Mengapa memilih sekolah favorit?

Setiap awal penerimaan siswa baru, isu ini selalu muncul. Ada usaha untuk menghilangkan label sekolah favorit, ada juga yang ingin mempertahankan. Saya bukan ahli bidang ini, jadi saya hanya membahas pengalaman saya dan anak.

Saya sendiri masuk SD yang dekat tapi separuh lulusannya tidak melanjutkan ke SMP (putus sekolah). Lalu masuk SMP yang terbaik di Kabupaten Bandung,  SMA terbaik di Kota Bandung dan akhirnya masuk prodi dengan passing grade tertinggi se-Indonesia. Jadi saya mengalami sendiri mulai dari sekolah paling tidak favorit ke yang paling favorit 🙂

Menurut saya hal utama yang membedakan sekolah favorit adalah siswanya. Biasanya siswanya punya karakter rajin dan/atau pintar dan punya motivasi berprestasi tinggi. Wajar karena perlu kompetisi yang sangat ketat untuk masuk.  Alumninya lebih sukses karena memang faktor ini penting saat dewasa nanti. Alumni yang sukses membuat sekolah semakin diminati dan terjadilah siklus positif.  Perguruan tinggi favorit juga punya kelebihan dari sisi jejaring alumni.

Keuntungan memilih sekolah favorit?  suasana yang lebih kompetitif. Istilah di atas langit ada langit akan terasa. Kita jadi lebih terpacu untuk menjadi lebih baik lagi. Guru cenderung memberikan beban yang lebih tinggi. Sekolah favorit juga biasanya memiliki siswa bermasalah lebih sedikit karena sudah terfilter saat proses penerimaan (sulit bagi siswa bermasalah untuk bisa tembus, kecuali dengan cara “belakang”).

Saat ini ada penerimaan mahasiswa baru dengan jalur undangan berdasarkan nilai rapot. Masalahnya apakah nilai rapot dari suatu SMA sama dengan SMA lain? Untuk mengatasi ini PTN membuat profil untuk tiap SMA. Misalnya di UPI, saya pernah dengar IPK alumni SMA menjadi salah satu faktor. Jadi SMA favorit punya keunggulan untuk jalur ini.

Kelemahan memilih sekolah favorit?  suasana yang kompetitif kadang menekan, apalagi di masa remaja yang kepribadiannya belum matang.  Saat kondisi menekan, anak bisa  terpacu, bisa juga jadi  patah semangat kalau tidak kuat. Siswanya juga lebih individualistis, sehingga soft skill seperti kemampuan kerjasama, empati jadi kurang berkembang. Siswanya juga memiliki karakteristik yang homogen.

Masalah yang lain adalah sekolah favorit malah menjadi magnet siswa yang masuk secara curang. Siswa yang masuk dengan cara curang biasanya punya karakter yang buruk, dan jika jumlahya terlalu banyak justru menghilangkan keunggulan utama sekolah favorit. Strategi sekolah yang pernah saya lihat adalah mengelompokkan siswa-siswa ini di kelas terpisah, jadi sebenarnya mementahkan manfaaat utama sekolah favorit (bisa jadi catatan orang tua yang memaksa anaknya masuk dari “belakang”).

Masalah kecurangan ini  membuat saya jauh lebih khawatir saat anak mengikuti penerimaan siswa baru di tingkat SMP dan SMA dibandingkan perguruan tinggi. Anak saya harus bekerja lebih keras untuk bersaing dengan anak lain yang (orang tuanya) menghalalkan semua cara. Di perguruan tinggi yang bagus untungnya masalah ini relatif  sedikit, kalaupun ada yang masuk dengan cara curang banyak yang kena drop out di tahun-tahun awal.

Berdasarkan pengalaman saya pribadi, beberapa hal yang saya terapkan pada anak:

  1. SD: fokus lebih pada bermain. Jadi cari SD yang tidak perlu kompetitif,  santai, heterogen dan bisa dicapai dengan jalan kaki. Karena anak saya anak tunggal, kami berusaha agar sebanyak dan sesering mungkin temannya main ke rumah. Untuk memperkuat materi pelajaran, terutama matematika yang sangat penting untuk dasar, kami ikutkan dia dibeberapa les (sempoa, sakamoto, bahasa Inggris, musik drum). Waktu les fleksibel jadi bebannya bisa diatur. Anak saya bersekolah di SD  yang bisa berjalan kaki 10 menit.
  2. SMP:  pada tahap ini anak sudah diberi kebebasan untuk memilih sekolah. Saya cuma menyampaikan bahwa target akhir yang perlu diincar adalah prodi terbaik se Indonesia (apapun prodinya), oleh karena itu perlu pertimbangan yang matang juga. Saya tidak mau anak mengincar SMP terbaik, karena menurut saya di masa SMP anak masih dalam tahap bermain (walaupun tidak sebanyak SD) . Tapi belajar dari pengalaman saya yang terseok-seok saat SMA, maka perlu dicari SMP yang kualitasnya bagus, tapi masih bisa santai. Anak juga didorong untuk aktif dalam berbagai organisasi. Les hanya ikut di kelas 3, untuk mencegah kelelahan. Anak saya masuk SMP1 Bandung walaupun dari nilai UN bisa masuk SMP5.
  3. SMA:  sudah mulai perlu serius untuk persiapan masuk PTN bagus. Usahkan masuk SMA terbaik di kota. Saya tetap mendorong anak untuk berorganisasi (sayangnya kurang berhasil). Anak saya sekarang  ada di tahap ini (masuk SMA3 Bdg). Pengalaman saya yang juga bersekolah di SMA 3 Bdg, walaupun kurang menyenangkan di awal, tetapi sangat memudahkan saat berada di ITB karena karakteristiknya mirip. Dari pengamatan angkatan saya, lulusan SMA3 memang kurang menonjol saat kuliah di ITB, tapi stabil tidak terkena kasus DO (drop out). Lebih tabah mungkin hehe.  Lebih baik bermasalah saat SMA dibandingkan saat kuliah karena ada ancaman DO.
  4. Perguruan tinggi,  apapun jurusannya, sebaiknya yang  terbaik di tingkat nasional. Jurusannya sendiri saya bebaskan. Untuk alternatif kuliah di luar negeri, saya lebih suka nanti saja saat S2, walaupun  memang kalau anaknya mau ya silakan saja. Masalahnya kepribadian anak belum matang sampai lulus S1, masih gampang dipengaruhi lingkungan.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s