Blog baru

30 May 2017 at 21:42 | Posted in Uncategorized | Leave a comment

Akhirnya buat blog resmi di UPI (yudiwibisono.staf.upi.edu)   Posting tentang pemrograman, penelitian, pengajaran dan teknologi akan dilanjutkan di sana. Blog ini tetap akan diisi dengan topik lain seperti keluarga, politik(?) dan lain-lain.

Backend API dengan Python

1 May 2017 at 13:05 | Posted in Uncategorized | Leave a comment

Saat ini saya mulai belajar Python karena Tensorflow (dan beberapa deeplearning framework) menggunakan Python. Lalu kebetulan di kuliah mobile programming saya memberikan tugas besar yang memerlukan backend untuk komunikasi antar app jadi sekalian saja untuk latihan.

Pada tugas mobile programming tersebut mahasiswa diminta membuat app yang mirip Gojek atau Uber tetapi untuk pedagang keliling.  Intinya agar pembeli bisa melihat pedagang keliling yang lewat. Jadi idenya saya akan buat REST  API dengan Python yang dapat digunakan untuk menyimpan dan berbagi  lokasi user (baik pedagang maupun pembeli). Niat utamanya untuk mencoba, niat sampingannya supaya tidak ada mahasiswa yang protes “kok kuliah mobile programming diminta buat backend” hehe.

Untuk server, saya buat droplet DigitalOcean. Bisa saja sih menggunakan server ilkom UPI, cuma gara-gara bulan lalu kena hack jadi males (tepatnya takut utak-atik). Install apache2, mysql, python dan setup Python sebagai CGI tidak susah. Cuma ternyata perlu hati-hati untuk versi python: versi 2.7 dan 3. Saya menggunakan python3, tapi saat install library,  lupa malah menggunakan pip, bukan pip3.  Sempat bingung kok librarynya tidak dikenal padahal sudah diinstall.

Dari sisi bahasa, Python yang menggunakan indentasi, bukan “{” “}” sempat membuat saya salah meletakan code, solusinya saya tambahkan comment seperti “#end for” 🙂 Yang paling susah adalah masalah protokol  HTTP-nya sendiri.  Misal setelah  Content-Type: ..” wajib ada satu baris kosong.  Lalu penanganan error (error 400, 500 dst). Anehnya jarang yang membahas ini, mungkin karena mayoritas menggunakan library seperti Flask? 

Berikut code untuk menyimpan lokasi:

#!/usr/bin/python3

# contoh cara penggunaan:  http://xxxyyy.co.id/updatelokasi.py?tag=yw&userid=123&lat=2.343434&long=1.2423424

import cgi, cgitb
cgitb.enable()

import MySQLdb

form = cgi.FieldStorage()

tag = form.getvalue('tag')
userid = form.getvalue('userid')
lat = form.getvalue('lat')
long = form.getvalue('long')

if (tag==None) or (userid==None) or (lat==None) or (long==None) :
   print ("Status: 400 Bad Request")
   print ("Content-Type: application/json\n")
   print ('{"status":"error parameter tidak lengkap, paramter yg valid adalah userid,tag,lat dan long"}')
   print("")
else:
   tag = cgi.escape(tag)
   #print (tag+":"+userid+":"+lat+":"+long)
   db = MySQLdb.connect("localhost","mobprog","mobprogpass","mobprog" )
   cursor = db.cursor()
   sql ="insert into lokasiuser (tag, userid, latitude, longitude) values (%s,%s,%s,%s)";
   try:
      cursor.execute(sql,(tag,userid,lat,long))
      db.commit()
      print ("Status: 200 OK")
      print ("Content-Type: application/json\n")
      print ('{"status":"OK"}')
      print("")
   except:
      db.rollback()
      print ("Status: 500 Internal Error")
      print ("Content-Type: application/json\n")
      print ('{"status":"Error di server, kontak yudi@upi.edu"}')
      print("")

   db.close()

Sedangkan code untuk mengambil lokasi:

#!/usr/bin/python3

# contoh cara penggunaan: http://xxxyyy.co.id/getlokasi.py?tag=yw&userid=123

import cgi, cgitb
cgitb.enable()

import MySQLdb
import json

form = cgi.FieldStorage()

tag = form.getvalue('tag')
userid = form.getvalue('userid')

if (tag==None) or (userid==None) :
   print ("Status: 400 Bad Request")
   print ("Content-Type: application/json\n")
   print ('{"error":"parameter tidak lengkap, paramter yg valid adalah userid dan tag"}')
   print("")
else:
   tag = cgi.escape(tag)
   #print (tag+":"+userid+":"+lat+":"+long)
   db = MySQLdb.connect("localhost","mobprog","mobprogpass","mobprog" )
   cursor = db.cursor()
   sql =" select timestamp, latitude, longitude  from lokasiuser where userid = %s and tag = %s ORDER BY timestamp DESC LIMIT 1"
   try:
      cursor.execute(sql,(userid,tag))
      results = cursor.fetchall()
      #harusnya cuma satu rec
      isAda = False
      for row in results:
         timestamp  = None
         timestamp  = row[0]
         latitude   = row[1]
         longitude  = row[2]
         response={"timestamp":timestamp.isoformat(),"latitude":latitude,"longitude":longitude}
         body = json.dumps(response)
         print ("Status: 200 OK")
         print ("Content-Type: application/json\n")
         print(body)
         print("")
         isAda = True
       #endfor
      if not(isAda) :
         print ("Status: 400 Bad Request")
         print ("Content-Type: application/json\n")
         print ('{"error":"userid atau tag tidak ditemukan"}')
         print("")

   except:
      print ("Status: 500 Internal Error");
      print("Content-Type: text/html\n")
      print('{"error":"server error, kontak yudi@upi.edu"}')
      print("")
   db.close()

 

 

Tutorial Weka Berbahasa Indonesia

28 March 2017 at 08:29 | Posted in Uncategorized | 1 Comment

Weka digunakan pada kuliah Datamining di ilkom UPI. Alasan utama sih karena gratis, open source, dan menggunakan Java sehingga mudah digunakan sebagai library kalau saya membuat program dengan Java (walaupun perlu hati-hati dengan lisensinya yang GPL).

Saya sudah membuat tutorial singkat Weka di:

https://docs.google.com/document/d/12aX-41KJtNqOVo_78ZUzqJGjZbKweZCJAuZgvhZY808/edit?usp=sharing

Lisensinya creative commons jadi bebas digunakan bahkan dimodifkasi, asal nama saya tidak hilang 🙂  Kalau mau format lain (pdf, doc) tinggal pilih File –> Download as.

Cakupan materinya masih terbatas: klasifikasi, clustering, freq itemset mining. Rencananya akan saya tambah pelan-pelan. JIka ada yang mau menyumbang materi  lebih bagus lagi 🙂

Mengapa memilih sekolah favorit?

24 March 2017 at 22:25 | Posted in keluarga, Uncategorized | Leave a comment

Setiap awal penerimaan siswa baru, isu ini selalu muncul. Ada usaha untuk menghilangkan label sekolah favorit, ada juga yang ingin mempertahankan. Saya bukan ahli bidang ini, jadi saya hanya membahas pengalaman saya dan anak.

Saya sendiri masuk SD dengan kualitas yang termasuk rendah, dengan separuh lulusannya tidak melanjutkan ke SMP (putus sekolah). Masuk SMP yang sekarang terbaik di kabupaten Bandung, SMA terbaik di Kota Bandung dan akhirnya masuk prodi dengan passing grade tertinggi se Indonesia.

Menurut saya, yang membedakan sekolah favorit adalah siswanya. Biasanya siswanya punya karakter rajin, pintar (atau keduanya) dan punya motivasi berprestasi tinggi. Alumninya lebih sukses karena hal ini memang penting saat dewasa nanti.

Keuntungan memilih sekolah favorit?  suasana yang lebih kompetitif. Istilah di atas langit ada langit akan terasa sekali. Lebih terpacu untuk lebih baik lagi. Sekolah favorit juga biasanya memiliki siswa bermasalah lebih sedikit.

Kelemahan memilih sekolah favorit?  suasana yang kompetitif kadang menekan, apalagi di masa remaja yang kepribadiannya belum matang.  Siswanya juga lebih individualistis, soft skill seperti kemampuan kerjasama, empati jadi kurang berkembang.  Masalah yang lain adalah semakin tingginya siswa yang masuk secara curang .  Siswa yang masuk dengan cara curang biasanya punya karakter yang berbeda, dan jika jumlahya terlalu banyak justru menghilangkan keunggulan utama sekolah favorit.

Masalah kecurangan ini terus terang membuat saya jauh lebih khawatir saat anak mengikuti penerimaan siswa baru di tingkat SMP dan SMA dibandingkan perguruan tinggi. Anak saya harus bekerja lebih keras untuk bersaing dengan anak lain yang menghalalkan berbagai cara. Di perguruan tinggi untungnya masalah ini relatif  tidak ada, kalaupun ada yang masuk dengan cara curang banyak yang kena drop out di tahun-tahun awal. Bisa jadi pelajaran bagi para ortu yang menghalalkan segala cara.

Berdasarkan pengalaman saya pribadi, beberapa hal yang saya terapkan pada anak:

  1. SD: fokus lebih pada bermain. Jadi cari SD yang tidak perlu kompetitif,  santai dan bisa dicapai dengan jalan kaki. Karena anak saya anak tunggal, kami berusaha agar sebanyak dan sesering mungkin temannya main ke rumah. Untuk memperkuat materi pelajaran, terutama matematika yang sangat penting untuk dasar, kami ikutkan dia dibeberapa les (sempoa, sakamoto, bahasa Inggris, drum). Les bisa disesuaikan waktu, tempat, guru jadi bebannya bisa diatur.
  2. SMP:  pada tahap ini anak sudah diberi kebebasan untuk memilih sekolah. Saya cuma menyampaikan bahwa target akhir yang perlu diincar adalah prodi terbaik se Indonesia (apapun prodinya), oleh karena itu perlu pertimbangan yang matang juga. Saya tidak mau anak mengincar SMP terbaik, karena menurut saya di masa SMP anak masih dalam tahap bermain (walaupun tidak sebanyak SD). Tapi belajar dari saya yang terseok-seok saat SMA, maka perlu dicari SMP yang kualitasnya bagus. Anak juga didorong untuk aktif dalam berbagai organisasi. Les hanya ikut di kelas 3, untuk mencegah kelelahan.
  3. SMA:  sudah mulai perlu serius dan cari SMA terbaik di kota Bandung. Saya tetap mendorong anak untuk berorganisasi (sayangnya kurang berhasil). Anak saya sekarang di tahap ini.
  4. Perguruan tinggi,  apapun jurusannya, sebaiknya yang  terbaik di tingkat nasional. Jurusannya sendiri saya bebaskan. Untuk alternatif kuliah di luar negeri, saya lebih suka nanti saja saat S2, walaupun  memang kalau anaknya mau ya silahkan saja. Masalahnya kepribadian anak belum matang sampai lulus S1, masih gampang dipengaruhi lingkungan.

Khusus untuk tingkat perguruan tinggi,  perguruan tinggi favorit juga punya kelebihan dari sisi jejaring alumni.

Mengisi Database App saat Instalasi

22 February 2017 at 21:26 | Posted in android, Uncategorized | Leave a comment

— Catatan: Sebenarnya saya biasa posting tentang Android dev di blog yang lain (indonesiaberkicau.com), tapi hosting Qwords terlalu sering bermasalah (situs tidak merespon). Saya sudah upgrade ke paket yang lebih tinggi tapi tetap bermasalah, mau upgrade lagi apa ada jaminan bakal lancar? Informasi penyebab situs mati juga tidak ada (habis resources yang mana?). Oleh karena itu saya akan pindahkan ke blog ini saja — end

Pada aplikasi yang sedang saya buat, saya ingin agar database terisi saat user selesai menginstall app. Cara yang paling sederhana dengan mengisi satu persatu data di method SQLiteOpenHelper.onCreate(SQLiteDatabase) dengan query insert, tapi tidak praktis untuk data yang cukup banyak. Cara yang lain adalah membuat database di luar, diletakkan di assets lalu file database ini dicopy. Harusnya ini yang paling cepat, karena langsung copy antar file dan tidak melibatkan database. Cuma setelah saya coba, selalu gagal, dan ada resiko jika struktur database yang digunakan Android berganti.

Solusi yang saya gunakan adalah membuat file JSON lalu diletakkan di direktori assets kemudian diparsing dan diinsert.  Contoh JSON-nya seperti ini:

[
   {
     "nama": "resto A",
     "alamat": "sarijadi blok 23",
     "telp": "08162424"
   },
   {
     "nama": "resto B",
     "alamat": "buahbatu",
     "telp": "0832324"
   }
]

Simpan sebagai file teks, letakkan di direktori assets (…\app\src\main\assets).

Code berikut memparse data ini dan memindahkannya ke tabel. Transaction diatur manual agar kinerja lebih optimal (cuma belum saya test). Untuk data yang besar, sebaiknya proses load ini dilakukan di thread yang terpisah.

public static final String TABLE_INSERT = "insert into tempat_makan (nama, telepon, alamat) values(?,?,?)";
private static String DATA_FILE = "data.txt";
private void loadData(SQLiteDatabase db) {
    try {
        InputStream myInput  = myContext.getAssets().open(DATA_FILE);
        String jsonStr = getStringFromInputStream(myInput);
        SQLiteStatement insert = db.compileStatement(TABLE_INSERT);
        db.beginTransaction();
        JSONArray jArr = new JSONArray(jsonStr); //karena dimulai dgn array
        for (int i=0; i < jArr.length(); i++)
        {
            JSONObject jObj = jArr.getJSONObject(i);

            String nama      = jObj.getString("nama");
            String alamat    = jObj.getString("alamat");
            String telp      = jObj.getString("telp");

            insert.bindString(1,nama);
            insert.bindString(2,alamat);
            insert.bindString(3,telp);
            insert.execute();
        }
        db.setTransactionSuccessful();
    } catch (Exception e) {
        e.printStackTrace();
        Log.e("yw",e.getMessage());
    } finally {
        db.endTransaction();
    }
}

Word2Vec untuk Bahasa Indonesia

17 November 2016 at 10:10 | Posted in Uncategorized | Leave a comment

Saat saya googling sepertinya belum ada yang membagi model Word2Vec untuk corpus bahasa Indonesia. Saya yakin sudah ada yang melakukan sih, tapi belum sempat membaginya.  Intinya saya akan membuat Word2Vec model untuk semua artikel Wikipedia bahasa Indonesia. Hasilnya adalah pre-trained model yang nanti bisa digunakan untuk berbagai task NLP.  Sedangkan pembahasan seputar Word2vec atau embedded word sudah banyak di internet, jadi tidak perlu saya tulis di sini lagi.

Selanjutnya saya akan bahas proses pembuatannya, tapi kalau ada yang mau langsung menggunakan model ini, dapat download (500 MB) di: drive.google.com/file/...  sedangkan untuk menggunakannya, baca deeplearning4j.org/word2vec di bagian me-load model.

Proses yang saya lakukan adalah sbb (sekali lagi anda bisa langsung menggunakan pretrained model seperti yang saya tulis diparagraph sebelumnya tanpa perlu download wipedia dan men-train-nya). Untuk mendonwload XML Wikipedia bahasa Indonesia, ambil dari dumps.wikimedia.org/idwiki/latest/  pilih file xml-nya  yang dizip seperti: idwiki-latest-pages-articles.xml.bz2.  Ukurannya tidak terlalu besar, 300MB dan setelah diunzip menjadi 1.8GB. Bandingkan dengan Wikipedia bahasa Inggris yang setelah diekstrak mencapai 55GB! Memang artikel wikipedia berbahasa  Indonesia masih terbatas.

XML ini perlu diproses untuk membuang tag dan karakter-karakter yang tidak diperlukan. Rencananya akan saya share source code-nya tapi sekarang masih berantakan dan masih ada beberapa bug (kontak saja kalau ada yang perlu). Yang saya lakukan adalah memindahkan XML ini ke beberapa file teks dan satu file terdiri atas beberapa artikel.

Karena saya lebih nyaman menggunakan Java, saya menggunakan library DeepLearning4J : deeplearning4j.org/word2vec (ada penjelasan yang bagus juga tentang word2vec disana). Saya sangat anjurkan menggunakan Gradle, karena mempermudah penggunaan library. Konfigurasi Gradlenya seperti ini:

compile "org.nd4j:nd4j-native-platform:0.6.0"
compile "org.deeplearning4j:deeplearning4j-core:0.6.0"
compile "org.deeplearning4j:deeplearning4j-ui:0.6.0"
compile "org.deeplearning4j:deeplearning4j-nlp:0.6.0"
compile "org.nd4j:nd4j-x86:0.6.0"

Bagian yang perlu dimodifikasi adalah SentenceIterator yang tadinya hanya memproses satu file, sekarang memproses beberapa file. Proses training dengan konfigurasi berikut memakan waktu kira-kira 2 jam.

minWordFrequency(5)
.iterations(1)
.layerSize(100)
.seed(42)
.windowSize(5)

Setelah dicoba, ada beberapa hasil yang menarik:

  • 5 kata yang terdekat dengan Jakarta didapat: bekasi, tangerang, ciputat, setiabudi, rawamangun
  • 5 kata terdekat dengan Bandung: cimahi, bogor, bekasi, gegerkalong, salatiga  (salatiga aneh)
  • 5 kata terdekat dengan presiden: menteri, kabinet, azarov, valdis, phomvihane (tiga kata terakhir sepertinya presiden suatu negara, tapi kenapa?)
  • 5 kata terdekat dengan bakso: sate, bakmi, rujak, goreng, gorengan
  • Untuk kasus analogi klasik: king – queen = man – woman. Jika inputnya Ratu : Raja maka Perempuan: ?). Yang didapat: perempuan, laki-laki, orang, seonbi, keluarga. Harusnya laki-laki yang pertama, kenapa ini dapatnya perempuan lagi ya?
  • Kasus analogi lain: minum:air = makan: ?  hasilnya juga aneh: air, ceruk-ceruk, panoramanya, bentuang, balangdaras

Sepertinya untuk kemiripan atau kedekatan kata model ini sudah cukup baik, tapi untuk analogi masih berantakan. Perlu penelitian lebih lanjut.

Berikutnya saya mau coba corpus berita dan twitter yang dikumpulkan mahasiswa saya.

 

Review New Brio Satya E CVT (2016)

27 July 2016 at 03:10 | Posted in Uncategorized | 32 Comments

Review Brio sudah cukup banyak, tapi sepertinya belum ada yang menulis pengalaman tentang versi Brio Facelift E CVT. Sayangnya saya pengguna Picanto manual, jadi tidak bisa membandingkan dengan Brio versi AT sebelumnya.

brio

Alasan pemilihan sudah ditulis di posting sebelumnya.

Ini review dari pertama kali mendapat unit, dan terus diupdate sejalan dengan pemakaian:

Update Juni 2017

Konsumsi BBM sekarang 11.3km/l  (Shell Super), sekarang lebih banyak menggunakan D daripada S.


Update Jan 2017: Konsumsi bahan bakar stabil di kisaran 10.5 km/l dalam kota Bandung, kebanyakan menggunakan mode S, tanpa lewat jalan tol dan jalanan relatif tidak macet. Ini lebih baik daripada Picanto manual saya yang hanya bisa 9 sd 10 km/l.  Ternyata sudah tidak berlaku lagi mobil matic lebih boros daripada manual 🙂 BBM yang digunakan adalah Shell Super. Saat saya coba Vpower malah jadi lelet. Kenapa bukan Pertamax? karena dulu Picanto sering ngelitik saat diisi pertamax dan baru berhenti ngelitiknya setelah diberi Shell Super. Kalau mau irit (11km/l), harus menggunakan mode D daripada S, tapi tidak nyaman. Karena perjalanan saya hanya sekitar 15km per hari, ya pilih S saja 🙂

–endupdate


  1. Fitur keamanan termasuk paling lengkap di kelasnya: dual airbag, ABS+EBD, pretensioner seatbelt.  Update: sudah ada skor ASEAN NCAP, 4 bintang untuk penumpang, tapi hanya 2 bintang untuk penumpang anak. Video crash test-nya: https://www.youtube.com/watch?v=AOZwI5IB5wc
  2. Interior ceria sekali warnanya, tapi langsung kebayang akan gampang kotor. Tampilan dashboard sih bagus,  tapi kalau dipegang-pegang terasa sangat tipis dan ada beberapa bagian yang tidak presisi (sudah sering dibahas). Ada bagian yang menggantung seperti dibagian bawah setir yang mengingatkan saya pada ember plastik saking tipisnya hehe. Picanto lebih bagus untuk ini. Update: setelah 2 minggu mulai ada suara halus dari dashboard tengah. Update Nov 2016: suara hilang sendiri.
  3. Body lebih tebal daripada picanto tapi ya tetap saja termasuk tipis.
  4. Bagasi lebih kecil daripada Picanto dan baris kedua juga lebih sempit. Tidak terlalu masalah bagi saya karena karena mobil kebanyakan digunakan hanya untuk berdua dan bagasi jarang digunakan.
  5. Suspensi empuk dan enak untuk jalanan tidak rata dan polisitidur, bantingan saat belok juga jauh lebih kecil dibandingkan Picanto. Setir juga lebih ringan.
  6. Rem akurat. Ini kelemahan utama picanto dan alasan utama saya memilih mobil yang ada ABS+EBD-nya. Update: kalau kecepatan rendah di turunan, rem sering berbunyi kreok-kreok.
  7. Suara mesin dan AC keras. Beda dengan picanto yang hening. Peredaman kolong sepertinya lebih baik daripada Picanto. Suara dari luar dan suara ban lumayan tidak terlalu terdengar (tapi tetap parah sih kalau kecepatan >60). Yang paling menggangu adalah suara kalau hujan, sangat berisik  serasa di bawah atap seng. Mau pasang peredam tapi khawatir jadi rusak atau kotor.
  8. Mesin terasa tenaganya saat ditanjakan, akselerasi juga enak. Saat coba di tol, tidak terasa mencapai 120kpj. Di kecepatan tinggi jauh lebih stabil dari picanto (lebih rendah gc-nya?). Menurut  Autobild, 0-100kpj memerlukan 11.8 detik, lebih lumayan dengan Picanto yang 15 detikan. Update: versi otodriver Brio  12.9 detik untuk mencapai 100kpj.
  9. Saat injak gas untuk menyalip memang ada delay (beberapa menyebut lag).  Dari yang saya baca, ini karena karakter mesin i-VTEC-nya. Mungkin saat RPM rendah, dia masuk ke mode irit dan pada RPM tertentu baru masuk ke mode kinerja tinggi. Terasa aneh,  seperti tidak linear percepatannya,  RPM naik dulu  baru wuss. Suara mesinnya sih jadi asyik hehe (malu juga sih, suara saja yang keras). Atau ini mungkin efek “rubberband” dari CVT?  Efek ini membuat perlu hati-hati saat mau menyalip mobil dari kecepatan rendah, karena kita perlu waktu untuk mendapat percepatan apalagi nyalip di tanjakan.
  10. Terkait masalah lag, saya merasa kalau saya menyetir dari awal agresif, maka mobil akan lebih responsif, mungkin karena RPM-nya jadi relatif tinggi terus. Jadi sepertinya Brio ini enak digunakan santai sekalian atau agresif sekalian.
  11. Saat turun kurang terasa  engine break-nya, perlu lebih hati-hati atau menggunakan mode S. Saya baca ini untuk menghemat BBM.
  12.  Coba mode S sebentar (ingat, pindah ke D->S harus lepas gas dulu agar tidak merusak transmisi), RPM lebih tinggi, suara mesin terdengar dan tenaga lebih besar, tapi delay sih tetap ada walau jauh berkurang. Bagus sekali untuk tanjakan saat macet. Susahnya saat mau masuk lagi ke D, eh malah kelewat masuk ke N, tuas giginya lurus sih.
  13. Coba mode S untuk perjalanan biasa, jauh lebih enak, mobil jadi lebih responsif. Suara mesin memang agak keras, tapi setelah beberapa lama tidak terdengar lagi karena terbiasa. Cuma lampu eco tidak pernah muncul hehe, sepertinya BBM akan lebih boros. Pertanyaannya seberapa boros? kalau tidak jauh beda saya lebih baik pake mode S (ketagihan nih). Kapan-kapan mau saya test konsumsi BBM dengan mode S terus. Dari sekilas, konsumsi BBM tidak turun, mungkin karena sebenarnya kalau di lalulintas yang lancar, mode D sama borosnya karena cenderung menekan gas lebih agresif. Enaknya mode S, tenaga tetap ada saat berbelok, kalau mode D sepertinya RPM turun drastis saat gas diangkat (sebelum belok), ini menyebabkan nyendat saat di gas lagi. Jadi terpaksa harus halus, tapi kalau terlalu halus kadang-kadang malah berbahaya karena orang lain mengira kita memberi mereka jalan. Update: konsumsi turun 0.5 km/liter jika menggunakan S, masih bisa diterima menurut saya.
  14. Lampu terang, dan sekarang di varian E sudah ada fog lamp-nya. Dibandingkan Picanto, jauh lebih terang dan enak untuk nyetir di malam hari.
  15. Seatbelt jauh lebih ringan ditarik daripada picanto, mungkin ini karena ada pretensionernya?  Tidak terlalu penting, tapi terasa sekali bedanya (komentar istri juga sama). Fitur pretensioner ini juga sebenarnya fitur keamanan yang penting karena saat terjadi kecelakaan, seatbelt akan mengencang otomatis sehingga pengemudi “terpaku” pada kursi dan mencegah cedera akibat tekanan seatbelt.
  16. Bau luar masuk ke dalam. Kaget saat dekat bis, kok jadi bau solar?  Setelah baca, ada yang bilang nanti bisa diperbaiki saat service 1000 km (flap di kap mesin dikencangkan?) katanya juga AC di Brio tidak diberi filter AC, jadi sekalian nanti ditambah. Update: sekarang sudah hilang, lupa saya sampaikan saat service 1 bulan. Update: bau masih kadang-kadang terasa, nanti di service 5000km akan saya tanyakan. Update: bengkel tidak dapat menemukan masalahnya (dicoba tdk ada bau luar masuk katanya).
  17. 2 Sept 2016: tambah sendiri filter kabin AC, karena bengkel resmi Honda tidak mau (kata service advisor  harus pesan dulu dan ganti dudukan dan minta biaya 900rb, apaan?). Banyak petunjuk pemasangannya di YouTube kok. Beli di tokopedia, tapi saya salah beli, harusnya beli yang sekalian ada cover. Karena saya tidak punya cover maka saya menggunakan tutup yang lama,  dipotong sebagian, lalu ditempel ulang dengan lakban. Efeknya filternya kepanjangan 😦  Harus dipotong sekitar 4 cm. Bagusnya, tidak seperti video di youtube, glovebox tidak perlu dilepas total, cukup diturunkan saja, ganjal sedikit. Akan saya cek 3 bulan kedepan. Enak ini, bisa ganti sendiri dengan gampang. Jangan lupa airflownya dari atas ke bawah, saya sempat kebalik pasangnya.
  18. Untuk kasus tanjakan, saat rem diangkat enaknya mobil tidak mundur. Saya belum menemukan tanjakan yang membuat Brio mundur saat rem diangkat. Enak banget ini untuk macet ditanjakan kalau dibandingkan transmisi manual yang harus menggunakan rem tangan.  Tapi hati-hati kalau mau menyalip di tanjakan (berakselerasi mendadak di tanjakan) di buku manual ada peringatan bahwa jika menggunakan mode D di tanjakan, kalau kita tekan gas mendadak, RPM malah bisa turun dan membuat tenaga hilang. Saya mengalaminya sendiri, untung tanjakannya satu arah. Selalu gunakan mode S atau L untuk tanjakan yang lumayan curam.
  19. Update: dicoba jalan ke Lembang sampai Subang. Enak  bawanya, tidak ngebanting seperti Picanto, tenaga juga enak (saya menggunakan mode S).  Tapi kalau di tanjakannya cukup curam suara mesinnya lumayan keras dan tetap terasa lumayan berat.
  20. Kursi depan sebelah sopir lebih lapang dibandingkan picanto (kata penumpang yang badannya agak besar). Juga di sisi sopir.
  21. Ada penganturan volume di stir,  terpakai jika saya ngobrol dengan istri dan perlu mengecilkan volume dengan cepat. Saat istri sibuk dengan HP, bisa dinaikkan lagi volumenya dengan mudah hehe. Bisa skip lagu juga enak.
  22. Filter kaca lebih bagus, kabin tetap dingin walaupun dijemur di matahari. Apa ini karena pemasangan green tinted atau kaca film bonus yang lebih bagus?
  23. Tidak ada footrest untuk kaki kiri seperti di picanto, sayang sekali padahal kaki kiri jelas menganggur.
  24. Kursi kurang nyaman, keras dibagian pinggang. Mungkin perlu dilapis dan dipertebal. Jok juga tipis sehingga lutut penumpang belakang sampai terasa kalau menempel ke kursi.
  25. Posisi kursi sopir bagi saya kurang pas sehingga paha menggantung. Sayang ketinggian jok tidak dapat diatur. Solusi: menggunakan sepatu dengan sol tebal.
  26. Membuka pintu bagasi  harus dengan kunci atau tuas. Sudah beberapa kali kunci tertinggal, setelah buka langsung ngeloyor 😦  Pernah juga setelah saya buka dengan tuas, eh lupa nutup (karena tidak jadi pake bagasi). Saat nyetir kok ada bunyi “tiit” setiap beberapa menit, ternyata ada peringatan pintu terbuka.
  27. Update Des 2016: Bagasi serius kecil. Awalnya tidak terasa karena kami jarang bawa barang. Tapi begitu antar saudara ke bandara, wah baru terasa. Hanya muat dua koper sedang. Bentuk kaca bagasi yang miring juga membuat bagian atas bagasi tidak bisa dimanfaatkan (tidak bisa menumpuk barang). Akhirnya terpaksa sebagian koper diletakkan di kursi belakang bersama penumpang.
  28. Lapisan stir membuat tangan mudah berkeringat. Perlu segera diganti/dilapis karena menggangu.
  29. AC lebih lemah daripada picanto. Saat awal beli picanto paling hanya menggunakan setelan separuh. Brio ini kadang di siang hari yang panas, setelan suhu harus maksimal dan blower juga harus lebih dari satu. Kalau sedang idle, maka saat kompresor AC nyala juga terdengar di dalam kabin. Suara blower juga keras. Tidak ada pemanas seperti picanto. Memang jarang sih menggunakan pemanas.
  30. Wiper tidak bisa diset intervalnya. Picanto saja ada 😦
  31. Tenaga mundur relatif lemah. Ini yang aneh.  Rumah saya tempat parkirnya agak nanjak. Saat parkir mundur, mobil sempat  ngeloyor ke depan kalau tidak digas. Saat di-gas agak loncat, hampir saja nabrak tembok 😦  Solusinya dengan rem tangan lalu gas ditekan pelan-pelan. Kalau tanjakan maju tidak masalah. Update Okt 2016: akhirnya nabrak pertama (nabrak pot) gara-gara ini. Parkir mundur yang nanjak benar-benar harus jadi hal yang diwaspadai karena gampang sekali loncat.
  32. Ground clearance rendah sekali, tidak sampai sejengkal. Ini mungkin yang buat Brio terasa stabil, tapi efek negatifnya sudah dua kali gasruk di jalanan jelek.
  33. Kecepatan dibatasi dikisaran 140kpj,  tapi belum pernah kena karena baru coba sampai 120kpj. Tapi setuju dengan pembatasan ini, Brio tidak cocok untuk ngebut.
  34. Ban serep full size (tapi dengan velg kaleng) tidak seperti picanto yang kecil seperti ban vespa. Tapi mungkin dampaknya ke bagasi yang mengecil.
  35. Tidak terlalu penting tapi menarik, mobil ini banyak sekali di jalanan. Untuk yang warnanya sama persis saja ada sekitar 5 di kampus saya.  Bandingkan dengan Picanto belang saya yang mungkin hanya ada 3-5 se-Bandung. Positif: mobil saya tidak gampang dikenali di kampus, negatif: istri sering salah mengenali mobil di parkiran hehe.

Secara umum puas dengan Brio ini, sudah sepadan dengan harganya dan pilihan tepat kalau mau upgrade dari Picanto.

Beberapa hal  yang ada di buku manual tapi jarang dibahas:

  1. Jangan pindah mode gigi sambil menekan gas.
  2. Jangan gunakan gas untuk menahan mobil di tanjakan, gunakanlah rem. Mobil tidak akan mundur kok saat rem diangkat, kecuali sangat curam.
  3. Jangan pindah ke P atau R saat mobil sedang bergerak.
  4. Indikator temperatur akan berkedip-kedip jika mesin sudah mulai dianggap terlalu panas, dan berubah menjadi nyala nonstop jika mesin kepanasan.
  5. Mode S  di transmisi bukan singkatan dari “Sport”, bukan juga “Second” tapi Drive “S” saja.
  6. Pindah D->N tidak perlu tekan pengunci. Demikian juga dari L->S->D (tapi sebaliknya perlu tekan). Pindah dari R -> D juga tidak perlu (tapi sebaliknya perlu). Saya sih tekan terus tekan tuas pengunci mau dari D ke N atau sebaliknya hehe.
  7. 1000km pertama, mesin jangan terlalu dipaksa.

Mengenai pindah gigi ke N  plus rem tangan saat lampu merah? Di manual tidak ada. Tapi dari yang saya baca sepertinya tidak perlu, bahkan lebih ringan bagi transmisi kalau tetap di D dan injak rem, walaupun tidak signifikan (di manual tidak disebut juga, artinya tidak terlalu beda).  Saya sendiri pindah ke N+rem tangan karena lebih rileks saja untuk menunggu lampu merah yang lama. Kaki di rem kalau kelamaan membuat pegal dan takutnya malah kepeleset dan nabrak kendaraan di depan. Tapi kalau lampu merahnya sebentar, ya injak rem saja.


Update service rutin

Service enaknya booking dulu, telepon kira-kira 3-4 hari sebelum waktu service (karena sering penuh). Enaknya booking tidak perlu antri lagi.

  1. 1 bulan/1000km (Agt 2016): Odometer baru 724km tapi sudah kena batas waktu satu bulan (ada SMS dari Honda). Masih gratis, hanya dicek 30 menit. Oli katanya diganti nanti 10rb km. Tapi Honda ini berbeda dengan KIA, selain km ada batasan waktu juga. Untuk saya pasti yang kena adalah waktu dulu.   Saat tanya filter AC, jawab SA-nya harus pesan dulu. Wah? Ya sudah, saya pesan saja di Tokopedia dan nanti pasang sendiri. Lalu ditawari paket cermat, 3 thn dengan paket yang paling tinggi kenanya 4jt, katanya lebih murah 25% dibandingkan non paket. Beda dengan KIA, ada pengecekan kondisi accu setiap service.
  2. 6 bulan/10rb km (Feb 2017): Odometer baru 3500. Perlu sekitar 2 jam, dengan biaya Rp624rb. Saya pilih oli yang  Gold 5F, katanya paling encer (0W-20) dan bikin mobil enteng dan paling mahal juga hehe. Tapi ternyata tidak ada beda yang signifikan. Untung saya tidak jadi ambil paket. Jadi untuk service berikutnya, pilih oli yang biasa saja. Saya laporkan masalah bau dari luar yang masuk (terutama kalau dibelakang truk), tapi katanya setelah diperiksa tidak terjadi. Lalu saya mau beli wiper ternyata tidak ada sparepartnya.

Catatan tentang perawatan AC

  • Service besar picanto saya setelah 9 tahun bukan di mesin atau transmisi  atau kaki-kaki, tapi malah AC. Jadi untuk selanjutnya saya lebih hati-hati. Sekarang mobil Brio saya ganti sendiri filter kabinnya (bisa lebih sering), karpet dan interior disedot debu sendiri, kondensor juga mau rutin dibersihkan dengan disemprot air, dan tiap 2 tahun sekali ke bengkel AC untuk pembersihan. Saya sempat coba semprot kondensor dengan selang biasa, tapi apa tidak masalah ya kena kipas radiator? fan elektronik soalnya. Yang paling aman sepertinya buka kap mesin, lalu semprot dari tengah-tengah antara radiator dan kondensor ke arah luar.
  • Update Feb 2017: Ganti filter AC dan tambah penghilang bau (gel arang). Saya tidak mau menggunakan pewangi karena berdasarkan pengalaman, cairannya bisa merusak dashboard. Foto bawah adalah filter yang saya ganti, waktu itu dipasang Sept 2016 (4 bulanan).  Tidak terlalu kotor sih, karena sudah 2 kali saya sedot debunya  dan warnanya memang coklat. Mungkin sampai 1thn juga masih bisa digunakan. Cuma setelah ganti perasaan sih beda, terasa lebih bersih udaranya (sugesti?) . Nantinya ganti setiap 6 bulan sekali saja.

filterac

  • Pengalaman saya terakhir service AC mobil picanto, memberikan pelajaran bahwa penting untuk mencari bengkel service yang bagus. Waktu itu jok jadi kotor, glove box rusak, prediksi harga dan waktu pekerjaan bergerak terus tidak jelas. Walaupun akhirnya AC bisa dingin, tapi tetap saja ini jadi pengalaman jelek. Setelah tanya di forum, ini rekomendasi bengkel AC di Bandung:
    • Frigia di Jln Naripan dekat Braga. Dari foto sepertinya ini bengkel yang paling profesional, cuma mungkin bakal paling mahal.
    • Pipih Son jl. Karapitan sebelah JNE.
    • Variant AC depan RS Imanuel jln Kopo

Catatan tentang perawatan kaca depan: Bagi saya mobil boleh kotor, tapi kalau kaca depan kotor sangat menggangu (mata jadi susah fokus). Berdasarkan pengalaman dua mobil sebelumnya, gampang sekali bekas hujan jadi permanen. Waktu punya picanto saya gunakan wiper saat masuk masuk garasi jika baru kehujanan. Ini efektir, tapi jeleknya bagian yang tidak kena wiper jadi parah sekali whitespotnya. Lalu karena mungkin ada kotoran di wiper, akhirnya kena baret juga di picanto. Untuk Brio ini saya lebih berhati-hati dan rencananya wiper beli dan diganti sendiri saja. Untuk membersihkan kaca, saya gunakan Optimum No Rinse, efektif tanpa sabun dan untuk body juga buat mengkilap. Update: untuk menghilangkan whitespot tetap susah, saya coba ONR+clay, agak lumayan tapi tetap ada.

Update 20 Sept 2016: Ganti karet wiper karena nggak bersih menyapu air dan bunyinya berdecit. Saat dipegang kok juga lumayan keras karetnya. Trauma pernah kena baret di kaca depan Picanto gara-gara wiper (waktu picanto saya hanya ganti wiper saat service di bengkel resmi, jadi sering telat). Beli yang frameless merk Kanebo, lebih bersih dan lebih lembut karetnya, tidak ada suara decitan lagi. Apa karena memang bahannya lebih bagus atau memang karet wiper bawaan Brio sudah terlalu lama? Soalnya walaupun mobil baru kan tetap saja karet wipernya bisa diambil dari stok lama. Update: Ternyata wipernya jelek, meninggalkan bekas hitam (karetnya luntur). Beli lagi di tokopedia merk lain, sama saja. Ya sudah, nanti ganti di bengkel resmi saja. Update feb17: di bengkel resmi tidak  ada 😦


Update Jan 2017:  Pengalaman saya dengan mobil terdahulu, seringkali tekanan ban sangat kurang karena saya males ke tukang “tambah angin”,  dan walaupun di pompa bensin Shell ada alatnya, seringkali antri. Oleh karena itu saya beli saja online pengukur tekanan ban dan pompa portable, total sekitar 250rb. Alat ukurnya akurat, saya bandingkan dengan alat di bengkel spooring balancing dan hasil ukurannya sama. Sedangkan pompa portablenya jelek kualitasnya (walaupun masih bisa digunakan). Kabelnya panas jika digunakan untuk dua ban, ukuran tekanannya meleset bisa sampai 2psi. Kadang saklar on-offnya macet. Ya memang murah sih 🙂  Untuk Brio standard tekanan adalah 29 depan dan 26 belakang (psi). Tapi biasanya saya isi 31 depan dan belakang 28. Soalnya kurang tekanan lebih berbahaya daripada lebih. Berdasarkan pengamatan, setiap ban mengalami penurunan tekanan sekitar 1psi per bulan, jadi perlu ditambah tekanannya sekitar 2 bulan sekali. Yang saya rasakan stir lebih enak, karena tekanan kiri-kanan bisa dibuat sama persis dan mobil lebih enteng (kurang tekanan dapat berakibat mobil terasa berat)

pompa_ban

Update Des 2016: Dari diskusi di berbagai forum, ternyata ada beberapa perbedaan antara Satya Manual dan CVT/RS  yang “tersembunyi” yaitu (cmiiw, dan mungkin saja nanti berubah):

  1. Versi manual jumlah kipas radiatornya hanya satu dan radiatornya lebih kecil. Beberapa masalah pada Brio keluaran tahun 14/15 adalah overheat karena kipas tidak berfungsi, dan ini sepertinya hanya versi manual yang kena . Gambar berikut memperlihatkan perbandingannya (atas manual, bawah CVT)perbandingan_radiator_brio_manual_cvt
  2. Versi CVT punya air scoop dibawah kap mesin sedangkan manual tidak (gambar bawah)
    airscoop
  3. Versi CVT dan manual punya underbody panel sedangkan RS katanya tidak (gambar bawah)
    underbodypanel

Ganti Mobil: Picanto ke Brio

22 July 2016 at 22:03 | Posted in Uncategorized | 3 Comments

update 26 Juli: pengalaman menggunakan new brio sayta E cvt


Wah, terakhir posting seperti ini tahun 2007, alias 9 tahun yang lalu!

Berbeda dengan kasus terakhir saat saya pindah dari Katana ke Picanto, Picanto sebenarnya masih enak digunakan. Cuma lalulintas Bandung yang semakin macet, ditambah saya kena serangan asam urat di kaki kiri membuat mobil matic sepertinya menjadi keharusan.  AC mobil picanto juga kena service besar sehingga evaporator dan kondensor harus diganti. Artinya tidak lama lagi mungkin komponen besar yang lain akan mulai harus diganti. Mengingat mencari sparepart KIA lumayan susah, dan satu demi satu dealer KIA tutup,  maka terpaksa harus diganti nih secepatnya.

Fitur transmisi automatic menjadi prioritas utama. Seperti biasa, saya kemudian cari yang paling murah 🙂   Tentu Agya dan Ayla  jadi pertimbangan pertama. Tapi mesin yang hanya 1000cc dan banyak keluhan tentang getaran membuat saya mundur. Apalagi 1000cc matic juga akan lebih parah dibandingkan manual. Saya ingin mobil berikutnya punya tenaga dan akselerasi lebih besar daripada Picanto.

Oleh karena itu hanya ada satu alternatif, yaitu Brio E CVT.  Brio E CVT harganya 151jt; tenaga dan torsi: 90ps/6000rpm  dan 110Nm/4800. Dari sisi keamanan ada dual SRS Airbags dan  pretensioner+force limiter seatbelt. Sedangkan untuk rem ada ABS + EBD. Ini fitur yang paling penting bagi saya dan sebelumnya tidak ada atau kurang di Picanto lama yang saya miliki. Dari sisi bentuk, Brio bagus untuk bagian depan dan bagian samping. Sedangkan kalau belakang ya memang jelek sih.

Altenatif matic lain seperti Mirage, Sirion,  Picanto  harga matic-nya  berbeda cukup jauh diatas Brio tapi fiturnya malah lebih sedikit (setidaknya fitur yang saya anggap penting). Sedangkan Etios Valco tidak menyediakan versi matic.

Kalau dibandingkan, Mistsubisi Mirage matic versi termurah (178jt), sama-sama CVT, bedanya Mirage 3 silinder dengan tenaga & torsi: 77/6000 & 100/4000; tidak ada ABS+ABD. Sedangkan Sirion harganya 170jt; AT 4 kecepatan; 1300 cc; tanaga & torsi: 90/6000 & 116/4400 dengan pretensioner+force limiter seatbelt tapi tidak ada ABS+EBD.  Terakhir Picanto (171jt), AT 4 kecepatan; tenaga & torsi: 87/6000 &  119 Nm/4000 tanpa airbag, tanpa ABS. Untuk picanto kalau mau dapat ABS dan airbag, perlu ambil tipe Platinum seharga 185jt.  Jadi bagi saya jelas pilihannya berat untuk Brio, terutama karena harga dan faktor fitur ABS+EBD. Beberapa review juga menulis kelebihan adalah Brio lebih “fun to drive” dan lebih irit. Tentu tiap orang punya selera dan prioritas yang berbeda-beda, misalnya ada yang suka ruang yang lebih lapang, kenyamanan kursi, interior, bentuk dsb.

Update: Katanya discount bisa sangat besar untuk Mirage dan Sirion, jadi sebaiknya tanya dulu ke pihak sales.

Setelah saya testdrive (versi RS-CVT) semua sesuai ekspektasi. Selain rem yang lebih akurat dan akselerasi yang lebih mantap, pandangan juga lebih lega dibandingkan Picanto dan suspensi terasa lebih empuk (atau karena Picanto saya sudah tua umurnya?). Tapi memang kalau saya bandingkan dengan Sirion masih lebih empuk Brio untuk suspensinya.

Kelemahan mungkin dari stir yang terasa aneh karena biasa menggunakan hidrolik di Picanto, tapi memang sangat ringan.  Untuk yang lain bagi saya tidak terlalu penting dan sudah sesuailah dengan harganya.

Tentu saja versi RS tidak saya lirik, jauh lebih mahal dengan hanya perbedaan sedikit di interior dan eksterior saja.

Posting ini akan diupdate dengan review Brio  (semoga kalau jadi ).

Update: jadi beli, dan ini reviewnya: pengalaman menggunakan new brio sayta E cvt

Pelajaran dari PPDB Bandung tahun ini (2016)

1 July 2016 at 14:20 | Posted in Uncategorized | 1 Comment

Positif: Lebih baik daripada tahun lalu. Sosialisasi lebih bagus, aturan sudah disampaikan cukup lama. Kebijakan memisahkan kuota dalam wilayah vs luar wilayah bagus untuk mengurangi beban lalulintas kota bandung dan pemerataan kualitas intake. Jalur RMP (SKTM) sudah tidak ada gejolak lagi.

Negatif:

  • Jumlah kuota dalam/luar wilayah perlu dievaluasi, ada kuota luar wilayah yang super kecil (belasan kursi saja), ada kuota dalam wilayah yang kebanyakan sampai kosong. Bagaimana cara menghitung kuota ini? perlu lebih transparan.
  • Kosongnya kuota DW di sekolah favorit menurut dugaan saya karena kebijakan umur KK minimal 1 tahun. Artinya faktor kecurangan memanipulasi KK masih  menjadi tantangan di masa depan.
  • Data sebaran UN yang dapat digunakan untuk memprediksi PG, terlambat keluar, dan saat keluar sempat salah pula. Data kuota juga sempat salah.
  • Faktor data yang terlambat dan tidak akurat, ditambah aturan yang sering berganti, membuat prediksi PG menjadi sangat sulit, padahal hanya boleh pilih sekali. Efeknya banyak yang menunda pendaftaran sampai hari terakhir. Tahun depan PPDB SMA katanya akan dipegang propinsi sehingga aturan akan berubah lagi 😦
  • Sisa kuota yang tidak terpakai (jalur RMP, luar kota) seharusnya lebih cepat diputuskan untuk dialihkan kemana.
  • Support bisa dikatakan nol, Twitter/FB sangat jarang ditanggapi. Untung banyak ortu yg saling bantu dan gotong royong terutama via web https://bicarapassinggrade.wordpress.com
  • Situs PPDB sempat mengeluarkan data yang salah (tidak punya maintenance mode?) dan down dihari terakhir.
  • Penentuan jalur dalam wilayah, luar wilayah dan luar kota sepertinya manual, bukan otomatis oleh sistem. Ada beberapa kasus jalur tidak cocok dengan data. Bisa salah entry, bisa saja ada manipulasi karena jalur dalam wilayah lumayan menggiurkan.
  • Beberapa jam setelah peneutupan, kuota GW berubah karena mendapat limpahan dari DW, dan mengakibatkan perubahan besar. Itupun sepertinya masih belum berakhir karena sesuai perwal, PG luar kota tidak boleh lebih rendah dari PG GW. Hal-hal seperti ini membuat ketidakpastian semakin tinggi.

Saya pribadi bersyukur PPDB tahun ini adalah yang  terakhir bagi kami. Tinggal persiapan masuk kuliah 3 tahun lagi.

Petunjuk Singkat Praktek Lapangan / Kerja Praktek

18 January 2016 at 05:05 | Posted in Uncategorized | Leave a comment

Berdasarkan pengalaman saya di Ilkom menjadi pembimbing dan penguji mahasiswa Ilkom yang PLA, ada beberapa hal yang penting diperhatikan mahasiswa saat melaksanakan PLA.

Tujuan PLA adalah agar mahasiswa mendapat gambaran dan pengalaman singkat bagaimana situasi kerja setelah lulus nanti. Oleh karena itu, langkah pertama yang paling penting adalah menemukan tempat pelaksanaan PLA.

Tempat praktek seperti apa yang bagus? Sama dengan saat mencari kerja nanti setelah lulus, tiap mahasiswa punya selera berbeda-beda tergantung minat dan bakat. Tapi menurut saya, idealnya tempat praktek memberikan pengalaman industri sebanyak mungkin (yang berbeda dengan apa yang di dapat di kampus)  dan  menantang (tidak memberikan tugas yang mudah-mudah).  Bahkan saya pernah dengar ada yang praktek juga di luar negeri dan ini bagus sekali karena akan mendapatkan pengalaman budaya juga.

Tidak kalah pentingnya adalah pembimbing di perusahaan. Pembimbing penting karena mengatur pekerjaan yang harus dikerjakan mahasiswa dan menjadi penghubung antara mahasiswa dengan perusahaan. Ada pembimbingnya yang bagus dan memberikan arahan, bantuan pada mahasiswa, tapi ada juga yang kurang. Tapi biasanya pembimbing tidak akan sampai menghalangi atau menjegal, paling-paling hanya cuek saja. Jadi faktor pembimbing sebenarnya bukan faktor utama kegagalan PLA.

Jika perusahaan terlihat dari awal bermasalah maka mahasiswa dapat memilih untuk pindah perusahaan. Jangan paksakan praktek di tempat yang kondisinya memang dari awal sudah buruk. Pernah mahasiswa kami diminta untuk praktek di bagian service hardware yang tidak relevan. Ada juga yang diminta hanya menjadi tukang ketik. Laporkan perusahaan ini pada prodi sehingga dapat masuk ke blacklist.

Setelah mulai praktek di perusahaan, usahakan untuk ikut diberbagai aktivitas yang tidak ditemui di kampus seperti rapat, bertemu dengan client, bersosialisasi dengan pekerja yang lain dsb. Mahasiswa perlu proaktif dalam hal ini, jangan hanya menunggu instruksi dari pembimbing (cuma jangan terlalu memaksa juga).

Pada saat awal, biasanya pembimbing skeptis dengan kemampuan mahasiswa, seringkali mereka memberi tugas yang paling gampang. Mahasiswa kembali harus proaktif dengan mengusulkan task yang lebih menantang, lagipula kalaupun gagal perusahaan tidak akan rugi kan? Tunjukkan kemampuan dan ide yang dimiliki, bahkan contoh-contoh software yang pernah dikembangkan sebelumnya (alasan pentingnya membuat tugas besar yang bagus).  Mahasiswa juga punya peran sebagai duta prodi/universitas, semakin tinggi kemampuan yang ditunjukkan maka semakin besar dampak positif bagi lulusan prodi (lebih mudah diterima kerja di perusahaan ini).  Masalah utama yang paling sering saya temui adalah mahasiwa pasrah (atau bahkan senang) dengan tugas gampang yang diberikan oleh pembimbing. Semakin gampang bukan semakin untung mahasiswa, tapi semakin rugi!

Perusahaan memang seringkali tidak dapat memberikan task yang lebih besar karena khawatir  aset yang dimiliki perusahaan bocor keluar (source code, data) atau khawatir jika modul akan setengah jadi (mahasiswa keburu selesai praktek), dan sulit dilanjutkan oleh pegawai lainnya. Mahasiswa harus pintar mencari celah kesempatan untuk mengerjakan hal yang menarik tapi tidak akan membuat perusahaan khawatir. Peranan pembimbing di prodi penting untuk hal ini. Bahkan kalau perlu, pembimbing dari perusahaan dan pembimbing dari prodi dapat bertemu bersama untuk mendiskusikan solusi yang paling tepat.

Hal lain yang sering dilupakan mahasiswa adalah laporan. Buatlah log berisi catatan kegiatan per hari, sehingga mempermudah mahasiswa saat membuat laporan akhir. Kegiatan seperti rapat, bertemu dengan client juga merupakan aktivitas yang dapat dilaporkan. Buatlah laporan sedetil mungkin sehingga saat penguji membaca, dia akan dapat membayangkan apa yang dikerjakan oleh mahasiswa.

Untuk praktek yang dikerjakan bersama-sama, penting untuk membagi tugas secara jelas. Siapa mengerjakan apa harus tertulis dengan eksplisit. Penguji dapat bertanya sampai ke source code sehingga jangan mengklaim code buatan mahasiswa lain.

Next Page »

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.