Review KIA Picanto

3 January 2008 at 09:40 | Posted in Uncategorized | 1,751 Comments
Tags:

Ini kelanjutan posting saya sebelumnya. Waktu saya googling tampaknya belum ada review dari pengguna Picanto di Indonesia. Bukannya tidak ada sih, tapi tersebar di forum dan mailing list.

Disclaimer: saya jelas bukan reviewer otomotif profesional :-) hanya sekedar user. Mobil yang saya pernah gunakan juga cuma Katana dan Toyota Cressida (tapi jarang). Jadi yang pasti review ini subyektif. Posting ini rencananya saya update terus sesuai perkembangan.

Picanto saya sudah digunakan kurang lebih 300 1800 8600 21000  30000 Km , sudah dibawa ke Lembang, bermacet-macet di kota, dan kadang ke tol (–update 09: sudah dibawa ke anyer dan beberapa kali ke Jakarta dan sekali ke Palembang) .  Berikut kesan-kesan saya:

Sisi positif:

  • Enteng dibawa tanjakan. Ini penting untuk kondisi Bandung yang banyak naik turun. Maks torque (96NM = 9.8 Kgm) didapat pada RPM relatif rendah 2800, jadi pas untuk dalam kota. Walaupun torquenya kecil, tapi berat Picanto cuma 852 kg (1 NM untuk 8.87 kg). Biasanya saya dapat menggunakan gigi 2-3 di setiap tanjakan. Kecuali untuk satu tanjakan di daerah Polban, tanjakan panjang, curam dengan dua kelokan. Picanto harus menggunakan gigi 1 (AC masih nyala) . Tapi saya pernah berpapasan dengan Terano di tanjakan ini dan kalau dilihat dari suaranya dia juga menggunakan gigi 1. Katana saya dulu pernah mundur di tanjakan ini. Macet di tanjakan basement mall paris van Java juga tidak masalah (mobil diisi 2 dewasa 3 anak-anak), rem tangan enak.
  • Di tol bisa mencapai 120kpj dan masih stabil, tidak ada getaran. Kec max yang pernah saya capai adalah 140 kpj.  Kalau menurut buku manual, kecepatan maks adalah 155 an, di speedometer 180. Tapi kalau mau nyaman ya dikisaran 90-100. Lebih dari itu tidak nyaman karena suara ban dan angin mulai terdengar dan agak khawatir mengerem (baca kelemahan Picanto dibawah). Kecepatan 80 terasa tidak bergerak, jadi malah ngantuk.
  • Lincah (akselerasi bagus, power steering, rem cukup) . Ini juga cocok untuk di Bandung yang banyak angkot. Mobil harus bisa lincah menyalip angkot yang berhenti mendadak atau menyalip motor di jalan sempit. Jeleknya jadi sering keasyikan tancap gas (boros bensin).
  • Kopling lembut (hidrolik) dan akurat, nyaman untuk kondisi macet. Awalnya untuk kopling mundur agak seret (dan bunyi). Setelah baca buku manual, ternyata sebelum mundur harus masuk ke netral dulu, tunggu sekitar 3 detik, baru masuk gigi mundur. Setelah itu tidak ada masalah lagi untuk gigi mundur. Itulah gunanya baca buku manual :-)
  • Dimensinya kecil (lebar 1.6 m). Enak saat melewati jalan sempit dan saat parkir.
  • Kursi depan nyaman, walaupun dari luar terlihat kecil, saat masuk ternyata cukup lega. Ada tilt steering.
  • Bensin irit, kemarin dapat 10 sd 12 km untuk 1 liter (dalkot Bandung non tol). Tapi angka ini belum akurat, saya masih kagok menyetirnya, cenderung banyak tekan gas. Nanti diupdate lagi setelah service 1000 km. Harusnya memang irit karena cc-nya kecil dan berat mobil rendah. –update 8 Mar 08- sekarang tampaknya stabil di kisaran 1:11, kalau melewati tol 1:12 -Tapi jangan terlalu percaya brosur atau sales yang mengatakan 1:23, mungkin bisa sih tapi dengan kecepatan maks 40 kpj, selalu gigi 5, tidak macet, di tol, dibelakang bis, kaca ditutup dan AC mati –update 14 Jan 07 — Kemarin untuk rute Bandung-Lembang-Dago Pakar-Bandara Soekarno Hatta-Bandung konsumsi bensin 1:17.2 (24 liter untuk 414 km). Rata-rata kecepatan di tol 100-120 kpj, full AC. –update 17 juni 08 — Berhasil menembus 1:12 untuk dalkot Bandung tanpa tol samasekali, full AC, RPM dijaga antara 2000-2500. –update Feb 11,  1:10.5 dengan bensin petronas 92, sepertinya ini pombensin yang stabil. Pombensin pertamina yang lain kadang bagus kadang jelek pertamaxnya (walaupun pastipas). –update Agt 2014: sekarang selalu menggunakan pombensin Shell, ini yang paling stabil kualitasnya.
  • -update 16-01-08- AC dingin. Di Bandung biasanya menggunakan setelan yang paling minimal untuk suhu dan blower. Di Jakarta saat panas (tapi tidak macet), hanya butuh setengah (blower pada kecepatan no 2). Setelah parkir panas-panasan di Bandara Soekarno-Hatta hanya butuh waktu 15 menitan untuk dingin. Menurut saya ini karena volume ruang kabinnya yang kecil.
  • -update 1-01-08- Mengeluarkan emisi rendah (119 g/km CO2). Sudah melewati Euro2. Saat saya kerja pagi, saya dapat melihat kota Bandung pada jam 9-an tertutup kabut abu-abu tipis polusi (lokasi kerja saya di Bandung Utara). Jadi menggunakan Picanto artinya ikut berkontribusi mengurangi polusi Bandung :-)
  • -update 29-01-08- Ada footrest untuk kaki kiri dan senderan untuk siku kanan. Baru sadar baru-baru ini. Soalnya mobil yang lama tidak punya fitur ini sih :-) Yang jelas, menyetir jadi lebih santai dan tidak gampang pegal.
  • -update 15-02-08- Build qualitynya bagus. Sama sekali tidak ada keluhan dalam tiga bulan ini, tidak ada suara dari dashboard, glove box, kursi dsb. Update Agt 2014: masih tidak ada keluhanan untuk ini.
  • -update 24-02-08- Bemper depan yang penyok karena digunakan Lia belajar mengemudi bisa dikembalikan ke kondisi semula dengan hanya disodok batang kayu dari belakang! Padahal ukuran penyoknya lumayan (kira-kira panjangnya 15 cm, dalam 5 cm). Soalnya bempernya dari plastik sih dan tidak dicat :-)
  • -update 27-02-08- Tidak capek saat membersihkan mobil, mobilnya kecil sih.
  • -update 12-08-08- Nyaman untuk perjalanan luar kota (yang tidak macet dan jalannya mulus). Awal Juli saya bawa Picanto ke Bandara SH (jemput Istri dan Furqon), lalu langsung ke Pantai Carita (Lippo Carita). Berangkat dari Bandung jam 4 pagi (santai, lalu lintas lancar) sampai di pantai jam 12-an.  Semua merasa nyaman tapi yang paling enak ya Furqon karena sendirian di belakang dan disediakan bantal :)
  • Interior simple. Mungkin ada yang tidak suka karena banyak plastiknya. Tapi kalau saya cocok, minimalis dan mudah dibersihkan.
  • Eksterior menarik. Mobil kecil dengan ukuran paling proporsional menurut saya. Ibu saya malah bilang seperti panda :-) (Picanto saya berwarna silver dengan hidung hitam).
Picanto dengan kursi belakang dilipat

Picanto dengan kursi belakang dilipat

Kelemahan: (perlu diingat Picanto adalah mobil kelas supermini dengan harga dibawah 100 juta, jadi memang ada hal yang harus dikorbankan)

  • Suara ban masuk ke kabin pada kecepatan tinggi. Terasa di jalan tol dengan aspal yang kasar. Mungkin harus tambah soundproofing. Suara mesin sih OK, tidak terlalu terdengar. Kalau dalam kecepatan rendah atau diam, Picanto termasuk hening. Tanpa lihat penunjuk RPM tidak ketahuan mesin nyala atau mati. -update 14 feb 08 — pada kecepatan rendah (50kpj) ternyata dengung ban juga mulai terdengar, ada yang bilang karena jenis bannya (kumho buatan korea) tidak cocok dengan jalan Indonesia. –
  • Mobil agak terbanting saat direm pada kecepatan tinggi. Pakem sih, tapi riskan juga karena bisa keluar jalan. Kalau dari manual, ini bisa dikarenakan rem basah. Atau saya terlalu dalam menginjak rem (mobil ini tidak ada ABS-nya). -update 16-01-08- Sekarang tidak lagi, tampaknya memang karena terlalu dalam diinjak. -update 14-02-08- Untuk kecepatan rendah, rem kadang-kadang tidak akurat.
  • Bantingan saat belok lumayan terasa. Saat ke Lembang, dari sisi tenaga tidak masalah, tapi tidak bisa terlalu cepat di belokan.
  • Ruang kaki di kursi belakang sempit. Apalagi untuk kursi dibelakang supir. Idealnya Picanto hanya digunakan oleh 2 orang, maksimum 3. Kecuali kalau di belakang hanya diisi anak-anak.
  • Bensin pertamax. Menurut manual harus RON 91. Walaupun sales bilang bisa premium, tapi IMO kalau dipaksa menggunakan premium tidak bagus untuk mesin dalam jangka panjang.  Bahkan menggunakan Pertamaxpun kadang-kadang masih nglitik. Yang terbaik adalah bensin dari Shell (oktan 92).
  • Suspensi keras, tapi menurut saya lebih baik seperti ini daripada mobil jadi tidak stabil (apalagi dulunya saya punya katana yang suspensinya jauh lebih keras hehe)
  • Gas terasa tertahan di gigi 1, ini mungkin karena saya belum biasa. Ada juga yang bilang ini karakter mobil KIA dari jaman Timor. Tapi ada juga yang mengatakan ini bisa diset saat service 1000 km. –update 6-02-07 — Masih kadang-kadang tersendat walaupun sudah service 1000 km. Terutama kalau kondisi macet dan saya sedang rusuh. Solusinya hanya tekan gas pelaaan, setengah kopling atau pindah ke gigi 2. Penasaran dengan masalah tersendatnya Picanto di gigi 1, saya coba cari-cari di internet. Solusi yang paling pas datang dari pengguna Avanza, kuat dugaan saya kasusnya sama dengan Picanto (walaupun untuk A/X efek tersendat terjadi juga di gigi 2). Berikut saya kutip email dari Sdr Reza (http://autos.groups.yahoo.com/group/XeniaAvanza/message/4382)“kalau sedang setir pada saat rpm diatas 1500 terutama pada gigi 1 atau 2, kemudian kita lepas gas, dan rpm turun di bawah 1500, akan terasa seperti ada engine brake tambahan, itu adalah saat injektor bensin menutup aliran bensin, yg di control oleh ECU, pada saat demikian, jangan di gas, pasti akan menyentak, biarkan sampai efek tertahan terasa di release, pada saat injektor sudah mengalirkan bensin lagi… baru kemudian injak gas, maka tidak ada efek hentakan yg menyendat….
    efek sentakan terjadi, krn pada saat kita ijak gas,- ( pada saat ecu sedang mematikan aliran bensin di injektor, dan waktu ecu mengalirkan kembali bensin) -, throtle bensin, membuka , sehingga otomatis akan menyentak karena supply bensin mendadak “besar” dari sebelum nya di tutup…
    trik ya kudu sabar dikit waktu mau ngebejek gas, nunggu sampe rasa tertahan lepas…. nah baru bejek, pasti tidak akan nyendat2…”

    Kesimpulannya, walaupun macet tetap tidak boleh buru-buru :-)

  • update 16-01-08: Ada bunyi dari roda depan kalau terkena lubang yang besar di jalan. Bunyinya wajar sih, seperti mobil lain, tapi terdengar lebih keras. Sepertinya butuh tambahan soundproof di bagian roda.
  • update 16-01-08: Bemper depan terlalu rendah, sudah dua kali kena pembatas ban di tempat parkir (polisi tidur sih belum pernah kena). Untungnya panjang  Picanto hanya 3.5 meter, jadi solusinya gampang: parkir agak mundur saja.
  • update 24-02-08: Tuas kopling kadang tersenggol paha penumpang depan kalau ukuran penumpangnya gede.
  • update 27-02-08: Tidak nyaman jika melewati jalan jelek.
  • update Feb-11: cat tips walaupun lebih mengkilap dibandingkan seperti Avanza.
  • Akselerasi kurang (butuh 15 detik untuk mencapai 100KPJ). Untuk dalam kota tidak masalah, tapi bisa menjadi masalah saaat  ke luar kota yang sering harus menyalip truk besar.

Menurut saya pribadi, Picanto sudah sesuai dengan harganya, bahkan untuk beberapa hal sudah melebihi ekspektasi saya.

-update 9 Jan 07-

Forum khusus Picanto:

–update 30-04-08 — setelah 2 bulan menggunakan Pertamax di pom bensin setiabudhi Borma, tadi coba isi Pertamax di pom bensin setiabudhi dekat hoka (sama-sama pertamax), efeknya mobil terasa lebih berat dan saat parkir di garasi (parkir mundur agak nanjak), mobil sampai mati dua kali Kalau premium jangan ditanya, pernah  terpaksa isi premium karena pertamax di pom bensin langganan (sebelah borma) habis. Mau ke tempat lain males karena sudah tanggung dan bensinnya juga sudah tinggal sedikit.  Efeknya langsung terasa, sampai sempat mati di tengah jalan (serasa baru belajar nyetir). Tenaga berkurang jauh dan  beberapa kali mesin ngelitik.  Suara mesin juga jadi lebih kasar pada saat idle.  Beberapa bulan yang lalu, diisi pertamax plus efeknya juga menyebabkan tenaga berkurang, entah kenapa. Jadi memang oktan 92  yang paling pas untuk picanto.- update juli-12:  sekarang eksklusif menggunakan petronas 92 (dago). Pertamax walaupun dari pombensin pastipas manapun kualitas tidak stabil (ngelitik atau bergetar saat idle). Dugaan saya, selain dicampur,  jumlahnya juga tidak sesuai. Di petronas nozzle tidak dipegang sampai selesai, di pertamina saat mendekati akhir pengisian, nozzle dipegang dan seperti sengaja dibuat tersendat (diremas2). Update agt 2014: karena petronas Dago tutup, sekarang menggunakan Shell di Pasteur.

-update 29 Jan 08 -
Hari ini service 1000km, ganti oli dan saringannya. Ini karena direkomendasikan oleh mekanik. Dari yang saya baca di internet memang dianjurkan untuk ganti oli di antara 300 mil sd 1000 mil pertama. Oli yang digunakan Total (agak asing juga). Katanya di bengkel resmi tersedia dua: Total dan Petronas. Tapi petronas belum ada. Setelah ganti oli perasaan sih suara mesin jadi lebih halus (sugesti mungkin). -update 24-02-08- Lebih halus memang, tapi cuma 500 km pertama, habis itu normal lagi -

Kondisi mesin dan lainnya semuanya OK kata mekanik :-) Service lagi setelah 5000 km. Tapi masih perlu spooring karena di bengkel resmi tidak tersedia alatnya.

BTW iseng-iseng tanya sales disebelah tempat service, harga Picanto OPT1 sekarang 101 juta dan OPT2 107 juta. Naik 4 jutaan dari Des 07.

- update 9 Ok 08 -

Hari ini service 5000 km, dilakukan di bengkel KIA Siloam di Pasteur (bengkel KIA Wastukencana pindah ke Jl. Ahmad Yani, jadi terlalu jauh). IMO, lebih bagus bengkel Siloam dibandingkan bengkel Wastukencana. Ruang tunggu lebih enak, di lantai 2, ada kaca sehingga kita bisa melihat mobil kita sedang dirawat. Setelah service dicuci juga :-).  Ganti oli Repsol, dan minta bunyi “ngik-ngik” di roda kiri belakang dihilangkan. Ternyata cuma longgar, setelah dikencangkan dan ditest oleh montir, bunyi sudah hilang. Total habis 260 ribu (150 ribu oli, 84 ribu ongkos kerj)a.   Mobil terasa enak setelah service ini.  Kemudian seperti biasa, tanya harga picanto. Untuk OPT1, sekarang harganya 104.5 juta.

- update 17 Jun 09 -
Service 10.000 km di Siloam (kali ini mobil tidak dicuci setelah service, kok turun ya pelayanan KIA siloam pasteur).  Ganti filter oli.  Sekalian service central lock yang kadang-kadang macet.  Total biaya 400 ribuan.  Berbeda dengan service sebelumnya, tidak terasa perbedaan yang signifikan.

–update 30 agt 08 –

Email dari Mas Arwan di milis yang bagus (saya letakkan disini supaya ingat):”Saat ganti kopling atau ganti timing belt, sekalian minta ganti seal crankshaftnya, supaya bisa irit ongkos bongkar (harga seal tidak sebanding dengan ongkos bongkar)”

– update 4 desember 09 –

Mobil bergoyang (tapi goyangnya berpola), tadinya saya pikir karena kaki-kaki, karena baru dispooring / balancing.  Setelah ke Beres ternyata kata mekaniknya ban kiri belakang melesak (mungkin kena lobang).   Sekalian ganti wiper depan juga, 200-an, mahal juga ya.  Tapi karena dulu pernah trauma kaca depan baret kena wiper ya nggak apa-apa deh. Akhirnya ganti ban di Rajaban Pasteur.  Karena ukuran 155 tidak ada, terpaksa ganti kedua ban belakang dengan ukuran 165.  Pilih merk Dunlop dengan harga 380 ribu. Ban lebih senyap, tapi tidak rekomendasikan Rajaban, spooring sampai dua kali stir tetap miring, pelayanannya juga nggak bagus.    Pindah ke tempat spooring di depan Setrasari Mall/pajak, pelayanan bagus, hasil spooring OK.

- update 5 Jan 10 –
Mobil dibawa ke Palembang (via Lintas Timur).  Tidak ada masalah dari sisi mesin, cuma harus berhati-hati saat menyalip karena akselerasi yang pas-pasan.  Sempat 2 kali kena lubang besar,  saking kerasnya sampai saya kira roda bakal patah.  Ternyata tidak masalah, hanya perlu dispooring ulang sesampainya di Bandung. Kemudian sempat ngerem sambil banting stir saat di kecepatan tinggi menghindari anjing nyebrang,  dan ternyata stabil.  Pulang ke Bandung langsung service 15 ribu km, ganti oli walaupun baru 2000 km  (mesin sudah terasa kasar).  Langsung enak lagi :) Biaya service Rp. 71 000 (service) + 168 000 (oli).   Konsumsi bensin Palembang-Bandung sekitar 43 liter pertamax,  itupun dengan 2 jam menyalakan AC di ferry karena tidak kebagian ruang tunggu.

– update 7 Agustus 2010 —
Service 20000 km, sebenarnya baru sampai 18800, tapi mobil sudah tidak nyaman, kadang-kadang ngilitik. Biaya 421 ribu  termasuk ganti oli.  Sekalian memperbaiki spion kanan yang tidak bisa dimiringkan dari dalam. Ternyata, ada kabel yang putus dan tidak bisa diperbaiki, harus ganti satu spion dengan harga 750 ribu, itupun stoknya tidak ada.

–update Des 2010 –
Akhirnya accu diganti.  Kejadiannya dimulai saat saya lupa mematikan kunci kontak sekitar 5 jam. Keesokan harinya, mobil tidak mau distarter.  Memang sebelumnya lampur besar sudah mulai terlihat redup terang tidak stabil.  Kontak hotline  24 Jam bengkel KIA Siloam, saya minta mereka yang membelikan accu.  Harganya 550 ribu. Ternyata berpengaruh ke tenaga juga, ngelitik jadi hilang sama sekali, mirip saat baru pertama kali beli. Jadi kalau gigi terlalu tinggi, mobil bergetar dan berat tapi tidak ngelitik lagi.

-update Jul 2012
service 30K (service 25K juga sudah, tapi waktu itu blognya males diupdate hehe). Habis 600 rb, hanya ganti saringan oli saja, yang lain masih bagus. Jangan lupa setiap service minta filter AC dibersihkan.  Mobil masih  nyaman digunakan, tadinya mau saya jual setelah 5 tahun, tapi sekarang tidak terlalu berniat menjual karena ternyata tidak terlalu berubah kondisinya setelah 5 tahun. Hanya cat yang sudah sedikit baret-baret.  Lalu sekarang di KIA Siloam banyak sekali mobil picanto dipajang, kalau dulu hanya 2-3 mobil sekarang sampai 7-8 . Sepertinya penjualan picanto semakin baik.

-update sept 2013

Service 35K, sekalian periksa kaki2 karena saat spooring diberitahu ada masalah di bagian roda depan. Ternyata memang ada beberapa komponen yang harus diganti (makasih untuk walikota yang membiarkan Bandung lobangnya banyak grrr) .  Komponen yang paling mahal adalah insulator assy-strut (sepasang 424 ribu), FR stabilizer LH+RH (215rb), stabilizer bar+insulator dust (72rb+52rb). Filter bensin juga kotor dan perlu diganti (261 rb). Diberitahu juga bahwa oli persneling belum diganti, padahal harusnya diganti di km 20K. Harusnya pihak bengkel mengingatkan saat service 20K, entah mungkin lupa waktu itu. Akhirnya ditambah oli dan jasa total kena 2jt.  Walaupun mahal stir jadi jauh lebih enak (stabil, getaran berkurang) dan saat melewati lobang jadi lebih lembut,

- update Nov 2013

Lampu rem mati, setelah diperiksa ternyata brake light switch-nya yang rusak. Onderdil di KIA Pasteur habis, jadi diganti di KIA Jln Jakarta. Proses penggantiannya cepat (30 menitan), biaya  148 ribu.

- update Feb 2014
Ganti baterai (aki), wajar sih sudah 4 tahun sejak ganti terakhir.

- update Juli 2014
Ada sedikit oli menetes, setelah dicek harus ganti seal. Sealnya sih cuma 60 rb, tapi ongkos gantinya 750 rb.  Mengingat umur, akhirnya sekalian ganti timing belt, ongkos gantinya jadi 450rb. Ditambah filter oli, total biaya 1.2 jt. Perasaan sih suara mesin jadi halus.

Selain itu ada bocor oli juga di ban kanan belakang, ternyata shockbreakernya sudah harus diganti. Sayang harus pesan dulu (4 harian). Rencananya sekalian ganti kanan-kiri. Perkiraan biaya 1jt  untuk shockbreaker kanan&kiri plus ongkos 200 rb = 1.2 jt.  Memang sudah terasa keras sekali.

- update Akhir Juli 2014
Shockbreaker diganti, jauh terasa beda. Ternyata berisik kemarin itu karena shockbreakder yang rusak.  Ganti ban karena ban depan masih menggunakan ban asli saat beli (Kumho). Satu ban 450 rb.  Sempat tanya tentang kopling, setelah dicoba mekanik katanya masih bagus. Saya memang lebih sering menggunakan rem tangan daripada setengah kopling  (tips dari bapak saya).

Update Agt 2014:
Service AC untuk pertamakalinya, karena terasa kurang dingin. Kuras dan ganti freon dan ganti beberapa komponen yang membuat freon bocor (pentil panas/dingin, silica filter dryer). Biaya: 700 rb, di bengkel Surya 14 Pasteur.  Kata orang bengkel, sebaiknya AC itu dicek setiap 2 thn sekali.  Dianjurkan juga untuk kuras radiator, mungkin nanti ditanyakan saat service 40K.

Ganti Mobil: Katana ke Picanto

27 December 2007 at 02:15 | Posted in Uncategorized | 70 Comments
Tags:

Harusnya tidak menulis sampai Feb, tapi biarlah, mumpung masih ingat.

Mobil bagi saya yang penting adalah aspek fungsionalnya, bukan untuk gaya atau gengsi. Sebelumnya kami memiliki Katana 91, mobil pertama kami. Hal yang memaksa kami ganti adalah memang usianya sudah tua, mesin sering kepanasan (pernah harus diparkir saat macet) dan yang lebih gawat adalah oli sudah masuk ke ruang bakar sehingga knalpot berasap putih. Membahayakan orang lain dan diri sendiri, karena kalau macet ya saya sendiri juga yang menghirupnya. Sempat 1/2 turun mesin, tapi gagal. Mau turun mesin penuh sayang, pasti hasilnya tidak maksimal. Akhirnya kami memutuskan untuk mencari pengganti.

Kami memutuskan beli baru saja, soalnya saya dan istri buta masalah mekanik mobil. Beli mobil bekas, kalau sial malah bisa jadi lebih repot dan mahal.

Faktor utama penentuan mobil adalah harganya :-) . Faktor yang lain, saya tidak mau mobil yang baru muncul (versi awal). Sama dengan software, jangan gunakan versi 1.0, kadang-kadang masih banyak bugs-nya. Ini yang membuat mobil seperti Karimun Estilo, QQ dan Proton Savvy tidak saya perhitungkan.

Pilihan tinggal mengerucut ke dua jenis mobil: Xenia dan Picanto. Mulailah mencari informasi di internet. Berikut tips untuk mencari informasi mobil di internet:

  • Jangan terlalu percaya review majalah/koran di Indonesia. Terlalu banyak pujiannya, dugaan saya mereka tidak netral karena menerima fasilitas dari produsen yang akan diuji. Jangan terlalu percaya juga pada foto, biasanya hanya diambil dari sudut yang bagus saja, lebih akurat jika melihat dengan mata kepala sendiri di jalanan atau di dealer.
  • Ikuti milis mobil yang kita minati. Saya ikuti milis XeniaAvanza dan Picanto. Cari keyword seperti “problem” “masalah” untuk melihat masalah yang dimiliki mobil tersebut. Lihat-lihat messages 1-12 bulan kebelakang untuk melihat pengalaman para pemilik dan isu-isu terkini.
  • Lihat-lihat forum diskusi seputar otomotif. Saya mengikuti dua: Kaskus dan SerayaMotor (ada fasilitas search).
  • Cari review dari situs luar negeri, biasanya mereka lebih kritis dan objektif. Cuma masalahnya, spesifikasi mobil kadang berbeda cukup jauh.

(hmm kalau semua langkah itu dilakukan secara otomatis oleh program bagaimana ya? Aplikasi teks processing yang bagus :-) )

Dari semua itu, saya mulai naksir Picanto. Kebetulan ada promosi Picanto di supermarket Giant tempat kami biasa berbelanja bulanan, kami jadi bisa melihat-lihat lebih detil tanpa perlu datang ke dealer. Keputusan final diambil setelah test drive Avanza milik saudara dan Picanto dari dealer. Berikut alasan memilih Picanto dibandingkan Avanza atau Xenia (A/X):

  • Keluarga hanya bertiga (saya, istri, satu anak). Paling sering digunakan sendiri atau berdua. Walaupun kadang-kadang butuh juga bawa lebih banyak orang.
  • Posisi pengemudi lebih nyaman Picanto. Picanto lebih mirip sedan, posisi pengemudi rendah. Ada tilt steering sehingga paha mendapat ruangan lebih.
  • Picanto terasa lebih bertenaga. Walaupun HP dan maks torque-nya lebih kecil dari Avanza, bobot Picanto (curb weight) hanya 850kg-an (ini data Picanto Eropa, mungkin versi Indonesia lebih ringan lagi). Dari hasil googling, Avanza curb weightnya 1130 kg ( Curb weight = berat mobil dihitung dalam kondisi lengkap, full tank hanya tanpa penumpang dan bagasi) . Maks torque Picanto juga didapat pada RPM 2800 (96.1 NM), sedangkan Avanza pada 4400 (120 NM).
  • Lebih stabil, Picanto pada kecepatan 120 kpj di tol masih sangat stabil, tidak terasa. Saya bandingkan bukan dengan Katana lho, tapi dengan Toyota Cressida punya bapak saya. Bantingan saat belok juga lebih kecil. Wajar sih, karena Picanto lebih pendek dari A/X.
  • Picanto termasuk mobil laris di Eropa (terutama UK), banyak review positif juga dari pengguna di Malaysia, Singapore, Filipina. Jadi walaupun untuk versi Indonesia fiturnya banyak dipangkas, setidak-tidaknya sudah teruji di banyak negara.
  • Bentuk Picanto lebih manis :-)
  • Kelemahan Picanto: sisi harga jual (resale) , dimensi yang lebih kecil dan tidak tahan banjir :-(

Memang bukan apple to apple sih, A/X termasuk MPV dan Picanto termasuk city car. Faktor yang sama cuma kisaran harganya.

Ya semoga saja Picanto ini bisa lebih bermanfaat dan tidak rewel :-)

–update 4 Jan 08 — : lanjutan dari posting ini: review KIA Picanto

–update 5 Feb 08–: klarifikasi curb weight Avanza (ambil dari wikipedia) , tambah info max torque.

Blog at WordPress.com. | The Pool Theme.
Entries and comments feeds.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 69 other followers