Text Mining untuk bidang Intelijen

22 November 2009

Baru-baru ini media (terutama US) diramaikan dengan Kasus Major Hasan yang menembak hingga tewas 13 orang di Fort Hood. Yang menarik dari kasus ini, dinas rahasia Amerika telah menyadap email antara Major Hasan dengan seseorang dari Yaman dari tahun yang lalu.

Hal ini mengingatkan saya pada kejadian setahun yang lalu. Waktu itu saya mendapat  email dari seseorang di Amerika yang meminta daftar stopwords bahasa Indonesia (waktu itu memang belum saya publish).  Emailnya menggunakan bahasa Indonesia yang cukup fasih, tetapi tetap terlihat bahwa dia bukan orang native Indonesia (dari namanya juga terlihat).  Sebagai akademisi, tentu saja informasi itu saya berikan bahkan kemudian saya upload agar setiap orang dapat mengambilnya tanpa perlu minta ijin lagi.  Saya kemudian iseng mencari info perusahan orang tersebut (dia bukan dari akademisi). Ternyata salah satu client besar perusahaan itu adalah Departemen Pertahanan Amerika.

Sebenarnya itu tidak mengejutkan, departemen pertahanan US sering menjadi sponsor baik untuk lomba text mining maupun penelitian-penelitian yang berkaitan dengan text mining.  Dengan penduduk muslim terbesar di dunia, tentu saja aplikasi text mining untuk bahasa Indonesia menjadi hal yang penting dari sudut pandang intelijen karena tidak mungkin setiap email, blog dan  forum diawasi secara manual.  Ini menjelaskan kenapa perusahaan itu tidak menggunakan orang Indonesia asli,  karena untuk proyek yang sensitif dari sisi keamanan, orang asing jelas tidak diperkenankan ikut.

Indonesia sendiri masih tertinggal untuk hal ini. Pada tweet Mentri Depkominfo, Bapak Tifatul Sembiring menulis bahwa untuk hal yang sensitif dibicarakan lewat twitter silahkan gunakan email beliau di …@gmail.com (cat: saya sudah reply tweet beliau, dan tidak ada tanggapan).   Lalu ada iklan lowongan perwira di TNI yang email kontaknya masih menggunakan domain @yahoo.com.  Saya pribadi tidak yakin mail server dan webserver di Indonesia bebas penyadapan intelijen asing, apalagi email server yang dimiliki perusahan US :) . Ini jelas menunjukan pimpinan kita banyak yang belum sadar tentang aspek  intelijen di dunia maya.


Guru TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi)

5 November 2009

– advertorial :)

Saat ini kurikulum TIK (teknologi informasi dan komunikasi) telah masuk di tingkat SD – SMA.  Hal ini sebenarnya sangat baik karena melek teknologi informasi merupakan sebuah keharusan (lihat kebangkitan India untuk TIK-nya).

Sayangnya ini tidak didukung oleh SDM guru yang memadai. Lulusan Ilmu Komputer atau Teknik Informatika banyak, tapi mereka tidak memiliki akta mengajar.  Akhirnya kebanyakan dari guru TIK yang ada merupakan guru matapelajaran bidang lain.   Diperlukan guru TIK  yang memiliki kemampuan mengajar sekaligus kemampuan di bidang komputer.

Universitas Pendidikan Indonesia, yang sesuai dengan visi “leading and outstanding”  telah berperan sebagai pionir dengan mendirikan Program Studi Pendidikan Ilmu Komputer di tahun 2005   sebagai program studi pertama di Indonesia untuk bidang ini.

Dapat dilihat dari mata kuliahnya Program studi ini menghasilkan sarjana pendidikan (S.Pd)  yang menguasai baik teknik mengajar maupun teknologinya.  Sehingga  lulusan prodi Pendidikan Ilmu Komputer UPI sangat cocok untuk menjadi guru TIK.

Selain matakuliah pendidikan, lulusan juga dibekali  dasar yang kuat di bidang ilmu komputer, tidak hanya penguasaan tools semata.  Sebagai contoh untuk topik pemrograman,  mahasiswa diberi dasar dulu dengan matakuliah Matematika Dasar, Kalkulus,  Matematika Diskrit,  Logika Informatika.  Kemudian mereka mendapat matakuliah Algoritma Pemrograman 1,  Algoritma Pemrograman 2,  Struktur Data, dan Pemrograman Visual. Selanjutnya mereka dapat mendalaminya dengan memilih matakuliah pilihan pemrograman:  Pemrograman Internet dan Pemrograman Berorientasi Objek.

Kalau ada yang bertanya mengapa hanya untuk programming demikian banyak matakuliah kuliah yang harus ditempuh?  Jawabannya:  Matapelajaran TIK di sekolah harusnya bukan hanya menjadi sekedar kursus. Siswa SMP/SMA bukan diarahkan untuk jadi programmer atau ahli IT atau pengguna tools semata.  Tujuan pelajaran TIK di sekolah seharusnya adalah melatih siswa untuk berpikir secara sistematis,  logis dan kreatif dalam memecahkan masalah dengan bantuan komputer.  Contoh lain dapat dilihat pada kurikulum Pendidikan Matematika, Pendidikan Fisika dan lainnya,  kurikulum yang diajarkan pada prodi-prodi tersebut tidak sekedar memetakan matapelajaran atau materi yang diajarkan di sekolah.

Walaupun demikian, kami menyadari pentingnya tools. Hanya menguasai teori tanpa tools juga akan menyulitkan mahasiswa mengaplikasikan ilmunya. Oleh karena itu praktikum menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perkuliahan.  Hal ini didukung oleh tujuh  laboratorium komputer yang dimiliki Ilkom UPI.

Selain kerjasama dengan sekolah-sekolah,   kerjasama dengan industri juga dijalin, misalnya dengan SUN dan Microsoft.

Mengenai anggapan bahwa ilmu komputer tidak terkait dengan ilmu Teknologi Informasi dan Komunikasi,  perlu dilihat bahwa defnisi komputer tidak terbatas PC,  server, laptop atau netbook.  Menurut wordnet definisi komputer  adalah “a machine for performing calculations automatically,  mesin yang melakukan kalkulasi secara otomatis”.  Saat ini, handphone, kamera digital bahkan masuk ke dalam kategori ini.  Dilihat dari kurikulumnya,  Pendidikan Ilmu Komputer jelas tidak hanya mempelajari komputer secara sempit.


Muhammad Hosim Plagiat?

25 September 2009

Hari ini saya iseng menggunakan copyscape.com untuk melihat situs yang melakukan copy paste terhadap blog ini. Sebelumya memang sudah ada posting blog ini yang dijiplak mentah-mentah dan tidak saya hiraukan (Google biasanya memberikan penalti terhadap duplicate content sehingga situs itu toh tenggelam dalam search). Tapi hari ini ada yang menarik, ada satu situs berbentuk blog yang mengcopy sekaligus 4 posting saya (dan mungkin lebih).  Situs ini muncul di halaman pertama bersama blog saya, dan sebalnya,  situs ini jenis situs yang paling saya benci, dimana-mana iklan MLM, member get member dan berbagai macam skema ponzi.

Setelah saya lihat isinya dan googling,  nama pembuat situsnya yaitu  Muhammad Hosim,  sepertinya menggunakan nama asli.  Oleh karena itu saya memberikan hadiah posting ini untuk beliau, sehingga saat googling dengan namanya, maka posting ini  mudah-mudahan minimal ada di halaman pertama :) . (FYI,  googling nama seseorang sudah semakin umum dalam proses seleksi pekerjaan, hubungan kerja dsb).

Berikut snapshot copyscape (di kiri) dan snapshot blog Muhammad Hosim (disebelah kanan).

bukti jiplakan dari blog muhammad hosim

bukti jiplakan dari blog muhammad hosim

Update: beberapa menit setelah publish, posting ini sudah masuk ke halaman pertama (peringkat 6)  hasil googling  untuk  keyword “Muhammad Hosim” . Bagi para blogger yang berminat membantu (menaikan hasil search posting ini), silahkan buat posting tentang kasus ini dengan memberikan link ke posting ini:  http://yudiwbs.wordpress.com/2009/09/25/muhammad-hosim-plagiat/ , mudah-mudahan bisa menyadarkan dan mencegah kasus ini terulang.


Bergandengan Tangan

26 Juli 2009

Repost dari note saya di facebook (12 Maret 09)

Hari ini, jam 6.30: “Pak, anter dong…” kata Furqon. “Sama mama aja” kata saya sambil tetap nempel di depan komputer (kebiasaan dari SMP, kalau udah di depan komputer, susah lepasnya). “Ayo dong” desak Furqon lagi. Ya udah, nyerah. Lia sedang mandi dan Bibi pengasuh Furqon sedang sibuk ngepel.

Sekolah Furqon memang deket, cuma 10 menit jalan kaki, tapi melewati jalan raya yang cukup besar dan banyak mobil dan motor yang gila-nggak-mau-ngerem-walau-ada-anak-sd-nyebrang.

Sambil jalan, kami sesekali bergandengan tangan sambil mengobrol. “Binatang apa yang berbisa?” kata Furqon. “Ular, kalajengking” kataku. “Salah! Bisa sapi, bisa monyet, bisa kucing” kata Furqon sambil nyengir.

Saya dan Lia memang sering menggandeng tangan Furqon, karena Furqon lumayan sering jatuh. Apalagi kalau menyebrang pasti reflek tangannya digandeng.

Tiba-tiba saya teringat peristiwa sekitar 10 tahun yang lalu, saat saya masih mahasiswa. Waktu itu saya dan bapak menyebrang jalan dan mendadak beliau menggandeng tangan saya. Reflek tangan bapak saya tepiskan (malu dong, udah gede). Ah. Padahal itulah naluri seorang bapak yang selalu ingin melindungi anaknya. Agak menyesal juga kenapa saya tepis ya, mudah-mudahan beliau tidak tersinggung (tidak pernah saya tanyakan, dan sekarangpun tidak bisa karena beliau sudah wafat 5 tahun yang lalu).

Kembali ke masa sekarang, saya sadar dalam waktu yang amat dekat Furqon pasti akan malu bergandengan tangan dengan bapaknya, bahkan mungkin malu diantar ke sekolah. Dan tentu saja itu hal yang natural. Tidak sadar saya menghela nafas, tiba-tiba saya merasa beruntung mengantar Furqon sekolah hari ini.

-update juli 09-
Furqon sekarang pergi ke sekolah sendiri sejak naik ke kelas 3.  Sekarang bahkan tidak mau diantar walaupun ditawari :)


Belajar Ibatis (menggunakan Netbeans)

3 April 2009

Kemarin saya mencoba Ibatis, framework untuk datamapping. Selama ini aplikasi Java yang saya buat langsung menggunakan JDBC saja karena memang aplikasinya kecil.

Sayangnya setelah mencoba beberapa tutorial Ibatis yang ada di internet, tidak ada yang menjelaskan secara mudah dan ringkas penggunaan Ibatis pada Netbeans. Butuh lumayan lama untuk membuat versi sederhana (ala “hello world”) dengan Ibatis. Masalah yang muncul adalah pengaturan classpath yang membuat getResourceAsReader gagal. Netbeans selalu mencari di /build/classes,  sehingga perlu ditambahkan beberapa penyesuaian.

Yang akan saya tulis di blog ini adalah tutorial yang paling minimalis yang menggunakan Ibatis. Aplikasinya menggunakan Netbeans (Windows). Tujuannya untuk referensi saya pribadi, jadi yang tidak-suka-tidak-boleh protes, walaupun silahkan saja memberikan masukan :-P Tapi syukur juga kalau posting ini dapat bermanfaat bagi orang lain.

Asumsikan MySQL dan Netbeans sudah ada di komputer. Ibatis dapat didownload di ibatis.apache.org. Buat database baru dengan nama dbtest dengan satu table Mahasiswa sebagai berikut:

create table mahasiswa ( id int auto_increment primary key, nim char(10), nama varchar(50) )

Isi dengan satu record:

insert into dbtest(nim,nama) values (‘1111′,’Budi’);

Kemudian buka Netbeans, buat new project, pilih Java Application. Beri nama “TestIbatis”. Lalu tambahkan dua library yang dibutuhkan, yaitu Ibatis dan MySQL driver. Pilih libraries (gambar bawah), klik kanan, pilih “Add Library” lalu pilih “mysql JDBC driver”. Kemudian klik kanan sekali lagi, pilih “Add JAR/Folder”, lalu masuk ke direktori Ibatis dan pilihlan ibatis-x.x.x.xxx.jar.

Isi Libraries

Isi Libraries

Sekarang buat file XML konfigurasi untuk Ibatis. Klik kanan pada package testibatis (gambar bawah) –> new –> Other –> XML document

Tambah File XML

Tambah File XML

Kemudian pilih XML document

Tambah XML

Tambah XML

Beri nama SqlMapConfig.xml dengan isi sebagai berikut. Jangan lupa sesuaikan nama database (di contoh ini  namanya dbtest), username dan password .

<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!DOCTYPE sqlMapConfig
  PUBLIC "-//ibatis.apache.org//DTD SQL Map Config 2.0//EN"
  "http://ibatis.apache.org/dtd/sql-map-config-2.dtd">
<sqlMapConfig>
  <settings useStatementNamespaces="true"/>
<transactionManager type="JDBC">
    <dataSource type="SIMPLE">
<property name="JDBC.Driver" value="com.mysql.jdbc.Driver"/>
<property name="JDBC.ConnectionURL"
        value="jdbc:mysql://localhost:3306/dbtest"/>
<property name="JDBC.Username" value="root"/>
<property name="JDBC.Password" value=""/>
    </dataSource>
  </transactionManager>
  <sqlMap resource="\testibatis\Mahasiswa.xml"/>
</sqlMapConfig>

Buat xml untuk table mahasiswa (caranya sama dengan buat xml diatas). Beri nama Mahasiswa.xml

<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<!DOCTYPE sqlMap
PUBLIC "-//ibatis.apache.org//DTD SQL Map 2.0//EN"
"http://ibatis.apache.org/dtd/sql-map-2.dtd">
<sqlMap namespace="Mahasiswa">
<select id="getMahasiswa" parameterClass="String" resultClass="testibatis.Mahasiswa">
SELECT
    NIM as nim,
    NAMA as nama
FROM MAHASISWA
    WHERE NIM = #value#
</select>
</sqlMap>

Buat Mahasiswa.java (caranya sama dengan menambah xml document, tapi pilih tipe java class). Isi sebagai berikut

public class Mahasiswa {
   private String nim;
   private String nama;
}

Lalu klik kanan (gambar bawah), pilih refactor –> Encapsulate Field untuk membuat method setter dan getter.

Refactor

Refactor

Pilih semua create getter dan create setter.

Kemudian buat SqlConfig.java untuk membuat map

import java.io.*;
public class SqlConfig {
private static final SqlMapClient sqlMap;
static {
   try {
      String resource = "\\testibatis\\SqlMapConfig.xml";
      Reader reader = Resources.getResourceAsReader (resource);
      sqlMap = SqlMapClientBuilder.buildSqlMapClient(reader);
   } catch (Exception e) {
      e.printStackTrace();
      throw new RuntimeException ("Error initializing MyAppSqlConfig class. Cause: " + e);
   }
}

public static SqlMapClient getSqlMapInstance () {
    return sqlMap;
}
}

Terakhir, di Main.java, tambahkan kode berikut:

import com.ibatis.sqlmap.client.SqlMapClient;

public class Main {
public static void main(String[] args) {
   System.out.println("Coba Ibatis");
   SqlMapClient sqlMap = SqlConfig.getSqlMapInstance();
   try {
        Mahasiswa M = (Mahasiswa) sqlMap.queryForObject("Mahasiswa.getMahasiswa", "1111");
        System.out.println(M.getNama());
   } catch (Exception e) {
      e.printStackTrace();
   }
}
}

Jalankan, dan program akan menampilkan ‘Budi”.


Membuat Perusahaan

7 Februari 2009

Melanjutkan cerita saya menjadi freelancer selama mahasiswa:

Setelah 1.5 th menjadi freelance (thn 98-an) saya mulai berpikir bahwa menjadi freelance mempunyai batasan dari sisi jumlah proyek yang dapat ditangani. Kemampuan mental dan fisik tentu ada batasnya.  Solusinya saat itu adalah membuat perusahaan. Kalau kita memiliki perusahaan, harusnya tidak ada batas jumlah proyek lagi,  perusahaan dapat berkembang (dan mengkerut) mengikutinya.

Saya kontak teman sekelompok saya, dan kita sepakat untuk membuat perusahaan. Niatnya sih waktu itu cuma berempat.  Saya lupa kenapa, tapi  jumlahnya membengkak jadi 10 orang.  Perusahaan tersebut kami namakan Dasamitra Informatika.

Kesalahan utama dalam pembentukan perusahaan ini adalah kami belum memiliki satupun proyek.  Rencana pembuatan produk juga gagal karena kurang motivasi (lagipula waktu itu kami semua masih kuliah). Akhirnya kegiatannya cuma rapat saja.  Kami berdua (saya + calon istri),  kemudian mengundurkan diri.  Perusahan ini setahu saya juga akhirnya tutup.

Usaha kedua pembentukan perusahaan dilakukan setelah saya lulus dan menikah (2001-an) , waktu itu hanya kami berdua pegawainya. Istri menjadi programmer dan  saya merangkap menjadi direktur, sekretaris, sales, programmer sampai office boy :) .   Sesuai dengan jumlah pegawainya,  nama perusahaan ini adalah CV. Dwidata.

CV ini cukup lama hidup, tapi akhirnya tutup juga. Masalah utamanya adalah kami tidak mempunyai modal cukup untuk merekrut programmer full time. Masalah kedua, sulit mencari programmer part time yang berkualitas. Waktu itu saya dan istri belum bekerja sebagai dosen, sehingga tidak memiliki akses ke mahasiswa.  Kami sempat menyewa beberapa programmer part time. Ada yang code-nya begitu buruk sehingga harus saya tulis ulang, ada lagi yang ditengah-tengah tiba-tiba mengundurkan diri.  Masalah ketiga adalah saya malas mengurusi administrasi.  Setiap bulan harus ke kantor pajak, mengurusi tagihan dan lain-lain merupakan pekerjaan yang menyebalkan, tapi menyewa orang lain untuk ini juga terasa kagok karena pekerjaannya masih sedikit.

Walaupun gagal terus, pengalaman yang saya peroleh banyak. Saat ini, walaupun belum ada wujudnya, sebenarnya saya mulai merintis lagi perusahaan.  Di tahun ini saya bersama sembilan orang programmer (mahasiswa) sedang mengerjakan dua proyek,  salah satunya menghasilkan produk.   Bagaimana kelanjutannya? apakah dapat berkembang terus? atau gagal lagi seperti dua perusahaan sebelumnya?  Ya kita lihat saja, hidup adalah belajar kan?  :)


11 Tahun Kemudian ..

23 Januari 2009

Hari ini istri saya mendapat telepon dari Jurusan Teknik  Lingkungan (TL) ITB untuk memperbaiki sistem akademik (SIMAK) yang kami buat 11 tahun yang lalu. SIMAK ini kami kembangkan saat kami masih kuliah S1 dulu. Saat istri saya selesai bercerita, pertanyaan saya cuma satu “Lho, SIMAK itu masih dipake disana?”.  Saat ini sistem akademik ITB sudah terpusat dan software pengolahan nilai di jurusan sebenarnya sudah tidak diperlukan lagi.  SIMAK kami ternyata masih digunakan karena menghasilkan laporan yang spesifik untuk kebutuhan jurusan ini.

Dalam perjalanan pulang, ingatan saya menerawang ke masa lalu.  Sekitar tahun 1997, kami mengembangkan SIMAK di jurusan perminyakan dan berlanjut ke fakultas (waktu itu FIKTM). Akibat salah perhitungan yang parah (rencana pengembangan yang 6 bulan, molor menjadi 1.5 tahun!) ,  pengembangan software ini dapat dikatakan rugi berat. Tapi walaupun secara finansial rugi, bagi kami waktu itu SIMAK ini  adalah software yang paling canggih:  dengan kemampuan masih pas-pasan, ratusan jam digunakan untuk develop, debug dan  fine tuning.  Walaupun tidak diminta, fitur-fitur yang kami anggap bagus kami tambahkan.  Uang bukan masalah waktu itu, motivasi utama cuma idealisme saja. Kepuasan yang paling tinggi bagi programmer adalah melihat programnya jalan, operasional dan berguna bagi orang lain.

Kemudian saya berpikir, bisa tidak software ini dijual ke jurusan lain (sekalian menutup kerugian :) ).  Lalu saya membuat semacam buku promosi berisi fitur-fitur SIMAK. Kemudian saya datangi ketua-ketua  jurusan.  Sempat grogi berat,  maklum masih mahasiswa dan belum pernah jadi sales door-to-door sebelumnya :)   Saya ingat masih menggunakan ransel saat bertemu dengan para ketua jurusan (kurang profesional pokoknya).   Modal utamanya cuma satu:  bukti bahwa software ini sudah operasional di FIKTM.

Umumnya sambutan dari ketua jurusan baik.  Hanya ketua jurusan Teknik Arsitektur yang menolak bertemu (ternyata mereka sudah buat sendiri).  Tapi waktu itu tetap agak sakit hati sih (lagi-lagi bukan sales profesional, harusnya bisa tabah terhadap penolakan :) ) .  Sampai saat ini saya tidak pernah mengusir sales dengan kasar,  paling hanya bilang  “tidak makasih”   tapi tetap dengan senyuman. Ingat masa lalu soalnya.

Jurusan TL adalah jurusan pertama yang menelepon dan tertarik untuk membeli. Wah loncat-loncat saya waktu mendapat telepon dari ketua jurusannya :)     Karena hanya customizing dan sedikit tambahan fitur,  software dapat running dalam 3  bulan dan secara finansial menguntungkan. Sekitar setahun kemudian  Sipil, FSRD, Geodesi dan (akhirnya) IF juga membeli software kami.   Selang 11 tahun,  setelah melewati satu kali upgrade,  yang masih menggunakan SIMAK hanyalah TM (untuk transkrip alumni),  Sipil (?) dan TL. Itupun hanya sebagian fitur saja.

Walaupun tinggal 3 jurusan dari 10, tapi  tetap menyenangkan melihat code yang dibuat waktu kuliah masih tetap berguna setelah 11 tahun.


Tentang Palestina

22 Januari 2009

Perang di Gaza beberapa waktu lalu saya pikir sudah banyak dibahas, terutama dari korban sipilnya yang memilukan.  Saya akan mencoba membahas dari sisi lain.

Menurut saya,  Palestina dan semua muslim pada umumnya perlu melihat lebih jauh ke arah dalam. Yaitu ke arah diri sendiri.  Salah satu akar permasalahan adalah lemahnya orang muslim itu sendiri.  Selama masih lemah, apapun yang akan diterima oleh Palestina pasti berat sebelah.  Mau perang digebukin, mau damaipun tetap ditindas.

Mengapa lemah? ada beberapa faktor:

  1. Tidak bersatu.   Sunni vs Siah, Fatah vs Hamas,  Iran+ Suriah vs Mesir+Arab Saudi.   Pecah dulu baru jajah, teknik klasik yang masih tetap efektif untuk digunakan.  Indonesia sudah mengalaminya waktu dijajah Belanda (sampai sekarang saya masih kagum negara sekecil itu bisa menjajah Indonesia sampai ratusan tahun).  Untuk faktor ini Indonesia sudah bagus. Demokrasi dan pers bebas menjadi kuncinya.
  2. Moral. Salah satu alasan Hamas menang dalam pemilu lalu adalah karena Fatah yang korup. Negara-negara Arab dan Indonesia untuk urusan korupsi masih buruk.  Saya sendiri pernah mempunyai atasan yang saat menjadi imam sholat sangat fasih, tapi dengan mudahnya membagikan uang sogok ke client dan menindas pegawainya.
  3. Penguasaan ilmu dan teknologi. Adakah negara Arab ataupun negara yang mayoritasnya muslim yang dapat menghasilkan sendiri jet tempur? rudal anti pesawat? rudal anti tank?    Kualitas pendidikannya bagaimana? Saya sangat berharap semangat mahasiswa saat demonstrasi sama hebatnya  dengan semangat belajarnya.
  4. Penguasaan ekonomi.  Muslim harus kaya tapi tentu saja dengan cara yang halal.  Untuk Indonesia menurut saya parameter yang dapat digunakan:  kondisi mushola di mall-mall

Semua hal diatas tidak dapat diatasi dalam jangka pendek, butuh waktu belasan bahkan puluhan tahun.  Tapi tentu saja sudah dapat dimulai dari diri sendiri (bekerja, belajar dengan sungguh-sunguh, hindari korupsi),  dari keluarga (alokasikan dana lebih untuk pendidikan,  hidup sederhana untuk hal yang lain), dan dari tempat kerja (persulit mahasiswa mencotek,  ajarkan semangat berjuang).


Tulisan Furqon

10 November 2008

Saat Furqon meminta jatah tambahan main game, dia diminta ibunya untuk menuliskan karangan. Karangan itu diketik sendiri, isinya bebas terserah Furqon. Ini karangannya, bagian awal sih standar tapi saya geli saat membaca paragraph terakhir:

“Hari ini aku pergi ke mall giant . aku ingin membeli mainan lego. aku  tidak menemukan di bagian mainan akhirnya aku mau beli di yens saja. jadi aku menemani mama belanja terus aku membeli donat terus aku pergi ke yens. aku juga tidak menemukan lego jadi aku membeli tas payung jashujan dan membeli tracks hot wheels. aku senang sekali.

Kenapa aku berhak mendapat tambahan 30 menit jatah game dan nonton ? Karena sudah bikin karangan karena aku dapat nilai bagus karena mama lagi baik karena aku suka sholat karena aku terlalu suka main game karena mama lagi senang kali ? “


Mengapa mau jadi dosen?

26 September 2008

Pertanyaan ini dilontarkan oleh rekan dosen setelah dia tahu latar belakang pendidikan saya. “Ngapain kamu jadi dosen? kalau kamu kerja di industri pasti lebih makmur”, begitu ucapnya.  Memang benar juga sih,   kalau dari ukuran uang,  penghasilan  teman-teman seangkatan saya sepertinya sudah mencapai belasan juta per bulan (bahkan lebih).

Menyesal dong? Jelas tidak :-)   Menjadi dosen bukan pilihan terakhir bagi saya. Sebelum saya memilih profesi dosen, saya sudah mendapat beberapa tawaran dari teman untuk bekerja, dengan gaji yang jauh lebih tinggi tentunya.

Pekerjaan menurut saya mirip seperti pasangan hidup. Setiap orang memiliki selera yang berbeda, dan harus ada trade off.  Agak lama juga ternyata untuk menemukan “selera” saya.  Saya termasuk orang yang sering gonta-ganti pekerjaan. Proyek pengembangan software pertama kali saya dapatkan saat SMA, berlanjut menjadi freelancer saat kuliah. Sempat jualan software, baik langsung maupun melalui internet.  Kemudian membuat perusahaan sendiri setelah lulus. Karena perusahaan tidak berkembang, beralih jadi karyawan.  Akhirnya menjadi dosen di tahun 2004 sampai dengan sekarang. Dari semua itu, menjadi dosen menurut saya merupakan  pekerjaan yang paling menyenangkan.

Kenapa bisa seperti itu? Setelah saya pikir-pikir, mungkin karena sifat saya yang cepat bosan. Dengan menjadi dosen, sulit untuk menjadi bosan. Mempersiapkan materi kuliah membuat saya harus terus belajar. Menghadapi mahasiswa yang selalu baru setiap semester memberikan masukan yang segar.  Melakukan penelitian memberikan kebebasan untuk melakukan apa yang kita inginkan (tanpa perlu khawatir hasilnya tidak laku).  Diluar kedua hal itu, profesi menjadi freelancer masih tetap dapat dijalankan :) Malah sekarang saya melibatkan mahasiswa sebagai programmer (saat ini ada 7 orang yang sedang bekerja) sehingga mirip mengelola perusahaan juga.

Kelebihan yang lain adalah fleksibilitas waktu dan tempat kerja.  Urusan kuliah tatap muka memang tidak dapat ditinggalkan (harus di dalam kelas dalam waktu tertentu). Tapi diluar itu, saya dapat bekerja dimana saja.  Penggunaan e-learning membuat saya dan mahasiswa dapat berkomunikasi tanpa perlu dibatasi ruang kelas. Kadang-kadang saya chatting dengan mahasiswa mengenai kuliah sampai jam 1 pagi (tapi kalau ada yang berani menelpon jam 12 malam, ya saya getok).  Kenikmatan seperti bisa bermain dengan anak di pagi hari, mengantar dan menjemput dia dari sekolah dan les, dan… tidur siang merupakan hal yang saya yakin jarang dimiliki orang yang bekerja di perusahaan lain :)

Kelebihan yang lain (lagi) adalah dari sisi politik kantor. Di universitas, walaupun ada, intrik antar dosen relatif sedikit dan lunak.  Dengan jabatan fungsional, dosen suatu saat bisa menjadi ketua jurusan, bahkan rektor. Tapi di saat yang lain dapat menjadi dosen biasa lagi. Ini berbeda dengan di tempat lain yang sekali diatas akan terus naik jabatannya.

Ada yang berminat? :)   Ilkom UPI tahun ini membuka lowongan untuk dosen. Sayangya  mungkin pendaftarannya sudah ditutup (27 sep 08). Tapi tahun-tahun mendatang saya yakin akan terus menerima karena kami masih kekurangan dosen.