan elegan.


Sempoa dan Sakamoto

12 Maret 2008

Sebelum masuk SD, Furqon mengikuti les sempoa. Kemudian sempoa dihentikan dan diganti dengan sakamoto. Kedua les ini dipilih karena Furqon memang suka dengan Matematika. Kalau ditanya apa pelajaran yang paling dia sukai, jawabannya pasti matematika (ikut bakat ibunya nih).

Sempoa sendiri dasarnya adalah ketrampilan, jadi jam terbang harus sangat banyak dan model belajarnya adalah drill. PR-nya juga banyak. Inilah yang membuat Furqon bosan (kalau yang ini mirip bapaknya, gampang bosan untuk hal yang rutin :-) Berdasarkan pengamatan ini dan rekomendasi gurunya, Furqon dipindahkan ke les sakamoto.

Kalau dari cerita gurunya, sakamoto ditujukan untuk problem solving, terutama untuk soal cerita. Model soalnya menurut saya mirip tes potensi akademik. Furqon cocok dengan les ini dan yang penting dia suka (calon engineer nih) Lagipula PR-nya bersifat sukarela dan hanya sedikit. Tentu saja Furqon lebih banyak memilih opsi tanpa PR hehe.

Dari yang saya lihat, kelebihan les-les ini terletak pada empat hal: rasio guru-murid (maksimum 1:5),  individual learning (tiap murid bisa memiliki kecepatan berbeda), guru yang berpengalaman dan suasana yang dibuat menyenangkan tapi tetap mendorong kompetisi. Jadi sebenarnya kalau ada sekolah yang mengimplementasikan keempat hal tersebut untuk pelajaran matematika, pasti murid-murid akan suka. Cuma hal ini memang sulit diterapkan di sekolah, bahkan untuk sekolah swasta yang mahal sekalipun.


Diskusi via internet

4 Maret 2008

Beberapa hari terakhir sedang hangat dibicarakan masalah komentar yang membuat kesal beberapa blogger (tidak mau memberikan link ah, nanti dikira cari traffic) Ada yang ngambek dengan menutup blog-nya atau malah menggelar perang.

Sebenarnya kasus komentar panas sudah lama dikenal, terutama di milis dan forum. Istilah flame war, trolliing sudah ada sejak lama.

Ada tiga pengalaman saya yang berkesan seputar hal ini.

Pertama di milis angkatan sekitar tahun 98-99. Saya memberikan tips yang memang terlalu sederhana sehingga diejek beberapa teman. Saya membalas dengan marah sampai akhirnya mereka minta maaf. Tapi setelah semua reda, saya jadi malu sendiri, kok bisa sampai kelepasan seperti itu. Kalau dilihat lagi memang tips dari saya kebangetan sederhananya, dan mereka hanya mengejek biasa saja, hanya guyon sesama teman.

Kedua di milis alumni tahun 03-04. Ada debat yang bagi saya membosankan dan akhirnya saya mengirimkan email yang sadis. Berbulan-bulan milis jadi sepi karena itu. Ini termasuk email saya yang saya sesali, harusnya saya tidak perlu mengirim email seperti itu.

Ketiga, saya pernah memberikan komentar di blog seseorang, ini komentar saya:

Mainan berbentuk pistol dan sebagainya belum tentu memicu agresivitas mas :-) Sejak jaman dulu juga mainan seperti ini sudah ada. IMO, orang tua dan lingkungan (tv, sekolah) yang lebih berperan.

dan ini jawaban dari pemilik blog:

maaf, untuk hal ini kita berbeda pendapat. kita punya argumentasi yang berbeda. silakan anda percayai argumentasi anda, dan saya akan tetap percaya dengan argumentasi saya sendiri. saya tidak memaksakan argumentasi saya kepada anda dan saya harap tidak ada orang yang memaksakan argumentasinya kepada saya. peace… :)

Wah kok saya dianggap memaksa argumentasi? Entahlah, mungkin ada kalimat saya yang dianggap memaksa. Saya tidak perpanjang dan saya tidak pernah lagi lihat blognya. Susahnya banyak blogger yang kalau mengritik pihak lain (biasanya pemerintah) bisa tajam tapi kalau dikritik balik gampang tersinggung. Dari pengalaman ini saya jadi jauh lebih berhati-hati memberi komentar di blog orang lain, kecuali seperti blog mbah Mbel yang bisa bebas hehe. IMHO bagi blogger yang sering terganggu dengan komentar orang: di off saja fasilitas comment, atau gunakan fungsi moderasi atau sekalian dibuat private saja posting blog-nya.

Dari tiga pengalaman itu ada hal-hal yang sekarang saya terapkan (baik di milis, forum atau blog) :

  • Jangan menulis dalam kondisi marah, kesal atau lelah. Jika ada respon negatif, jari jangan langsung ke keyboard untuk membalas. Biasanya saya meredakan diri dulu, nonton tv sambil tidur-tiduran atau main dengan anak saya.
  • Lebih hati-hati lagi menulis, kalau berbeda pendapat jangan lupa tambahkan emoticon, “IMHO”, “no offense”, “sekedar usul”, “maaf” dst, untuk memperhalus tulisan. Sebelum dikirim kemudian dibaca berulang-ulang dulu. Kalau yang dituju masih ngambek juga? ya lihat aturan pertama. Biasanya tidak perlu diteruskan, jangan terpancing flame war. Buang-buang waktu dan tentu saja memalukan. Ingat, sekali tulisan kita dipublish di internet, sulit untuk menariknya kembali. Apalagi kalau menggunakan identitas asli seperti saya :-)

Pemisahan Staf Perokok

22 Februari 2008

Dalam rapat jurusan beberapa hari lalu, ada hal yang menggembirakan: pemisahan ruangan kerja dosen perokok dan non-perokok!

Bagusnya lagi, keputusan ini dilakukan secara terbuka di rapat dengan suasana santai. Salah seorang rekan saya yang perokok hanya berkata sambil ketawa-ketawa “Wah kami dikucilkan euy!”. Saya lihat tidak ada rasa sakit hati, karena mungkin mereka sadar juga bahaya jadi perokok pasif. Saya sih membayangkan ruangan mereka nanti, wah bisa-bisa berkabut.

Walaupun ruangan kerja saya tidak memiliki perokok, tetap saja ini merupakan kabar baik. Di ruangan istri saya, walaupun terpisah cukup jauh tapi tetap satu ruangan dengan dosen perokok. Padahal ada teman istri saya yang sedang hamil juga di ruangan itu. Untung saja (ya orang Jawalah, untung terus :-) ) ruangan itu besar dan banyak jendela yang bisa dibuka, dan yang merokok cuma satu orang.

Pokoknya, dukung diskriminasi perokok dan non-perokok! :-)  Bagi yang punya teman perokok, sayangi orangnya, bukan rokoknya hehe.


Kehadiran Mahasiswa: Wajib atau Tidak?

5 Februari 2008

Saat saya SD sampai SMA, beberapa kali saya pernah berkata “Bu, hari ini males sekolah, di rumah aja ya?”; jawab ibu: “Ya sudah”, dan hari itu sayapun tidak sekolah :-) Bukan berarti ibu dan bapak saya tidak peduli pendidikan lho, apa saja untuk sekolah pasti didukung oleh beliau. Apakah ini jelek? Menurut saya sih tidak, kami empat bersaudara tidak pernah bermasalah dalam sekolah. Dua orang masuk ITB, dua orang masuk UPI. Yang jelas kami diajari untuk hidup jujur, kalau tidak mau sekolah ya tinggal bilang, tidak perlu pura-pura sekolah lalu bolos. Toh setelah “beristirahat” jadi semangat lagi sekolah :-)

Kembali ke masalah kehadiran mahasiswa. Untuk urusan ini, setiap dosen punya cara masing-masing. Ada yang menggunakan batas tertentu untuk ketidakhadiran, lewat dari batas tersebut dilarang ikut ujian. Ada lagi yang mensyaratkan tidak boleh absen 3 kali berturut-turut (kalau loncat boleh). Ada lagi yang langsung dikurangi, tidak hadir 3% ya nilainya dikurangi 3% :-)

Saya sendiri membebaskan mahasiswa untuk datang (atau tidak) dalam perkuliahan. Menurut saya, bisa saja mahasiswa dapat mengikuti kuliah saya melalui e-learning (diskusi online), bertanya-tanya kepada teman, baca buku sendiri dll. Kalau memang dia dapat memenuhi kompetensi yang disyaratkan, kenapa tidak? Justru kalau mereka mampu seperti ini sebenarnya bagus, karena tuntutan dunia kerja sekarang adalah kemampuan belajar yang cepat dan mandiri. Lagipula tidak nyaman memberi kuliah dengan orang yang memang tidak mau mendengar (masuk hanya untuk mengisi daftar hadir).

Tentu saja ada kelemahan untuk pendekatan seperti ini. Kehadiran mahasiswa berkorelasi positif dengan prestasi. Jarang sekali mahasiswa yang malas kuliah mendapat nilai tinggi.

Salah satu solusinya adalah memberikan sebanyak mungkin nilai tambah di dalam perkuliahan. Mahasiswa harus dapat merasakan perbedaan antara belajar sendiri vs mendapat kuliah dari dosen.

Ujung-ujungnya sih harus mempersiapkan kuliah dengan baik dan dosen harus menguasai materi jauh diatas mahasiswa. Artinya harus rajin belajar dan mengupdate diri :-)

BTW, quiz mendadak juga dapat menjadi insentif tambahan :-)