Belajar Investasi Saham

Update Feb 2019:
Tiga bulan saya sudah mulai masuk pasar saham. Saya menggunakan dollar cost averaging, jadi tiap awal bulan ada jumlah fix yang bisa digunakan untuk membeli saham. Tapi saya belanjakannya tidak dipaksakan satu hari tertentu, bisa 1-2 minggu menunggu saat yang tepat. Sangat bagus mulai dari jumlah kecil untuk belajar,  karena ternyata lumayan tegang saat harga saham naik turun. Padahal idealnya kinerja itu diukur 1-2 tahun setelah saham dibeli, tidak perlu cek harga tiap hari.  Lalu saat salah analisis (karena belum tahu) dan keburu beli, ada keinginan kuat untuk menjual. Jumlah investasi kecil membantu untuk lebih menenangkan hati. Nanti saat sudah terbiasa, jumlahnya bisa dinaikkan.

Saya bergabung dengan beberapa group telegram untuk mengetahui dinamika para pemain pasar saham.  Rekomendasi saham dari group justru saya jauhi. Logikanya kalau saya jadi admin group itu, urutan aksi saya adalah: saya beli saat murah,   umumkan di group berbayar baru terakhir umumkan di group gratis. Ini akan berakibat saham naik.  Lalu admin akan jual untuk ambil keuntungan.   Jadi sudah terlambat kalau kita ikuti rekomendasi group. Lagipula umumnya  fundamental saham yang direkomendasi memang tidak terlalu bagus. Sama dengan rekomendasi para “analis” di media , banyak rekomendasi ajaib, sudah jelek fundamentalnya, mahal pula.

Saham yang saya hindari (masalah personal saja, tiap orang punya selera dan prinsip berbeda):

  1. BUMN. Walaupun sering mendapat perlakuan khusus dari pemerintah sehingga bisa menguasai pasar, tapi akibatnya sering tidak efisien, beresiko korupsi, dan tidak berhati-hati (misal urusan hutang). Masalah lain: pemerintah juga dapat ikut campur urusan internal perusahaan dan eksekutif sulit ambil resiko bisnis karena takut dipidana.
  2. Finansial, selain riba, saya juga tidak paham proses bisnisnya. Jadi walaupun bank syariah tetap saya hindari.
  3. Rumah sakit, rokok dan minuman keras.

END update

—-

Update Jan 2019:
Perlu berhati-hati, terlepas sentimen negatif dan prediksi kuat terjadinya resesi 2019-2020, pasar saham Indonesia sepertinya tidak terpengaruh. Investor (retail) kita sepertinya masih bersemangat sekali. Ini justru yang buat saya khawatir.  Sekarang sulit cari saham yang  bagus (bagi saya) tapi dengan harga yang murah. Lebih baik jangan dipaksakan beli.
–end update–

———

Posting yang agak berbeda dengan biasa 🙂  tapi sebenarnya nanti berhubungan juga dengan NLP dan  machine learning.  Posting ini akan diupdate sejalan dengan perjalanan saya belajar tentang investasi di pasar saham, jadi mungkin posting ini nantinya akan sangat panjang.  Posting ini adalah sudut pandang saya yang awam.

Saya sudah lama tertarik untuk berinvestasi di pasar saham, tapi baru bisa mulai sekarang. Masalahnya, investasi saham walaupun dapat menghasilkan return tinggi, tetapi resikonya juga tinggi. Dalam kasus terburuk uang bisa berkurang atau bahkan hilang.  Itu sebabnya uang untuk investasi saham menunggu  antrian yang urutannya sebagai berikut: tabungan, dana pendidikan anak, deposito syariah, dana pensiun (diluar taspen PNS), investasi yang relatif aman baru terakhir saham. Ini yang saya lihat sering dilupakan orang, saya pernah baca pertanyaan  “Saya punya banyak hutang, saya tertarik bermain saham, bagaimana caranya?”, gawat kalau seperti itu.

Tadinya saya berminat untuk memulai dari reksadana dulu, tetapi melihat fee yang lumayan lalu banyak analis  yang rekomendasinya aneh, sepertinya lebih baik saya pilih sendiri saham yang mau saya koleksi. Rugi atau untung semua tanggung jawab saya 🙂

Banyak yang bingung mulai dari mana? untuk langkah pertama menurut saya adalah membaca sebanyak mungkin informasi. Hati-hati banyak informasi di internet, khususnya video Youtube yang hanya menyampaikan bahwa   investasi saham itu bisa untung besar tapi tidak  membahas kemungkinan rugi (yang bisa besar juga) dan tidak membahas bahwa tingkat kesulitannya cukup tinggi.  Banyak yang terlalu menyederhanakan seperti “Beli saham bluechip saja!”.

Mendapatkan keuntungan dari saham itu  bisa dengan dua cara: harga sahamnya naik (contoh beli 100/share lalu sebulan kemudian menjadi 300/share) dan melalui dividen (bagi hasil keuntungan perusahaan). Masalah utamanya adalah memilih saham yang mana dan kapan.

Saya lihat ada dua pendekatan: pendekatan pertama adalah berdagang saham jangka pendek.   Saat melihat potensi harga  naik, maka saham akan dibeli dan pada saat titik yang dianggap menguntungkan maka saham tersebut dijual, untung dapat diperoleh dari selisihnya. Ini bisa berlangsung dalam hitungan jam atau hari. Pendekatan ini mirip berselancar (mengikuti harga yang naik). Masalahnya sama dengan berselancar, salah pemilihan waktu sedikit saja, maka akan kehilangan ombak. Informasi yang digunakan umumnya hanya sejarah harga saham dan volume penjualan. Teknik yang perlu dipelajari untuk pendekatan ini disebut analisis teknikal.

Pendekatan kedua adalah jangka panjang (6 bulan sampai tahunan).  Pada pendekatan ini perlu dicari perusahaan yang bagus tapi sahamnya relatif dihargai murah. Saham milik perusahaan yang fundamentalnya bagus, walaupun saat ini dihargai murah,  nantinya akan naik juga dan kenaikannya bisa besar (berkali-kali lipat) sejalan dengan semakin besarnya perusahaan. Keuntungan juga bisa didapat dari dividen.  Masalahnya bagaimana menentukan perusahaan ini bagus? jangan-jangan murah karena memang mau bangkrut.  Informasi yang digunakan mulai dari laporan keuangan (tahunan, triwulan), analisis kemampuan manajemen, analisis sektor yang terkait dan sebagainya.  Pendekatan ini disebut value investing dan teknik yang perlu dipelajari adalah analisis fundamental.

Di Indonesia, yang saya lihat mayoritas yang digunakan adalah pendekatan pertama (trading).  Menurut saya karena alasan berikut:  1) lebih sederhana karena variabel yang digunakan lebih sedikit dan kuantitatif.  2) Perusahaan sekuritas mendapat fee jika ada transaksi, jadi mereka mendorong pelanggan melakukan transaksi sebanyak-banyaknya 3) lebih seru, seperti menonton film aksi atau balapan, ada keasyikan sendiri menyaksikan harga naik (atau turun) menit demi menit sebelum memutuskan beli atau jual. Walaupun saat ini sudah ada  mekanisme otomatis beli dan jual berdasarkan kriteria tertentu, tetapi tetap saja seru.

Saya pribadi lebih suka pendekatan kedua (value investing), karena tujuannya memang untuk jangka panjang (20 tahunan). Saya suka membaca, mencari dan menganalisis data dan  informasi. Wajar karena berkecimpung di bidang machine learning dan datamining 🙂 Membaca laporan tahunan adalah kegiatan menarik bagi saya. Saya juga tidak terlalu suka lagi nonton pertandingan dan bermain game (mungkin faktor umur?) jadi memonitor pergerakan harga saham jam demi jam (apalagi menit demi menit) bukan lagi hal yang terlalu menyenangkan. Lebih baik waktunya digunakan untuk hal yang lain. Sebagai bonus, biaya transaksi untuk sekuritas juga akan lebih murah.

Menurut saya memilih pendekatan trading atau value investing (atau gabungan) tergantung dengan minat, bakat dan tujuan tiap individunya. Yang penting bekali diri dengan ilmu sebelum masuk.  Tanpa ilmu,  sama saja dengan judi.  Banyak yang malas belajar dan ingin jalan pintas: “Udah, pokoknya apa saham yang harus saya beli besok?”, “Saham X bagus nggak gan?”.  Kadang bergidik,   mau beli barang 500 ribu saja kita  harus pikir-pikir dan banding-bandingkan dulu,  ini  jutaan rupiah dipertaruhkan  seperti dengan lempar dadu saja.

Karena saya memilih value investing, tentu saya lebih mendalami materi-materi yang terkait analisis fundamental. Video tutorial yang bagus adalah: https://www.youtube.com/watch?v=KfDB9e_cO4k&list=PLECECA66C0CE68B1E

Untuk buku:

  1. “Stock Market Investing for Beginner”, Tycho Press.
  2.  Peter Lynch (ada tiga buku, dengan urutan baca “One Up On Wall Street”, “Learn to Earn”,  “Beating the Street”).  Kalau tidak sempat cukup baca yang “One Up On Wall Street” saja, dua yang lain hanya pelengkap. Peter Lynch ini menarik karena dia termasuk fund manager yang fokus pada pemilihan saham dan sukses (rata-rata return 29.2% per tahun selama 13 tahun). Tapi perlu hati-hati untuk mengikuti petunjuk dia. Gaya investasinya  lebih agresif dan dia kerja gila-gilaan (mulai dari jam 6 pagi sampai malam termasuk sabtu). Aktivitasnya termasuk mendatangi secara langsung atau menelepon calon emiten yang dia incar, jadi salah satu kunci keberhasilannya adalah punya informasi yang mendalam. Mungkin aktivitas seperti ini yang bisa diganti dengan datamining? Saya paling hanya googling saja untuk informasi, tapi untuk sampai menelepon apalagi mendatangi perusahaan ya berat.
  3. “The Intelligent Investor”, Graham. Ini yang paling berat, sebaiknya dibaca terakhir.
  4. Update Jan 2019. Karena tertarik dengan video Youtubenya, saya beli buku Phil Town (Rule #1). Buku ini lebih pragmatis dengan aturan yang lebih jelas. Tapi perlu hati-hati karena  Phill Town sendiri tidak memperlihatkan kinerja portofolionya. Saya lebih cocok dengan Lynch yang lebih fleksibel, tapi ada beberapa hal yang bermanfaat juga. Intinya aturan dari buku ini: hanya beli saham dengan kondisi: 1) ROIC >10% (kenapa bukan ROE ya?)  2) Equity growth >10%  3) EPS growth >10%   4) Sales growth >10%   5) Free cashflow >10%.  Setelah itu hitung nilai intrinsik saham dengan cara hitung nilai 10 tahun ke depan berdasarkan PER, EPS growth, mundurkan ke harga saat ini berdasarkan target pertumbuhan 15% (Indonesia mungkin  harus lebih tinggi),  ini yang jadi harga intrinsik.  Lalu hanya beli yang harganya 50% dari harga intrinsik (margin of safety).

Perlu juga baca yang terkait pasar Indonesia, sayang judulnya agak  berlebihan:

  1. “Value Investing beat the market in 5 minutes”, Teguh Hidayat.  Lebih untuk pengantar, menggunakan bahasa non formal, cocok untuk orang muda.
  2. “Investasi Saham ala Fundamentalis Dunia”, Ryan Filbert, William Prasetya. Sisi dasar-dasar akuntasi, untuk membaca laporan keuangan.

Lumayan capek ya 🙂  Tapi saat investasi kita bisa hilang jadi nol rupiah menurut saya wajar perlu persiapan ekstra, itupun tetap tidak menjamin, tapi setidaknya jauh mengurangi resiko.

Selanjutnya bisa dimulai melihat-lihat laporan keuangan perusahaan incaran. Semua laporan emiten bisa dilihat di: https://www.idx.co.id/perusahaan-tercatat/laporan-keuangan-dan-tahunan/   Bisa juga mencari saham yang sesuai kritera yang diinginkan melalui stock screener: https://www.indopremier.com/ipotgo/marketanalysis.php?page=stockscreener

Untuk informasi tentang saham, berikut dua situs bagus dan ada app Android-nya juga:

  1. www.indopremier.com/ipotgo   Tapi hati-hati, tidak memperhitungkan stock split (contoh EPS ULTJ yang terlihat jadi drop drastis dari 16-17).
  2. rti.co.id (klik free trial)

Setelah punya gambaran saham yang mau dibeli, pilihan ini dapat diujicoba (disimulasikan) secara virtual pada situs stockbit.com sekalian belajar mekanisme beli-jual. Selanjutnya kita sudah siap untuk terjun membeli saham sesungguhnya.

Memilih dan Mendaftar pada Perusahaan Sekuritas

Transaksi saham harus dilakukan melalui perusahaan sekuritas sebagai perantara.  Mereka mendapat fee setiap transaksi  (untuk BNI sekuritas, fee-nya adalah 0.15% untuk beli dan 0.25% untuk jual). Ada banyak perusahaan sekuritas, tapi karena saya sudah punya rekening BNI dan ingin perusahaan sekuritas yang masih ada sampai 20 tahun lagi maka saya memilih BNI Sekuritas. Saya tanya-tanya via Twitter cepat dijawab (marketing), tapi untuk yang teknis, harus tanya via WA, dan responnya lambat (bisa 1jam) plus kurang ramah. Tapi yang penting dijawab sih bagi saya.

Saya buka rekening syariah, proses pendaftarannya: kita ke situs BNI sekuritas, isi berbagai formulir,  download formulir, print, beri paraf, beri materai, tandatangan lalu kirimkan via pos. Tunggu sampai 5 hari kerja. Total waktu yang diperlukan kira-kira 2 minggu. Nanti otomatis akan dibuatkan dua  RDI (Rekening Dana Investasi),  satu untuk syariah, satunya untuk yang biasa. Rekening ini yang digunakan untuk menampung dana untuk membeli, menjual atau dividen saham. Tidak ada info rekening syariah yang mana, tapi saran saya isi saja dua rekening itu masing-masing dengan 1 jt (nilai minimum). Walaupun punya dana banyak, sebaiknya mulai dari kecil dulu.

Ternyata yang disebut rekening syariah itu hanya sekedar membatasi saham apa yang bisa dibeli (misal saham bank, saham minuman keras tidak boleh dibeli). Jadi rekening yang non syariah saya gunakan juga,  yang penting jangan beli saham non syariah.  Bisa saja satu rekening untuk investasi jangka pendek satunya untuk jangka panjang. Setelah digunakan tidak perlu ada uang mengendap pada  rekening itu (semuanya bisa dibelikan saham). Saat membeli, nanti akan ada isian rekening mana yang akan digunakan, yang syariah ujungnya ada “S”.  Nanti akan dapat email dari sekuritas dan kita bisa tahu rekening syariah yang mana.

Kita juga akan diberikan user dan password untuk masuk ke aplikasi trading milik BNI (esmart) dan pin untuk bertransaksi. Saya tidak terlalu peduli dengan fitur-fitur trading, biasanya saya hanya buka sebentar dan langsung beli dengan harga yang ada.  Setelah transaksi, tidak otomatis uang di rekening didebet, ini dilakukan dua hari kemudian. Santai saja, BNI sekuritas akan mengirimkan email tentang transaksi, dividen dsb.

Selanjutnya tinggal memonitor fundamental emiten yang sahamnya kita miliki atau calon yang menarik untuk dikoleksi. Selama fundamentalnya bagus, saham jangan dijual. Perlu pembahasan terpisah untuk itu, dan saya masih belajar 🙂

Mengenai penerapan machine learning khususnya NLP pada pasar saham: saya belum mendalami, tapi umumnya ditujukan untuk fast trading (misalnya saat ada berita negatif tentang sektor X, maka semua saham terkait X dijual dalam waktu sekian milidetik). Istilah yang digunakan adalah algorithmic trading dan orang yang membuat algo-nya disebut  quant.  Salah satu tutorial  tentang algo trading ini dapat dilihat di https://www.youtube.com/watch?v=GlV_QO5B2eU  Sayangnya untuk pasar saham Indonesia sepertinya belum ada platform untuk backtest.

Pemanfaatan NLP untuk analisis fundamental sudah ada, tapi sepertinya tidak terlalu banyak.  Saya pernah baca paper yang memproses  laporan tahunan untuk memprediksi kinerja emiten. Menarik, karena memang setelah saya baca laporan tahunan,  dapat dilihat dirut yang isi tulisannya hanya normatif biasa-biasa saja, tapi ada juga yang kelihatan menguasai bidangnya dan bersemangat.  Bagusnya semua laporan tahunan ada versi bahasa Inggris-nya, jadi kita bisa menggunakan resources bahasa Inggris.  Mungkin ini yang paling dekat yang akan saya coba.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s