Pelajaran dari Hugh Herr

21 November 2007 at 05:47 | Posted in Uncategorized | Leave a comment

Kemarin saya beli majalah Time, dan pada edisi ini dimuat inovasi-inovasi terbaik 2007. Sayang versi onlinenya sepertinya belum ada.

Saya tertarik dengan inovasi terbaik di bidang kesehatan, yaitu kaki palsu aktif. Berbeda dengan yang biasa, pada kaki palsu ini ditanamkan microchip dan sensor sehingga pengguna kaki ini dapat lebih mudah menghadapi tangga, jalanan miring dan jalan bertingkat. Detilnya dapat dilihat di www.iwalkpro.com/products

Pencipta kaki palsu ini Hugh Herr, seorang associate professor dari MIT yang kedua kakinya diamputasi sebatas lutut karena frostbite saat mendaki gunung di usia 17.

Saya kagum karena bagi seorang pendaki gunung, kehilangan kaki adalah sesuatu yang sangat berat. Tetapi bukannya putus asa, dia malah berusaha mati-matian untuk merubah nasibnya. Sebal karena keterbatasan kaki palsu yang ada di pasaran (sulit digunakan untuk mendaki), dia menciptakan kaki palsu yang jauh lebih baik.

Saat ini Hugh Herr masih melakukan pendakian, kaki palsunya banyak bermanfaat bagi orang lain, dan jangan lupa risetnya sudah menjadi produk yang akan dijual dan saya yakin akan untung secara komersial.

Hikmah yang perlu diambil dari cerita ini adalah: Pertama, harus bersyukur karena kita masih punya kaki. Kedua, harus lebih rendah hati karena kaki manusia ternyata sangat rumit. Saya pernah baca bahwa kita dapat berdiri karena sebenarnya secara mikro dan halus kita melakukan penyesuaikan posisi secara aktif. Coba kalau kaku 100%, pasti akan jatuh seperti boneka kayu. Cara merasakannya: coba berdiri sediam mungkin lalu rasakan pergerakan otot telapak kaki dan lutut, awalnya akan sulit dirasakan karena halus sekali dan terjadi secara otomatis. Nah untuk berdiri saja sudah begitu canggih, belum lagi saat kita berjalan dan berlari. Lihat bagaimana bayi atau seseorang yang terkena stroke belajar berjalan, terlihat sangat sulit karena memang kompleks.

Hikmah yang lain adalah cara kita menghadapi “kecacatan”. Cacat disini bukan berarti cacat tubuh, tapi “cacat” di tempat kerja dan “cacat” di negara kita.” Cacat artinya suatu kondisi jelek yang memang sudah ada dari lingkungan. Daripada mengeluh, terus membandingkan dengan pihak lain, lebih baik berusaha mencari jalan untuk mengatasinya, syukur-syukur bisa membantu orang lain.

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: