Furqon dan Buku Totto-Chan

10 November 2007 at 00:53 | Posted in keluarga | Leave a comment

Furqon Membaca Totto-Chan

Tiga hari ini Furqon mulai membaca buku Totto-Chan. Buku ini menceritakan kisah sekolah SD seorang anak perempuan Jepang di tahun 1940-an. Hebatnya buku ini dapat dibaca dan dinikmati baik oleh orang dewasa maupun anak-anak.

Di dalam buku ini, diceritakan Totto-chan yang dikeluarkan dari sekolah karena dianggap nakal. Akhirnya dia pindah ke sebuah sekolah SD yang unik. Mereka bersekolah di bekas gerbong kereta api yang telah disulap menjadi ruang kelas. Di SD ini siswa diberi banyak kebebasan dalam kegiatan belajar. Setiap siswa diperbolehkan belajar dengan urutan yang mereka kehendaki. Jadi di dalam kelas bisa saja ditemui siswa yang menggambar sedangkan yang lain melakukan eksperimen Fisika.

Sebagai dosen, saya sendiri belajar banyak dari buku ini: harus dapat membuat suasana kuliah yang menarik dan menyenangkan!🙂

Mengenai Furqon, saya senang sekali akhirnya Furqon mau membaca buku non-komik dengan cerita yang panjang.

Biasanya dia hanya mau membaca komik Donald Bebek atau Bobo atau kumpulan dongeng-dongeng pendek. Kami memang tidak memaksa, cuma kadang-kadang menawarkan🙂 Akhirnya dia mau sendiri, mungkin karena komik dan majalah terlalu cepat habis dibaca (15 menitan untuk donald bebek, satu jam untuk Bobo).

Sayangnya buku seperti ini sekarang sudah jarang. Jaman saya SD, ada buku “Lima Sekawan”, “Trio Detektif” dan semacamnya. Sekarang paling hanya Harry Potter saja yang ada.  <update 13 nov> Ternyata lima sekawan ada di Gramedia <update>

<Updated by Lia, 12 Nov 07> Furqon juga membaca buku kumpulan cerpen dari Enid Blyton berjudul “Anak dalam cermin”. Tadinya dia tidak mau baca karena bukan komik. Tapi, dengan melihat penampilan buku yang kecil dan mungkin tidak adanya pilihan buku lain, akhirnya dia bilang akan mencoba baca buku tersebut. Ternyata buku tersebut langsung dibaca dan selesai dalam satu malam, dan besoknya dia minta diantar ke gramedia lagi untuk membeli seri lainnya. Sayangnya, dua minggu ini furqon belum dibawa ke gramedia lagi karena masih pilek dan batuk. <end update>

BTW, lihat tangan kiri Furqon, itu adalah pembatas buku. Furqon lebih apik dari saya untuk urusan membaca buku. Saya tidak pernah menggunakan pembatas buku. Untuk menandai batas, biasanya saya lipat saja halamannya ” ‘kan bukunya jadi rusak ” kata Furqon, saya cuma bisa mesem-mesem🙂

Kebiasaan jelek kedua saya adalah buku sering dibawa tidur. Furqon juga membawa buku di tempat tidur, tapi saat mengantuk dia letakkan kembali di lemari. Ini mungkin yang dikatakan orang “perbaikan keturunan” ya? hehe.

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: