Review New Brio Satya E CVT (2016)

27 July 2016 at 03:10 | Posted in Uncategorized | 7 Comments

Review Brio sudah cukup banyak, tapi sepertinya belum ada yang menulis pengalaman tentang versi Brio Facelift E CVT. Sayangnya saya pengguna Picanto manual, jadi tidak bisa membandingkan dengan Brio versi AT sebelumnya.

brio

Alasan pemilihan sudah ditulis di posting sebelumnya.

Ini review dari pertama, dan terus diupdate seajalan dengan pemakaian:

  1. Update Nov 2016: Konsumsi bahan bakar stabil di kisaran 11km/l dalam kota Bandung, tanpa lewat jalan tol dan jalanan relatif tidak macet. Ini lebih baik daripada Picanto manual saya yang hanya bisa 9 sd 10 km/l.  Ternyata sudah tidak berlaku lagi mobil matic lebih boros daripada manual🙂
  2. Fitur keamanan termasuk paling lengkap di kelasnya: dual airbag, ABS+EBD, pretensioner seatbelt.  Sayangnya tidak seperti picanto, belum ada skor NCAP-nya, bahkan ASEAN NCAP saja tidak ada. Kenapa ya?
  3. Interior ceria sekali warnanya, tapi langsung kebayang akan gampang kotor. Tampilan dashboard sih bagus,  tapi kalau dipegang-pegang terasa sangat tipis dan ada beberapa bagian yang tidak presisi (sudah sering dibahas). Ada bagian yang menggantung seperti dibagian bawah setir yang mengingatkan saya pada ember plastik hehe. Picanto lebih bagus untuk ini. Update: setelah 2 minggu mulai ada suara halus dari dashboard tengah. Update Nov 2016: suara hilang sendiri.
  4. Body lebih tebal daripada picanto tapi ya tetap saja termasuk tipis.
  5. Bagasi lebih kecil daripada Picanto dan baris kedua juga lebih sempit. Tidak terlalu masalah bagi saya karena karena mobil kebanyakan digunakan hanya untuk berdua dan bagasi jarang digunakan.
  6. Suspensi empuk dan enak untuk jalanan tidak rata dan polisitidur, bantingan saat belok juga jauh lebih kecil dibandingkan Picanto. Setir juga lebih ringan.
  7. Rem akurat. Ini kelemahan utama picanto dan alasan utama saya memilih mobil yang ada ABS+EBD-nya. Update: kalau kecepatan rendah di turunan, rem sering berbunyi kreok-kreok.
  8. Suara mesin dan AC keras. Beda dengan picanto yang hening. Peredaman kolong sepertinya lebih baik daripada Picanto. Suara dari luar dan suara ban lumayan tidak terlalu terdengar (tapi tetap parah sih kalau kecepatan >60). Yang paling menggangu adalah suara kalau hujan, sangat berisik  serasa di bawah atap seng. Mau pasang peredam tapi khawatir jadi rusak atau kotor.
  9. Mesin terasa tenaganya saat ditanjakan, akselerasi juga enak. Saat coba di tol, tidak terasa mencapai 120kpj. Di kecepatan tinggi jauh lebih stabil dari picanto (lebih rendah gc-nya?). Menurut  Autobild, 0-100kpj 11.8 detik, bandingkan dengan Picanto yang 15 detikan.
  10. Saat injak gas untuk menyalip memang ada delay (beberapa menyebut lag).  Dari yang saya baca, ini karena karakter mesin i-VTEC-nya. Mungkin saat RPM rendah, dia masuk ke mode irit dan pada RPM tertentu baru masuk ke mode kinerja tinggi. Terasa aneh,  seperti tidak linear percepatannya,  RPM naik dulu  baru wuss. Suara mesinnya sih jadi asyik hehe (malu juga sih, suara saja yang keras). Atau ini mungkin efek “rubberband” dari CVT?  Efek ini membuat perlu hati-hati saat mau menyalip mobil dari kecepatan rendah, karena kita perlu waktu untuk mendapat percepatan.  Update: setelah diisi shell gejala nyendat lebih berkurang, sepertinya saat awal diisi premium oleh salesnya.
  11. Terkait masalah lag, saya merasa kalau saya menyetir dari awal agresif, maka mobil akan lebih responsif, mungkin karena RPM-nya jadi relatif tinggi terus. Jadi sepertinya Brio ini enak digunakan santai sekalian atau agresif sekalian.
  12. Saat turun kurang terasa  engine break-nya, perlu lebih hati-hati atau menggunakan mode S. Saya baca ini untuk menghemat BBM.
  13.  Coba mode S sebentar (ingat, pindah ke D->S harus lepas gas dulu agar tidak merusak transmisi), RPM lebih tinggi, suara mesin terdengar dan tenaga lebih besar, tapi delay sih tetap ada walau jauh berkurang. Bagus sekali untuk tanjakan saat macet. Susahnya saat mau masuk lagi ke D, eh malah kelewat masuk ke N, tuas giginya lurus sih.
  14. Coba mode S untuk perjalanan biasa, jauh lebih enak, mobil jadi lebih responsif. Suara mesin memang agak keras, tapi setelah beberapa lama tidak terdengar lagi karena terbiasa. Cuma lampu eco tidak pernah muncul hehe, sepertinya BBM akan lebih boros. Pertanyaannya seberapa boros? kalau tidak jauh beda saya lebih baik pake mode S (ketagihan nih). Kapan-kapan mau saya test konsumsi BBM dengan mode S terus. Dari sekilas, konnsumsi BBM tidak turun, mungkin karena sebenarnya kalau di lalulintas yang lancar, mode D sama borosnya karena cenderung menekan gas lebih agresif. Enaknya mode S, tenaga tetap ada saat berbelok, kalau mode D sepertinya RPM turun drastis saat gas diangkat (sebelum belok), ini menyebabkan nyendat saat di gas lagi kalau terlalu agresif, harus halus, tapi kalau terlalu halus kadang-kadang malah berbahaya karena orang lain mengira kita memberi mereka jalan. Update: konsumsi turun 0.5 km/liter, masih bisa diterima menurut saya.
  15. Lampu terang, dan sekarang di varian E sudah ada fog lamp-nya. Dibandingkan Picanto, jauh lebih terang dan enak untuk nyetir di malam hari.
  16. Seatbelt jauh lebih ringan daripada picanto, mungkin ini karena ada pretensionernya?  Tidak terlalu penting, tapi terasa sekali bedanya (komentar istri juga sama). Fitur pretensioner ini juga sebenarnya fitur keamanan yang penting karena saat terjadi kecelakaan, seatbelt akan mengencang otomatis sehingga pengemudi “terpaku” pada kursi dan mencegah cedera akibat tekanan seatbelt.
  17. Bau luar masuk ke dalam. Kaget saat dekat bis, kok jadi bau solar?  Setelah baca, ada yang bilang nanti bisa diperbaiki saat service 1000 km (flap di kap mesin dikencangkan?) katanya juga AC di Brio tidak diberi filter AC, jadi sekalian nanti ditambah. Update: sekarang sudah hilang, lupa saya sampaikan saat service 1 bulan.
  18. 2 Sept 2016: tambah sendiri filter kabin AC, karena bengkel resmi Honda tidak mau (kata SA harus pesan dulu dan ganti dudukan, apaan?). Banyak petunjuk pemasangannya di YouTube kok. Beli di tokopedia, tapi saya salah beli, harusnya beli yang sekalian ada cover. Karena saya tidak punya cover maka saya menggunakan tutup yang lama,  dipotong sebagian, lalu ditempel ulang dengan plakban. Efeknya filternya kepanjangan😦  Harus dipotong sekitar 4 cm. Bagusnya, tidak seperti video di youtube, glovebox tidak perlu dilepas total, cukup diturunkan saja, ganjal sedikit. Akan saya cek 3 bulan kedepan. Enak ini, bisa ganti sendiri dengan gampang. Jangan lupa airflownya dari atas ke bawah, saya sempat kebalik pasangnya.
  19. Untuk kasus tanjakan, saat rem diangkat enaknya mobil tidak mundur. Saya belum menemukan tanjakan yang membuat Brio mundur saat rem diangkat. Enak banget ini untuk macet ditanjakan kalau dibandingkan transmisi manual yang harus menggunakan rem tangan.  Tapi hati-hati kalau mau menyalip di tanjakan (berakselerasi mendadak di tanjakan) di buku manual ada peringatan bahwa kalau mode D di tanjakan, kalau kita tekan gas mendadak, RPM malah bisa turun dan membuat tenaga hilang. Saya mengalaminya sendiri, untung tanjakannya satu arah. Gunakan mode S atau L untuk tanjakan.
  20. Update: dicoba jalan ke Lembang sampai Subang. Enak  bawanya, tidak ngebanting seperti Picanto, tenaga juga enak (saya menggunakan mode S).  Tapi kalau di tanjakannya cukup curam suara mesinnya lumayan keras dan terasa lumayan berat.
  21. Kursi depan sebelah sopir lebih lapang dibandingkan picanto (kata penumpang yang badannya agak besar). Juga di sisi sopir.
  22. Ada penganturan volume di stir,  terpakai jika saya ngobrol dengan istri dan perlu mengecilkan volume dengan cepat. Saat istri sibuk dengan HP, bisa dinaikkan lagi volumenya dengan mudah hehe. Bisa skip lagu juga enak.
  23. Filter kaca lebih bagus, kabin tetap dingin walaupun dijemur di matahari. Apa ini karena teknologi green tinted atau kaca film bonus yang lebih bagus?
  24. Tidak ada footrest untuk kaki kiri seperti di picanto, sayang sekali padahal kaki kiri jelas menganggur.
  25. Kursi kurang nyaman, keras dibagian pinggang. Mungkin perlu dilapis dan dipertebal. Jok juga tipis sehingga lutut penumpang belakang sampai terasa kalau menempel ke kursi.
  26. Membuka pintu bagasi  harus dengan kunci atau tuas.Sudah beberapa kali kunci tertinggal, setelah buka langsung ngeloyor😦  Pernah juga setelah saya buka dengan tuas, eh lupa nutup (karena tidak jadi pake bagasi). Saat nyetir kok ada bunyi “tiit” setiap beberapa menit, ternyata ada peringatan pintu terbuka.
  27. Bagasi kecil. Awalnya tidak terasa karena kami jarang bawa barang. Tapi begitu antar saudara ke bandara, wah baru terasa. Hanya muat dua koper sedang. Bentuk kaca bagasi yang miring juga membuat bagian atas bagasi tidak bisa dimanfaatkan (tidak bisa menumpuk barang). Akhirnya terpaksa sebagian koper diletakkan di kursi belakang bersama penumpang.
  28. Lapisan stir membuat tangan mudah berkeringat. Perlu segera diganti/dilapis karena menggangu.
  29. AC lebih lemah daripada picanto. Saat awal beli picanto paling hanya menggunakan setelah separuh. Brio ini kadang di siang hari yang panas, setelan dingin harus maksimal dan blower juga harus lebih dari satu. Kalau sedang idle, maka saat kompresor AC nyala juga terdengar di dalam kabin. Tidak ada pemanas seperti picanto. Memang jarang sih menggunakan pemanas.
  30. Wiper tidak bisa diset intervalnya. Picanto saja ada😦
  31. Tenaga mundur relatif lemah. Ini yang aneh.  Rumah saya tempat parkirnya agak nanjak. Saat parkir mundur, mobil sempat maju ke depan kalau tidak digas. Saat di-gas agak loncat, hampir saja nabrak tembok😦  Solusinya dengan rem tangan lalu gas ditekan pelan-pelan. Kalau tanjakan maju tidak masalah. Update: akhirnya nabrak pertama (nabrak pot) gara-gara ini. Parkir mundur yang nanjak benar-benar harus jadi hal yang diwaspadai karena gampang sekali loncat.
  32. Ground clearance rendah sekali, tidak sampai sejengkal. Ini mungkin yang buat Brio terasa stabil, tapi efek negatifnya sudah dua kali gasruk di jalanan jelek.
  33. Kecepatan dibatasi di sekitar 140kpj,  tapi belum pernah kena karena baru coba sampai 120kpj. Tapi setuju dengan pembatasan ini, Brio tidak cocok untuk ngebut.

Secara umum puas dengan Brio ini, sudah sepadan dengan harganya dan pilihan tepat kalau mau upgrade dari Picanto.

Beberapa hal  yang ada di buku manual tapi jarang dibahas:

  1. Jangan pindah mode gigi sambil menekan gas.
  2. Jangan gunakan gas untuk menahan mobil di tanjakan, gunakanlah rem. Mobil tidak akan mundur kok saat rem diangkat, kecuali sangat curam.
  3. Jangan pindah ke P atau R saat mobil sedang bergerak.
  4. Indikator temperatur akan berkedip-kedip jika mesin sudah mulai dianggap terlalu panas, dan nyala terus jika mesin kepanasan.
  5. Mode S  di transmisi bukan singkatan dari “Sport”, bukan juga “Second” tapi Drive “S” saja.
  6. Pindah D->N tidak perlu tekan pengunci. Demikian juga dari L->S->D (tapi sebaliknya perlu tekan). Pindah dari R -> D juga tidak perlu (tapi sebaliknya perlu). Saya sih tekan terus tekan tuas pengunci mau dari D ke N atau sebaliknya hehe.
  7. 1000km pertama, mesin jangan terlalu dipaksa.

Mengenai pindah gigi ke N  plus rem tangan saat lampu merah? Di manual tidak ada. Tapi dari yang saya baca sepertinya tidak perlu, bahkan lebih ringan bagi transmisi kalau tetap di D dan injak rem, walaupun tidak signifikan (di manual tidak disebut juga, artinya tidak terlalu beda).  Saya sendiri pindah ke N+rem tangan karena lebih rileks saja untuk menunggu lampu merah yang lama. Kaki di rem kalau kelamaan membuat pegal dan takutnya malah kepeleset dan nabrak kendaraan di depan. Tapi kalau lampu merahnya sebentar, ya injak rem saja.

Update service

  • 1 bulan/1000km (Agt 2016): Odometer baru 724km tapi sudah kena batas waktu satu bulan (ada SMS dari Honda). masih gratis, hanya dicek 30 menit. Oli katanya diganti nanti 10rb km. Tapi Honda ini berbeda dengan KIA, selain km ada batasan waktu juga. Untuk saya pasti yang kena adalah waktu dulu.   Saat tanya filter AC, jawab SA-nya harus pesan dulu. Wah? Ya sudah, saya pesan saja di Tokopedia dan nanti pasang sendiri. Lalu ditawari paket cermat, 3 thn dengan paket yang paling tinggi kenanya 4jt, katanya lebih murah 25% dibandingkan non paket.

Catatan tentang perawatan AC

  • Service besar picanto saya setelah 9 tahun bukan di mesin atau transmisi  atau kaki-kaki, tapi malah AC. Jadi untuk selanjutnya saya lebih hati-hati. Sekarang mobil Brio saya ganti sendiri filter kabinnya (bisa lebih sering), karpet dan interior disedot debu sendiri, kondensor juga mau rutin dibersihkan dengan disemprot air, dan sistem AC mobil akan dibersihkan 1-2 tahun sekali ke bengkel AC. Saya sempat coba semprot kondensor dengan selang biasa, tapi apa tidak masalah ya kena kipas radiator? fan elektronik soalnya. Yang paling aman sepertinya buka kap mesin, lalu semprot dari tengah-tengah antara radiator dan kondensor ke arah luar.
  • Pengalaman saya terakhir service AC mobil picanto, memberikan pelajaran bahwa penting untuk mencari bengkel service yang bagus. Waktu itu jok jadi kotor, glove box rusak, prediksi harga dan waktu pekerjaan bergerak terus tidak jelas. Walaupun akhirnya AC bisa dingin, tapi tetap saja ini jadi pengalaman jelek. Setelah tanya di forum, ini rekomendasi bengkel AC di Bandung:
    • Frigia jl Naripan dekat Braga. Dari foto sepertinya ini bengkel yang paling profesional, cuma mungkin bakal paling mahal.
    • Pipih Son jl. Karapitan sebelah JNE.
    • Variant AC depan RS Imanuel jln Kopo
  • Salah pasang filter AC kabin hehe. Air flow Brio itu ternyata dari atas ke bawah, jadi saat pasang, pastikan panah menghadap ke bawah.

Catatan tentang perawatan kaca depan: Bagi saya mobil boleh kotor, tapi kalau kaca depan kotor sangat menggangu (mata jadi susah fokus). Berdasarkan pengalaman dua mobil sebelumnya, gampang sekali bekas hujan jadi permanen. Di picanto saya gunakan wiper saat masuk masuk garasi jika baru kehujanan. Ini efektir, tapi jeleknya bagian yang tidak kena wiper jadi parah sekali whitespotnya. Lalu karena mungkin ada kotoran di wiper, akhirnya kena baret juga di picanto. Untuk Brio ini saya lebih berhati-hati dan rencananya wiper beli dan diganti sendiri saja. Untuk membersihkan kaca, saya gunakan Optimum No Rinse, efektif tanpa sabun dan untuk body juga buat mengkilap. Update: untuk menghilangkan whitespot tetap susah, saya coba ONR+clay, agak lumayan tapi tetap ada.

Update 20 Sept 2017: Ganti karet wiper karena nggak bersih menyapu air dan bunyinya berdecit. Saat dipegang kok juga lumayan keras karetnya. Trauma pernah kena baret di kaca depan Picanto gara-gara wiper (waktu picanto saya hanya ganti wiper saat service di bengkel resmi, jadi sering telat). Beli yang frameless merk Kanebo, lebih bersih dan lebih lembut karetnya, tidak ada suara decitan lagi. Apa karena memang bahannya lebih bagus atau memang karet wiper bawaan Brio sudah terlalu lama? Soalnya walaupun mobil baru kan tetap saja karet wipernya bisa diambil dari stok lama. Update: Ternyata wipernya jelek, meninggalkan bekas hitam (karetnya luntur). Beli lagi di tokopedia merk lain, sama saja. Ya sudah, nanti ganti di bengkel resmi saja.

Update Nov 2017: Coba menggunakan V-Power (RON 95), dan seperti picanto saat diberi RON95, tenaganya malah terasa berkurang walaupun tidak terlalu drastis.

7 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. […] update 26 Juli: pengalaman menggunakan new brio sayta E cvt […]

  2. Review lagi om Brio Satya nya. buat pertimbangan. mau beli mobil. manual atau CVT. Terimakasih.

    • Review mananya? menurut saya beli versi cvt, terutama kalau berada di kota besar.

  3. akhirnya berakhir sudah Picanto saga ya pak Yudi. Berkat blognya pak Yudi, saya memutuskan beli Picanto tahun 2010, sampai sekarang masih setia bersama dengan saya, KM masih 46,000 karena hanya kota-kota saja. Jika boleh tau, laku pada harga berapa pak Picanto tahun 2007nya? saya masih sayang banget kalo mau jual Picanto saya dengan KM yang masih rendah ini.

    • haha, saga, kesannya gimana gitu🙂

      Picanto saya laku 59, tapi mungkin kalau sabar bisa sampai 62. Ada kejadian yg memaksa menjual cepat (pembeli pertama gagal melunasi, sampai nyangkut sebulan).

      Kalau melihat kondisi pasar kelas minicar sekarang, menurut saya lebih baik dijual secepatnya sih. Setelah Honda, Toyota, Daihatsu, Datsun masuk ke kelas minicar plus kebijakan LGCC, kemungkinan Picanto bisa bertahan kecil (menurut opini pribadi saya ya).

  4. Kang Yudi, Kira-kira Brio ini cocok ga untuk saya keluarga yg sudah beranak 2, kabin misalnya mencukupi tidak ya untuk jumlah anak segitu,. Misalnya ketika harus bawa koper untuk perjalanan jauh, atau stroller ketika ke tempat wisata
    Hatur nuhun sebelumnya kang.

    • Bagasinya kecil, dan bangku belakang juga kecil. Kalau untuk dalam kota tidak masalah, tapi kalau untuk keluar kota saya pikir akan terasa sempit. Bagusnya sih dilihat dan dicoba sendiri (mampir saja ke dealer honda).

      Ini foto bagian belakang mobil saya, anak sudah tdk muat lagi kalau dibelakang sopir. https://www.serayamotor.com/diskusi/download/file.php?id=29024


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: