Rahasia Menghasilkan Anak yang Pintar

30 November 2007 at 01:29 | Posted in keluarga, kuliah | 7 Comments
Tags: , ,

Rahasianya? jangan katakan betapa pintarnya dia. Pujian seperti ini harus dihindari: “Wah bagus, kamu memang pintar!”

Mengapa?

Pujian seperti itu membuat anak merasa bahwa kecerdasan merupakan sifat bawaaan yang tidak dapat berubah. Hal ini membuat anak lebih takut menghadapi tantangan, lebih menyukai hal-hal yang mudah, dan takut gagal.

Jadi harus bagaimana?

Pujilah dia atas kerja kerasnya! “Nah kamu bisa kan kalau mau berusaha!”. Pujian seperti ini membuat anak merasa bahwa kecerdasan dan kemampuan adalah sesuatu yang dapat dikuasai jika kita mau berusaha. Menurut penelitian, anak dengan tipe ini akan lebih tahan terhadap tantangan, lebih giat belajar dan berusaha sehingga secara akademis lebih berhasil.

Tips yang lain adalah kita harus menceritakan tokoh-tokoh yang berhasil karena kerja kerasnya. Masih penasaran? Silahkan baca rinciannya.

Tapi, toh memang ada anak yang jenius atau sangat cerdas ‘kan? Misalnya Mozart yang telah menyusun komposisi pada umur 4 tahun. Betul, tapi kasus ini sangat jarang.

Berikutnya cerita tentang saya, opsional tidak perlu dibaca hehehe

—-

Tulisan ini mengingatkan saya saat pertama kali masuk IF-ITB tahun 1994. Pada waktu itu, jurusan ini adalah jurusan yang paling sulit dimasuki di Indonesia. Rank UMPTN minimal IF waktu itu adalah 1.000-an, sehingga untuk masuk harus dapat mengalahkan 49.000-an peserta yang lain .

Saya sendiri merasa bukan orang yang pintar (rangking terakhir saya di SMA adalah 49 dari 51🙂 ). Saya dapat masuk karena belajar ekstra. Saya kerjakan semua bekas soal mulai dari Skalu tahun 77 sampai UMPTN tahun 93, bahkan berkali-kali. Saya ikut bimbel dan mengikuti try-out yang tidak terhitung jumlahnya. Efeknya saat TPB (tahap persiapan bersama), saya jadi kacau balau karena terbiasa menggunakan metode “sesat”, tapi itu cerita lain deh hehe.

Tadinya saya bayangkan IF terdiri dari orang-orang yang pintar. Ternyata biasa-biasa saja. Hanya ada satu-dua orang yang mungkin diatas rata-rata. Perbedaannya baru terlihat saat kami diberi tekanan berbentuk tugas dan ujian yang kadang “ajaib” susahnya.

Begitu berada di dalam tekanan saya perhatikan teman-teman yang tadinya culun, selenge’an, cuek dapat berubah menjadi serius. Kami dapat mengerjakan tugas secara marathon sambil begadang (tidur jam 2 bangun jam 4) selama berhari-hari di kamar kos yang sempit (5-6 orang di kamar 3x3m! kalau tidur persis sarden hehe). Semangat fighting-nya terasa sekali. Perbedaan yang lain, saya jarang mendengar keluh kesah berkepanjangan. Mungkin karena semua kesulitan dianggap tantangan ya? jadi malah mengasyikan hehe.

7 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. oh begitu ya…..

    ortu mas yudi sendiri perlakukan mas yudi seperti itukah?

    Salam kenal,
    heru

  2. Kemungkinan besar iya🙂 Alm. Bapak saya sendiri adalah tipe pekerja keras. Sejak SMP (SGA/B?) , harus membiayai sendiri hidup dan sekolahnya. Lagipula salah satu bidang spesialisasi beliau adalah psikologi pendidikan, jadi kemungkinan besar ilmu tersebut diterapkan untuk kami.

  3. Oh…begitu toh…
    Sae pisan infona.
    Salam kenal Pak.

  4. @dkoor

    Thanks.
    Salam kenal juga🙂

  5. Wah thx infonya…. salam

  6. @fatherwith2child

    Nama yang lucu hehe

  7. thx infonya…saya lagi memburu pengetahuan yang seperti ini nih…i hope i can give all the best for my sweet berry.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: