Bergandengan Tangan

26 July 2009 at 19:25 | Posted in Uncategorized | 2 Comments

Repost dari note saya di facebook (12 Maret 09)

Hari ini, jam 6.30: “Pak, anter dong…” kata Furqon. “Sama mama aja” kata saya sambil tetap nempel di depan komputer (kebiasaan dari SMP, kalau udah di depan komputer, susah lepasnya). “Ayo dong” desak Furqon lagi. Ya udah, nyerah. Lia sedang mandi dan Bibi pengasuh Furqon sedang sibuk ngepel.

Sekolah Furqon memang deket, cuma 10 menit jalan kaki, tapi melewati jalan raya yang cukup besar dan banyak mobil dan motor yang gila-nggak-mau-ngerem-walau-ada-anak-sd-nyebrang.

Sambil jalan, kami sesekali bergandengan tangan sambil mengobrol. “Binatang apa yang berbisa?” kata Furqon. “Ular, kalajengking” kataku. “Salah! Bisa sapi, bisa monyet, bisa kucing” kata Furqon sambil nyengir.

Saya dan Lia memang sering menggandeng tangan Furqon, karena Furqon lumayan sering jatuh. Apalagi kalau menyebrang pasti reflek tangannya digandeng.

Tiba-tiba saya teringat peristiwa sekitar 10 tahun yang lalu, saat saya masih mahasiswa. Waktu itu saya dan bapak menyebrang jalan dan mendadak beliau menggandeng tangan saya. Reflek tangan bapak saya tepiskan (malu dong, udah gede). Ah. Padahal itulah naluri seorang bapak yang selalu ingin melindungi anaknya. Agak menyesal juga kenapa saya tepis ya, mudah-mudahan beliau tidak tersinggung (tidak pernah saya tanyakan, dan sekarangpun tidak bisa karena beliau sudah wafat 5 tahun yang lalu).

Kembali ke masa sekarang, saya sadar dalam waktu yang amat dekat Furqon pasti akan malu bergandengan tangan dengan bapaknya, bahkan mungkin malu diantar ke sekolah. Dan tentu saja itu hal yang natural. Tidak sadar saya menghela nafas, tiba-tiba saya merasa beruntung mengantar Furqon sekolah hari ini.

-update juli 09-
Furqon sekarang pergi ke sekolah sendiri sejak naik ke kelas 3.  Sekarang bahkan tidak mau diantar walaupun ditawari🙂

2 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. inspiratif banget pak..inget ortu..

  2. Ceritanya mengalir pak,,,
    saya bisa mengambil sebuah kesimpulan bahwa orang tua selalu melindungi anak-anaknya dengan berbagai macam cara, walaupun ya salah satunya membuat anaknya malu sedikit malu. :d

    Salam hormat dari saya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: