Kehadiran Mahasiswa: Wajib atau Tidak?

5 February 2008 at 20:31 | Posted in Uncategorized | 3 Comments

Saat saya SD sampai SMA, beberapa kali saya pernah berkata “Bu, hari ini males sekolah, di rumah aja ya?”; jawab ibu: “Ya sudah”, dan hari itu sayapun tidak sekolah🙂 Bukan berarti ibu dan bapak saya tidak peduli pendidikan lho, apa saja untuk sekolah pasti didukung oleh beliau. Apakah ini jelek? Menurut saya sih tidak, kami empat bersaudara tidak pernah bermasalah dalam sekolah. Dua orang masuk ITB, dua orang masuk UPI. Yang jelas kami diajari untuk hidup jujur, kalau tidak mau sekolah ya tinggal bilang, tidak perlu pura-pura sekolah lalu bolos. Toh setelah “beristirahat” jadi semangat lagi sekolah🙂

Kembali ke masalah kehadiran mahasiswa. Untuk urusan ini, setiap dosen punya cara masing-masing. Ada yang menggunakan batas tertentu untuk ketidakhadiran, lewat dari batas tersebut dilarang ikut ujian. Ada lagi yang mensyaratkan tidak boleh absen 3 kali berturut-turut (kalau loncat boleh). Ada lagi yang langsung dikurangi, tidak hadir 3% ya nilainya dikurangi 3%🙂

Saya sendiri membebaskan mahasiswa untuk datang (atau tidak) dalam perkuliahan. Menurut saya, bisa saja mahasiswa dapat mengikuti kuliah saya melalui e-learning (diskusi online), bertanya-tanya kepada teman, baca buku sendiri dll. Kalau memang dia dapat memenuhi kompetensi yang disyaratkan, kenapa tidak? Justru kalau mereka mampu seperti ini sebenarnya bagus, karena tuntutan dunia kerja sekarang adalah kemampuan belajar yang cepat dan mandiri. Lagipula tidak nyaman memberi kuliah dengan orang yang memang tidak mau mendengar (masuk hanya untuk mengisi daftar hadir).

Tentu saja ada kelemahan untuk pendekatan seperti ini. Kehadiran mahasiswa berkorelasi positif dengan prestasi. Jarang sekali mahasiswa yang malas kuliah mendapat nilai tinggi.

Salah satu solusinya adalah memberikan sebanyak mungkin nilai tambah di dalam perkuliahan. Mahasiswa harus dapat merasakan perbedaan antara belajar sendiri vs mendapat kuliah dari dosen.

Ujung-ujungnya sih harus mempersiapkan kuliah dengan baik dan dosen harus menguasai materi jauh diatas mahasiswa. Artinya harus rajin belajar dan mengupdate diri 🙂

BTW, quiz mendadak juga dapat menjadi insentif tambahan🙂

3 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Setuju boss pak dosen !

    Doloo sayah pernah punya dosen S3 lulusan Cornell jugak getoo. Mbebasin mahasiswanya mau ngikutin kuliah ato ndak.

    Tapi pastinya, pak Phd sayah ini kalok ngasih Sylabus (kalok ditumpuk) tingginya 1,5 meter….
    😆 😆 😆

  2. Lagian, mestinya dijaman nyang serba cepat dan jalanan macet, mestinya Internet bisa menjadi solusi ya boss pak dosen….

  3. Mbel: berarti saya sudah selevel dengan S3 ya hehe. Di luar negeri juga bervariasi tergantung dosennya. Tapi sepertinya memang lebih banyak yang bebas.

    Mengenai internet, betul itu. Dari 2004 saya sudah menggunakan e-learning untuk diskusi dan mengumpulkan tugas. Sayang internet masih relatif mahal jika diakses dari rumah, bahkan untuk ukuran dosen hehe.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: