Mengapa mau jadi dosen?

26 September 2008

Pertanyaan ini dilontarkan oleh rekan dosen setelah dia tahu latar belakang pendidikan saya. “Ngapain kamu jadi dosen? kalau kamu kerja di industri pasti lebih makmur”, begitu ucapnya.  Memang benar juga sih,   kalau dari ukuran uang,  penghasilan  teman-teman seangkatan saya sepertinya sudah mencapai belasan juta per bulan (bahkan lebih).

Menyesal dong? Jelas tidak :-)   Menjadi dosen bukan pilihan terakhir bagi saya. Sebelum saya memilih profesi dosen, saya sudah mendapat beberapa tawaran dari teman untuk bekerja, dengan gaji yang jauh lebih tinggi tentunya.

Pekerjaan menurut saya mirip seperti pasangan hidup. Setiap orang memiliki selera yang berbeda, dan harus ada trade off.  Agak lama juga ternyata untuk menemukan “selera” saya.  Saya termasuk orang yang sering gonta-ganti pekerjaan. Proyek pengembangan software pertama kali saya dapatkan saat SMA, berlanjut menjadi freelancer saat kuliah. Sempat jualan software, baik langsung maupun melalui internet.  Kemudian membuat perusahaan sendiri setelah lulus. Karena perusahaan tidak berkembang, beralih jadi karyawan.  Akhirnya menjadi dosen di tahun 2004 sampai dengan sekarang. Dari semua itu, menjadi dosen menurut saya merupakan  pekerjaan yang paling menyenangkan.

Kenapa bisa seperti itu? Setelah saya pikir-pikir, mungkin karena sifat saya yang cepat bosan. Dengan menjadi dosen, sulit untuk menjadi bosan. Mempersiapkan materi kuliah membuat saya harus terus belajar. Menghadapi mahasiswa yang selalu baru setiap semester memberikan masukan yang segar.  Melakukan penelitian memberikan kebebasan untuk melakukan apa yang kita inginkan (tanpa perlu khawatir hasilnya tidak laku).  Diluar kedua hal itu, profesi menjadi freelancer masih tetap dapat dijalankan :) Malah sekarang saya melibatkan mahasiswa sebagai programmer (saat ini ada 7 orang yang sedang bekerja) sehingga mirip mengelola perusahaan juga.

Kelebihan yang lain adalah fleksibilitas waktu dan tempat kerja.  Urusan kuliah tatap muka memang tidak dapat ditinggalkan (harus di dalam kelas dalam waktu tertentu). Tapi diluar itu, saya dapat bekerja dimana saja.  Penggunaan e-learning membuat saya dan mahasiswa dapat berkomunikasi tanpa perlu dibatasi ruang kelas. Kadang-kadang saya chatting dengan mahasiswa mengenai kuliah sampai jam 1 pagi (tapi kalau ada yang berani menelpon jam 12 malam, ya saya getok).  Kenikmatan seperti bisa bermain dengan anak di pagi hari, mengantar dan menjemput dia dari sekolah dan les, dan… tidur siang merupakan hal yang saya yakin jarang dimiliki orang yang bekerja di perusahaan lain :)

Kelebihan yang lain (lagi) adalah dari sisi politik kantor. Di universitas, walaupun ada, intrik antar dosen relatif sedikit dan lunak.  Dengan jabatan fungsional, dosen suatu saat bisa menjadi ketua jurusan, bahkan rektor. Tapi di saat yang lain dapat menjadi dosen biasa lagi. Ini berbeda dengan di tempat lain yang sekali diatas akan terus naik jabatannya.

Ada yang berminat? :)   Ilkom UPI tahun ini membuka lowongan untuk dosen. Sayangya  mungkin pendaftarannya sudah ditutup (27 sep 08). Tapi tahun-tahun mendatang saya yakin akan terus menerima karena kami masih kekurangan dosen.

15 Tanggapan ke “Mengapa mau jadi dosen?”

  1. jasund Berkata

    memang kehidupan itu sebuah pilihan, mana yang menguntungkan kita secara materi dan mana yang menyenangkan kita secara hati.. namun saya mau tanya nih..ya walaupun keluar dari bahasan…bagaimana menrut padangan bapak yang sudah berpengalaman di bidang IT tentang apa yang menjadi peluang untuk bidang IT khususnya di Bandung saat ini..rencananya saya dan keluarga akan membuat perusaan IT kecil-kecilan..SDMnya pun dari keluarga sendiri..

  2. yudiwbs Berkata

    Bisa saja pak, tetapi biasanya client akan lebih banyak dari Jakarta. Jadi mungkin harus siap sering bolak balik Jkt – Bdg.

  3. rudis Berkata

    wahb paaaaaaa mauu banget jadi dosen tapi sarat jadi dosen itu apa sih??????????? pleaase tolong yah pengen nih jadi dosen.

  4. yudiwbs Berkata

    syarat? untuk administratif IPK jangan dibawah 2.75 dan minimal S2.

  5. yudi hardimulya Berkata

    wah…menarik memang menjadi tenaga pendidik,,dulu waktu masih SMA pernah punya pengalaman menjadi tenaga pengajar les komputer (ceritanya keluarga pernah menyediakan kursus komputer untuk siswa sd-smp di daerah tempat tinggal saya,namun hanya beberapa bulan saja berjalan gara-gara pemasukan macet-he5 jadi curhat-) memang menyenangkan…
    di satu sisi kita harus menghadapi siswa yang cekatan dalam mengikuti les dan di sisi lain juga harus menghadapi siswa yang kurang cekatan…
    yang saya rasa, dari hal itulah kepuasan nikmatnya menjadi seorang pengajar selain yang disebutkan bapak di atas

  6. yudiwbs Berkata

    ^
    itu yang masih saya pelajari. Apa yang saya peroleh dari SMA sampai kuliah adalah kompetisi. Mahasiswa didorong survive, kalau tidak berhasil kelaut aja. Di UPI, dari rekan-rekan dosen saya baru sadar bahwa sebenarnya setiap mahasiswa punya potensi yang bisa dikembangkan, jadi harusnya dibimbing lebih baik. Cuma ya itu, masih sering terbawa gaya lama hehe.

  7. rudihe Berkata

    Barusan 2 minggu lalu, sy dpt 2 surat tawaran kerja utk jd Dosen dan jd Peneliti. Setelah berdiskusi dg para senior, akhirnya sy memutuskan utk menjadi dosen insya-Allah, walaupun gaji utk tawaran Peneliti itu sebetulnya 25% lbh gede.

    Knp sy milih jd dosen?

    Karena sy pengen jd Professor.. he he.

  8. yudiwbs Berkata

    ^ bagus pak, kalau semua mau masuk ke industri dan full riset. Mahasiswa kita mau diajar oleh siapa? Jangan sampai oleh golongan sisa-sisa yang niat mengajarpun tidak.

  9. rosa Berkata

    Kalau ada lowongan UPI lagi dipost ya Pak. Terima kasih.

  10. Vina Berkata

    Kenapa mau jadi dosen upi pak?

  11. yudiwbs Berkata

    @vina:
    Alasannya karena jurusan ilkom UPI baru berdiri. Di tempat lain tidak mungkin saya bisa membuat lab sendiri secepat di UPI. Diberi ruangan sendiri yang cukup besar dengan belasan komputer lagi :) (posting tentang lab saya: http://yudiwbs.wordpress.com/2008/05/12/lab_basdat_ilkom_upi/)

    Prinsipnya kebebasannya masih tinggi dan kita dapat berperan maksimal karena bentuknya belum stabil. Sama dengan mengapa kita bergabung ke perusahaan yang sedang berkembang vs perusahaan yang sudah stabil.

  12. Penggemarmu Berkata

    Setelah berhasil mendeklarasikan diri menjadi Dosen, dan meraih predikat dosen terbaik beberapa bulan lalu… Sekarang kira2 apa nih program 100 hari nya Kaprodi Baru :D
    … Diantosan terobosannya pak …

  13. wida Berkata

    apa pendapat bapak dengan dosen wanita? sayapengen jadi ibu rumah tangga, tapi disuruh jadi dosen ssama bapak. banyak juga yang ngedukung saya jadi dosen. Tapi ya itu, saya pengen fokus di rumah, (kata beberapa temen sih, kalo cuma jadi ibu rumah tangga bosen). nah, menurut bapak gimana??

  14. Rani Megasari Berkata

    “Pekerjaan menurut saya mirip seperti pasangan hidup”, saya setuju pak! Bagi orang yang mengenal saya, pasti paham bahwa saya adalah tipe seorang pemikir yang memiliki ambisi sekaligus memerlukan motivasi untuk berkembang (sifat yang kontras, hehe). Artinya, apa yang saya pilih pasti sudah saya pikirkan secara matang agar siap dengan segala resikonya dan lebih bisa menikmati segala kelebihannya. Keadaan sekitar sangat berpengaruh bagi saya untuk dapat mengembangkan segala potensi yang dimiliki. Dan lingkungan akademisi, saya yakini bisa membuat seseorang selalu belajar.

    Mengapa ingin menjadi dosen? Pekerjaan ini bisa membuat orang menjadi awet muda,jika benar-benar dinikmati karena memungkinkan untuk berinteraksi dengan banyak orang, dengan karakter yang beragam. Kesimpulannya, ingin awet muda? Tidak juga, itu hanya sedikit dampak positif yang bisa terjadi. Prinsip saya, roda kehidupan selalu berputar. Selama saya memiliki ilmu dan itu bisa berguna bagi orang lain, saya anggap sebuah amalan karena saya juga memerlukan orang lain untuk bisa mendapatkan ilmu itu. Sedikit pengalaman, saya pernah dimintai bantuan oleh adik tingkat yang diberi tugas besar Basis Data oleh bapak sebagai dosennya. Mereka superwoman (sekelompok perempuan semua). Sebagai kakak tingkat yang sudah lulus mata kuliah tersebut saya ajarkan apa yang saya bisa. Waktu itu mereka datang lepas maghrib dan selesainya cukup larut malam. Hampir saya lupa kejadian itu, tapi beberapa kali mereka mengucapkan terima kasih kepada saya walaupun sudah lama sekali bahkan sampai saya diwisuda. Padahal hanya sedikit yang saya lakukan, tapi rasanya bahagia sekali bisa menambah saudara dengan ilmu. Sekarang saya sedang menunggu pengumuman S2, apapun hasilnya pasti Allah punya rencana terbaik untuk jalan hidup saya. (Maaf pak kepanjangan komennya, jadi curhat:-) ).

  15. iko Berkata

    Terima kasih Pak, artikelnya sangat memberi inspirasi. Kebetulan saya akan mulai bekerja sebagai dosen, dan artikel Bapak memperkuat motivasi atas pilihan saya tersebut. Banyak orang di sekeliling saya yang cukup skeptis dalam memandang pilihan menjadi dosen, mungkin karena yang dilihat hanya sisi finansialnya atau karena sebab lain. Thanks!


Tinggalkan Balasan