Menghargai hidup

Tadi pagi, saya membaca slashdot dan ada berita yang sangat menyentuh.

Artikel tersebut bercerita tentang dosen comp. science CMU yang terkena kanker pangkreas dan diramalkan hanya akan bertahan 3 – 6 bulan lagi. Perjuangannya dapat dilihat di: http://www.cs.cmu.edu/~pausch/news/index.html

Hal yang patut ditiru adalah keoptimisannya dan kegigihannya untuk berjuang sampai titik darah penghabisan. Membacanya membuat saya merasa beruntung masih diberi nikmat hidup (walaupun tidak tahu juga sampai kapan 🙂 ).

Yang menarik, di situs beliau terdapat juga link mengenai manajemen waktu. Dari artikel ini terlihat beliau ini orang yang sangat terorganisir dan fokus (jauhlah dari saya hehe) . Tapi yang membuat saya tertarik adalah perbedaan kontras antara tulisan mengenai menajemen waktu ini dengan kisah perjuangannya.

Apa perbedaan kedua tulisan ini? Jawabannya: keluarga (istri dan ketiga anaknya).

Di tulisannya tentang manajemen waktu, hampir tidak pernah disebut tentang keluarga. Fokusnya adalah karir, karir dan karir (tenure, degree). Tapi di tulisan tentang perjalanannya dengan kanker, urusan karir terlihat menjadi tidak penting lagi. Keluargalah (terutama anaknya) yang menjadi hal utama di sisa hidupnya.

Dari sini ada hikmah yang saya ambil. Saya bersyukur bahwa bagi saya keluarga telah menjadi prioritas sejak awal. Saya bersyukur tidak harus menunggu sakit yang fatal sebelum menyadari hal tersebut.

Mengapa saya memilih jadi dosen? supaya saya dapat mempunyai jadwal fleksibel dan dapat kerja dirumah sehingga lebih banyak waktu dengan keluarga. Mengapa saya memilih kuliah S2 di Bandung? sama jawabannya (walaupun dari semua sisi selain keluarga, jauh lebih menguntungkan kuliah di LN).

Teringat ucapan paman Zuko di kartun Avatar: Ada dua hal yang harus kamu bisa jawab dalam hidup: “Who are you?” dan “What do you want?”.

-update 26 Juli 08-
Randy Pausch akhirnya meninggal, posting terakhir di websitenya adalah tanggal 26 Juni 08.

Pelatihan E-Learning untuk Dosen Biologi

Tadi pagi dilangsungkan pelatihan E-learning (Moodle) untuk dosen Biologi. Sebelumnya untuk Fisika sudah dilakukan beberapa bulan yang lalu oleh Pak Waslan. Walaupun terasa capek karena bermodel workshop, tetapi senang sekali rasanya.

Sebenarnya waktu saya pertama kali menginstall e-learning di matematika.upi.edu tahun 2004, itu dilakukan untuk memanfaatkan hosting di upi.edu yang disediakan untuk jurusan (saya ingat waktu itu baru jadi dosen dan ikut dalam pelatihan pembuatan website jurusan). Daripada space-nya menganggur lebih baik dimanfaatkan (untuk coba-coba hehe), lagipula menurut saya seharusnya UPI harus paling maju untuk urusan ini.

IMO, sisi teknis e-learning sebenarnya tidak terlalu berperan, yang lebih penting justru dari sisi ilmu pendidikannya. Bagaimana bentuk materi di e-learning supaya lebih efektif? Bagaimana cara mengukur efektivitasnya? Apa instrumennya? Orang pendidikanlah yang paling kompeten melakukan itu. Kemudian bersama orang Ilkom, orang pendidikan dapat membuat teknik baru yang dapat diintegrasikan dengan Moodle. Contohnya adaptif test dimana butir soal dapat berubah tergantung dengan jawaban siswa sebelumnya (mungkin yang ini sih sudah dibuat 😉 Jadi potensi risetnya masih banyak sekali. Belum lagi log aktivitas mahasiswa yang sangat detil dan besar (1000-an transaksi per hari) dapat dimanfaatkan untuk datamining.

Kembali ke e-learning FPMIPA. E-learning ini dimulai oleh satu dosen (saya sendiri hehe) dan satu matakuliah di 2004. Tahun 2005, sayangnya hanya dapat bertambah menjadi dua dosen 🙂 . Tahun 2006 mulai diadopsi oleh Fakultas (fpmipa.upi.edu/kuliah), tapi masih tetap lambat, hanya bertambah menjadi 5 dosen dengan kira-kira 10 matakuliah. Tahun 2007 terjadi peningkatan yang signifikan. Sekarang sudah ada sekitar 67 matakuliah online dengan sekitar 30-an dosen. Tentu saja dengan tingkat yang berbeda-beda, ada yang hanya mengupload materi, ada juga yang sampai menggunakan forum diskusi, quiz, upload tugas dsb. Mudah-mudahan tahun ini menjadi tipping point 😉

Itulah yang membuat saya senang dengan pelatihan atau workshop e-learning. Bagi saya setiap tambahan satu dosen yang menggunakan e-learning merupakan satu langkah maju dan harus diperjuangkan. Kalau untuk mahasiswa sih tidak perlu terlalu bersusah-payah, beri saja tugas yang harus dikerjakan melalui e-learning, pasti bergabung hehe.

Saya pikir ini proyek bisa menjadi studi kasus. Mungkin bisa diaplikasikan pada sistem yang lain. Karakteristiknya:

  • Mulai dari bottom-up ( level jurusan -> fakultas -> UPI? 😉 .
  • Jangka panjang. Bukan lari sprint tapi lebih ke arah lari marathon.
  • Incremental, pelan-pelan tapi jalan terus. Bukan model big-bang yang dimulai dengan ledakan lalu menghilang.
  • Murah meriah. Memanfaatkan fasilitas yang ada (server upi.edu, FOSS, lab di FPMIPA, sdm internal dll). Biaya untuk start sangat rendah, setelah ada hasil dana umumnya akan datang sendiri.

Bagi civitas UPI, khususnya FPMIPA ayo dorong penggunaan e-learning 😉 Kalau perlu dengan demo hehe (becanda).

Nostalgia: Kode masa lalu

Saat membereskan file di hardisk lama, saya menemukan kode program masa lalu saya. Tips untuk mahasiswa yang membuat program: jangan sekali-kali membuang dan menyia-nyiakan kode lama Anda. Belasan tahun kedepan, bisa jadi kenangan yang bagus.

Direktori itu berisi kode dari jaman saya SMP (tahun 90) yang masih menggunakan BASICA (interepreter BASIC milik Microsoft saat mereka masih perusahaan kecil. Ada yang bilang sebagian codenya dibuat sendiri oleh Bill G). Lalu dilanjutkan kode yang memperlihatkan peralihan saya ke Turbo Pascal saat di kelas 1 SMA. Saya memang suka membuat program, dari SMP untuk hobi sampai sekarang untuk dapur 🙂

Kode berbahasa basic sempat tidak mau dibuka BASICA, baru setelah saya cari-cari dan download GWBasic akhirnya berhasil dibuka dan di-run. Tidak seperti saya bayangkan, ternyata kode-nya cukup terbaca. Ini mungkin berkat buku Jogiyanto (sekarang sudah profesor). Beliau adalah contoh salah satu pengarang yang bagus. Disaat orang lain membuat buku tipis, beliau membuat buku sampai 700-an halaman. Bahkan buku turbo pascalnya dibuat sampai dua jilid, yang masih jarang dilakukan orang sampai sekarang untuk jenis buku komputer .

Program pertama saya yang lumayan besar di tahun 90-an adalah sebuah game. Sebuah bola diletakan di kotak lalu bola itu berpindah-pindah dengan cepat. Terakhir, user harus menebak dimana bola itu berasal. Hanya terdiri dari 67 baris, berikut adalah contoh snapshot code-nya (termasuk GW-Basic)

kode basic pertama

Dari kode-kode saya yang lain, ada salah satu program dengan komentar yang lucu:

' 14 sep 91, kut siram adamnayit

kut = tuk, siram adamnayit = nama salah satu teman perempuan saya di SMPN 8 dulu (sekarang SMPN 1 Margahayu Bandung ) coba tebak siapa hehe. Mungkin sekarang anaknya sudah banyak ya 🙂 Ada lagi:

'9 oktober 1991, kut eckew gnay ukulap anamayn

Beralih ke SMA, kebanyakan kodenya tidak bertanggal. Cara membuat program terlihat lebih maju sedikit hehe. Komentarnya juga berubah:

{22-3-92 tuk R D}

lalu…

{tuk --sensor-- 14-12-92 (setelah sumatif)
sampai 21-12-92 2 hari sebelum bagi rapot rengking saya berapa ya}

kemudian…

{1 jan 94  ut n.a.}

siapakah n.a? 🙂 kemudian:

{14 februari 94 ut -sensor- met pake jilbab}

Beberapa harus disensor, karena pasti dikenali oleh teman SMA saya hehe. Oh ya, ranking saya waktu SMA kelas 1 yang saya ingat 25 dan yang paling parah saat kelas tiga, yaitu 47 dari 51!

Lho kok jadi ngelantur membicarakan komentar program ya hehe.

Nostalgia: Makan di Kantin Salman

Hari minggu kemarin saya jalan pagi ke Salman, jalan kaki dari Sarijadi. Ternyata cepat juga, hanya membutuhkan waktu kurang lebih 1.5 jam via bawah jembatan layang. Lucunya di daerah Cihampelas, jalan di bawah jembatan layang ternyata terputus oleh sungai dan tidak ada jembatan. Akhirnya putar balik, lewat Cihampelas dan dilanjutkan ke jalan Pelesiran muncul di Tamansari. Walaupun cuma 1.5 jam, sampai hari ini (besoknya) kaki masih terasa pegel hehe. Mengapa tidak jalan kaki lewat jembatan layang saja? Jawabannnya: Maaf saja, saya tidak mau ketabrak mobil atau motor yang kecepatannya 60-120 km/jam 😉

Karena belum makan pagi, sampai di Salman langsung mencari-cari makanan. Sayangnya kupat tahu dan bubur yang biasa mankal di jalan Ganesha entah kenapa belum jualan.
Iseng-iseng mampir ke kantin Salman, ternyata kantin ini sudah buka dari jam 6 pagi.

Sambil masuk kantin ingatan saya melayang ke 13 tahun lalu, saat saya masih kuliah di tahun pertama di ITB. Saat itu makan siang wajib dilakukan di Salman, walaupun harus jalan lumayan jauh. Jika datang saat jam makan siang, sebelum makan biasanya harus mengantri lumayan lama, kalau lagi parah-parahnya bisa mengantri sampai 10-15 meter. Ini juga disebabkan karena kantin salman tutup sebentar saat jam sholat. Tapi karena dilakukan bersama teman-teman semuanya sepertinya tidak terasa. Lagipula harganya termasuk sangat murah, waktu itu dengan Rp. 600 bisa makan nasi+sayur 🙂

Setelah tahun kedua, kami mulai malas ke kantin Salman. Terasa jauh sekali, tempat makan akhirnya berpindah ke kantin GKU lama. Setelah saya mulai kerja sambilan dan punya uang sendiri, barulah saya bisa makan di kantin Labtek V (dicap Kantin Borju oleh mahasiswa karena mahal) .

Fastforward ke masa sekarang. Tempat kantin Salman sudah pindah ke bagian yang menghadap taman ganesha. Saat masuk suasananya tidak terlalu berbeda dengan dulu, bentuk kursi, meja warna cat-nya masih sama. Cuma tidak ada lagi tulisan super gede “dilarang merokok”, digantikan oleh tulisan yang lebih kecil di dinding. Perbedaan yang lain antrian perempuan dan laki-laki sekarang terpisah. Anehnya walaupun terpisah, tetapi di ujung antrian menyatu lagi, lagipula kasirnya cuma satu (perempuan) dan tempat makannya juga tidak dipisah. Jadi aneh, seperti setengah-setengah.

kantin salman kantin salman tampak luar

Saya mengambil makanan kesukaan saya dulu, telur+sop+mie goreng+ sambel, ditambah susu strawberry. Berbeda dengan masa lalu, sekarang es batu disediakan dalam baskom dan kita dapat mengambilnya sendiri. Setelah dihitung oleh kasir (masih seperti dulu, kasirnya cuek abis hehe) maka semuanya Rp. 5000-an, masih tergolong murah 🙂

Sayangnya entah kenapa rasa makanannya kok berubah. Menurut saya lebih gurih dan manis dulu dibanding sekarang. Entah mungkin lidah saya yang berubah atau kokinya yang berubah hehe.

Contoh multimedia interaktif: Dalil Pythagoras

Maret 2015: update link

Setelah ngoprek Actionscript beberapa hari akhirnya ada juga hasilnya 🙂 Capek tapi asyik juga belajar hal yang baru.

Sesuai dengan posting sebelumnya, saya bersama Pak Nanang dan Pak Bambang terlibat dalam penelitian pengembangan bahan ajar interaktif matematika untuk tingkat SMP.

Menurut saya, materi di dalam e-learning harusnya lebih banyak seperti ini. Maksud saya bukan hanya sekedar menggunakan Flash, tapi harus Flash yang interaktif (Flash disini hanyalah tools, bisa juga diganti dengan Java Applet). Masalahnya ada juga yang menggunakan Flash tetapi sebenarnya sama dengan presentasi power point. Flash juga sering digunakan sebagai pengganti video player. Flash untuk slide presentasi dan video bukan merupakan media interaktif karena siswa hanya menonton dengan pasif saja.

Sayangnya, membuat simulasi seperti ini membutuhkan resource besar dan waktu yang lama. Saat ini kami di Pendidikan Matematika UPI memulainya dengan melibatkan tiga pihak dengan spesialis masing-masing: matematika, pendidikan matematika dan ilmu komputer. Inilah kelebihan UPI, kita sudah mempunyai ketiga-tiganya tanpa perlu mengambil ahli dari luar universitas 🙂

Berikut contohnya: pembuktian dalil pythagoras untuk SMP (masih beta, belum diverifikasi secara detil oleh Pak Bambang dan Pak Nanang 🙂 ). Anda harus memiliki minimal plugin Flash Player versi 8 pada browser.

-update:04 sep 08 –> koreksi dari Pak Bambang, luas itu harus ditulis luas daerah. Atau setidak-tidaknya disebutkan di awal bahwa luas yang dimaksud disini adalah luas daerah. Ternyata “luas” tidak sama dengan “luas daerah”, kalau kita sebut luas saja, itu berarti hanya luas garis saja, tidak termasuk bidang di dalamnya (hmm, jadi garis punya luas ya?). Yah itulah pentingnya punya pakar di bidang matematik 🙂 Makasih pak atas koreksinya.

bagian 1

bagian 2

Tentu saja ini baru sebagian dari materi ajar yang sedang dikembangkan. Dalam versi lengkap, selain simulasi seperti ini ada juga pre test, materi tekstual dan post test. Flow materi juga diatur sehingga siswa tidak bisa meloncat begitu saja.