Sebelum masuk SD, Furqon mengikuti les sempoa. Kemudian sempoa dihentikan dan diganti dengan sakamoto. Kedua les ini dipilih karena Furqon memang suka dengan Matematika. Kalau ditanya apa pelajaran yang paling dia sukai, jawabannya pasti matematika (ikut bakat ibunya nih).
Sempoa sendiri dasarnya adalah ketrampilan, jadi jam terbang harus sangat banyak dan model belajarnya adalah drill. PR-nya juga banyak. Inilah yang membuat Furqon bosan (kalau yang ini mirip bapaknya, gampang bosan untuk hal yang rutin
Berdasarkan pengamatan ini dan rekomendasi gurunya, Furqon dipindahkan ke les sakamoto.
Kalau dari cerita gurunya, sakamoto ditujukan untuk problem solving, terutama untuk soal cerita. Model soalnya menurut saya mirip tes potensi akademik. Furqon cocok dengan les ini dan yang penting dia suka (calon engineer nih) Lagipula PR-nya bersifat sukarela dan hanya sedikit. Tentu saja Furqon lebih banyak memilih opsi tanpa PR hehe.
Dari yang saya lihat, kelebihan les-les ini terletak pada empat hal: rasio guru-murid (maksimum 1:5), individual learning (tiap murid bisa memiliki kecepatan berbeda), guru yang berpengalaman dan suasana yang dibuat menyenangkan tapi tetap mendorong kompetisi. Jadi sebenarnya kalau ada sekolah yang mengimplementasikan keempat hal tersebut untuk pelajaran matematika, pasti murid-murid akan suka. Cuma hal ini memang sulit diterapkan di sekolah, bahkan untuk sekolah swasta yang mahal sekalipun.
–update Juni 09 –
Sekarang Furqon ikut Sakamoto dan Sempoa





12 Maret 2008 pada 9:53 am
kemaren liat liputan sekilas tentang sakamoto di tipi,
baru denger, padahal udah dari taon 2001 masuk indonesia ..
12 Maret 2008 pada 12:53 pm
iya saya juga baru tahu. Itu juga karena yang mengadakan les sempoa juga mengadakan les sakamoto
Yang penting bagi kami sih anaknya suka dan bermanfaat.
17 Maret 2008 pada 8:40 pm
Anak sayah blajar ngitung nyang make jari….
Ngitungnya cepat banget…
Sayah malah jadi bingung sendiri….
18 Maret 2008 pada 5:37 am
jarimatika ya?
Prinsipnya pasti sama, harus banyak latihan. Bagus itu kalau sudah menguasai, skill yang banyak berguna.
7 Mei 2008 pada 10:57 am
Apakah ada les sakamoto dekat Dago ?
Ingin mencobanya untuk anak pertama saya juga doyan matematika dan trouble-shooting.
Kalau catur, Furqon suka tidak ? Tahu sekolah catur di dekat Dago ?
7 Mei 2008 pada 12:10 pm
Wah saya tidak tahu ya, setahu saya pusatnya di BTC. Nanti deh kalau kebetulan saya kesana akan saya tanyakan.
Mengenai catur, furqon biasa saja. Pernah beberapa kali main, tapi sepertinya bosan. Mungkin karena kalah terus, menggunakan komputer juga kalah terus.
23 Mei 2008 pada 1:45 pm
Ini no telp tempat les Sakamoto di bandung : BTC 6126056, setrasari 70712312, batik kumeli 2515152, batununggal 7508251, TKI 70730496, Elang 6040780, cendana 7204388, hyper sq 86060729, singgasana pradana 5436443, cimahi 6646685.
Pusat sakamoto jabar ada di jl ayani no 773.
18 Juni 2009 pada 12:51 pm
saya bisa minta info untuk sakamoto yang ada disurabaya ngga karena saya posisi ada di sby
23 Mei 2008 pada 2:59 pm
@Pak Jeff, makasih atas infonya
Mungkin bisa tambahkan informasi lebih rinci tentang sakamoto? dari sudut pandang pengajar tentunya.
23 Mei 2008 pada 6:49 pm
Sakamoto Method sama seperti mengajarkan aljabar memakai sudut pandang anak SD ^_^
Karena itu maka 70% soal Sakamoto berbentuk soal cerita.
Les Sakamoto tidak memberikan PR kecuali permintaan orang tua ^_^
24 Mei 2008 pada 4:34 am
@Ibu Shinta, makasih atas infonya.
9 Juni 2008 pada 12:12 pm
Anak saya sebelumya les matematika yang berasal dari Jepang juga (K**on) , metoda yg digunakan adalah dengan melatih anak mengerjakan soal yang sama berulang-ulang sampai anak tersebut dapat menyelesaikan dengan cepat karena biasa. Anak saya cepat bosan krn PR yg dibawa ke rumah cukup banyak dan berulang2.
Akhirnya saya coba pindahkan ke les Sakamoto, metodanya lebih ke problem solving, dengan membuat soal-soal cerita untuk soal paling sederhana sekalipun. Tidak ada soal 1 + 1 = …., Di Sakamoto diganti menjadi ” Beli 1 buku kemudian beli lagi 1 buku, bukunya jadi berapa?”, Sampai saat ini anak saya dengan senang hati melahap soal-soal yang diberikan
Begitu kira2 pengalaman saya, maaf kl salah…..
9 Juni 2008 pada 2:41 pm
Kalau dari hasil googling, sepertinya sakamoto bukan dari jepang sih. Mungkin memang penemunya orang Jepang, tapi kalau dilihat dari kompetisinya, semuanya di ASEAN.
Tapi tidak apa-apa, yang penting anaknya suka dan melatih dia untuk memecahkan masalah
12 Juni 2008 pada 10:04 am
Metode sakamoto pertama kali ditemukan thn 1975 oleh DR. Hideo Sakamoto di Osaka, Jepang. Pada waktu itu, metode ini berkembang pesat di Jepang.
Baru pada tahun 1994 di Singapura, Metode Sakamoto menjadi waralaba dan masuk Indonesia thn 2001.
Begitu yang saya tahu… ^_^
12 Juni 2008 pada 11:06 am
@ibu shinta
Makasih koreksinya
Referensi saya dari http://www.sakamoto.net yang sepertinya merupakan official web site sakamoto (mohon koreksi ya). Kalau lihat siapa yang membuat site tersebut (di bagian footer), http://www.exxelnet.com/, merupakan perusahaan hosting dan web design di singapura.
Kemudian jika dilihat daftar kompetisi yang ada di situs tersebut, sepertinya tidak pernah dilakukan di Jepang. Di situs ini juga tidak ada link untuk bahasa jepang.
Kemudian saya coba googling kaitan antara sakamoto dengan Jepang sepertinya tidak ada, demikian juga dengan Hideo Sakamoto dan Jepang.
Kesimpulan saya, berdasarkan pencarian di internet (bisa salah ya, kalau infonya memang tidak ada di internet, atau tidak ada yang menggunakan bhs Inggris). Pusat sakamoto ini ada di Singapura dan tidak ada cabangnya di Jepang. Mohon koreksi kalau saya salah atau ada situs yang terlewati.
Tapi prinsipnya tadi, saya tidak mempermasalahkan nama atau asal, mau “sakamoto” diganti jadi “wibisono” juga tidak apa-apa
. Yang penting metodenya masuk akal dan anak saya suka.
19 Juni 2008 pada 7:22 pm
salam kenal mas
Mm, saya tertarik dg penjelasan ttg Sakamoto, kebetulan saya dpt info dr gurunya anakku soal kursus ini, terkait minat & kelebihan anakku yg gemar sekali matematika. So far dia belajar dr komik Doraemon ttg luas & volume, Pecahan & desimal, dll
Anyway, thx infonya, sgt membantu…
19 Juni 2008 pada 10:27 pm
@ibu diana, salam kenal juga.
Terimakasih, senang bisa membantu.
Oh ya jika anak ibu suka komik dan matematika bisa dicoba komik “Asyik Belajar Matematika” buatan Kim Rin.
30 Juni 2008 pada 12:30 pm
Pak Yudi, terima kasih banyak atas ceritanya. Jadi banyak dapat info nih…
1 Juli 2008 pada 4:40 am
Makasih bu Siti
27 Agustus 2008 pada 8:24 am
Pak Yudi,
Anak saya kelas 2 SMP, math nya saat ini sangat menurun, saya ingin ikutkan sakamoto, namun kendalanya adalah waktu pak,
krn ia sampe ke rumah sekitar pukul 17.30 dimana setelah itu ia sudah sangat lelah.. apakah ada kemuingkinan untuk melaksksanakan kursus sakamoto di rumah pak? pada hari sabtu/minggu?
atau ide lain ?
salam
andi
27 Agustus 2008 pada 1:48 pm
Setahu saya tidak ada kursus sakamoto yang bisa dipanggil ke rumah pak.
Tapi apakah anak bapak sekolah dari pagi sampai sore? jangan-jangan kemampuan math-nya menurun justru karena keletihan. Nanti ditambah les malah tambah letih. Menurut saya lebih baik anaknya diajak bicara supaya diketahui dulu penyebabnya, jadi penangananya bisa tepat.
16 Oktober 2008 pada 3:15 pm
Saya sedang membandingkan beberapa jenis kursus matematika antara lain dengan cara perhitungan cepat, akan tetapi saya melihat bahwa metode sakamoto ini berbeda dimana lebih banyak menggunakan soal cerita sehingga lebih dapat melatih daya imaginasi dan problem solving anak. dimana kursus sakamoto yang dekat daerah mampang jaksel.
4 Maret 2009 pada 1:23 pm
pak yudi,
di hyper sq, selain sakamoto ada juga kumon.
apa kelebihan sakamoto dibanding kumon? kumon kan ada bahasa inggrisnya, kalo sakamoto ada ga?
terimakasih
aan
4 Maret 2009 pada 6:42 pm
@aan,
Saya tidak tahu untuk bidang matematikanya, waktu itu sih lihat-lihat untuk bahasa Inggris. Tapi modelnya tidak cocok bagi kami, soalnya menggunakan sistem drill dan banyak PR-nya.
3 April 2009 pada 4:33 pm
duuh, baru tau nih. berminat juga. biasanya mulai dari umur berapa kalo daerah jakarta pusat atau utara ada gak yaaa???
30 April 2009 pada 10:11 pm
Sakamoto di jakarta timur ada gak ya?
20 Mei 2009 pada 12:20 pm
kalo di daerah makassar sudah ada belum yah tempat les Sakamoto… tolong infonya yah….
terima kasih.
25 Mei 2009 pada 10:52 am
anak saya malah kebalikan dengan anaknya bapak, akan saya TK les di sakamoto, trus pindah ke sempoa, waktu SD.
Di sempoa emang PR nya banyak (bagi saya), dulunya ini yang bikin anak saya mau keluar, tapi saya tahan, dan saya buat enjoy,kadang hanya ngerjakan PR cuma separo aja.
Syukur, ternyata hal ini berjalan sebentar saja, karena gurunya juga saya kasih tahu kondisi anak saya ini, jadi ikut menyemangati.
Saat ini anak saya kelas 2 SD, level 7 di sempoa, ternyata PR yang kelihatannya bayak bagi saya, gak berarti banyak bagi anak saya. saya yang udah 40 th, ternyata kalah menghitung lawan anak SD.
Kayaknya kursus yang sudah disebut diforum ini sama aja baiknya, tergantung bagaimana kita memfasilitasi dan menyikapinya.
Kalo saya milih kursus cari yang dekat rumah aja, biar gak repot ngantar, dan tentunya gurunya yang care degan anak-anak. Thxs.
18 Juni 2009 pada 5:14 pm
Menurut saya sakamoto beda dengan sempoa. Kalau untuk melatih cara berpikir logis, lebih bagus sakamoto.
Sempoa untuk mendapat keterampilan cepat menghitung. Memang diperlukan, apalagi di SD kelas-kelas awal, memang menghitung ini yang pertama diajarkan. Tetapi untuk kedepan (SMP,SMA) skill pemecahan masalah di Sakamoto menurut saya lebih berguna. Sekarang anak saya sih ikut dua-duanya
18 Juni 2009 pada 5:04 pm
@try,lia,ama: maaf saya juga tidak tahu. Mohon dicek ke situs sakamoto atau via telpon. Untuk no telp lihat comment dari Pak Jeff: http://yudiwbs.wordpress.com/2008/03/12/sempoa-dan-sakamoto/#comment-295 (walaupun telp bdg, tapi semoga tahu juga tentang cabang sakamoto di tempat lain)
26 Juni 2009 pada 3:45 pm
@ Lia : kata teman saya di Jakarta Timur belum ada, yang ada di Kalimalang ( sdh masuk Bekasi ), soalnya dia yg buka kursus tsb.
23 Juli 2009 pada 5:33 pm
Wah jadi semagat nih mau masukin anak ke les Sakamoto. Selama ini saya beranggapan, untuk soal2 matematika saya masih bisa handle, karena kebetulan saya suka matematika. Tetapi ternyata ngajar’in anak sendiri itu beda dgn ngajar anak orang lain, karena kalau sama anak sendiri suka tidak sabar. Jadi….ya sudah lebih baik diajarin orang lain kali ya…
11 Agustus 2009 pada 12:54 am
Kedua anak saya pernah ikut sempoa di usia 9th dan 7 th. Bagi yang cewek 9 th, sempoa terlalu mudah, jadi dia bosan. Yang cowok 7 th, sempoa menuntut konsentrasi tinggi terus-menerus diawal kursus, jadi dia bete. Akhirnya, les sempoa berhenti.
Kumon, baru free trial 1 minggu aja udah bikin ribut di rumah, tiap malem ributin mereka untuk buat worksheet.. Ga nyampe daftar..dan memilih belajar sendiri di rumah.
Memang nilainya pas2an, pas ulangan bisa jawab, pas ada pr bisa ngisi..
Baru sekerg setelah yang cewek 12 thn masuk smp, dan yang cowok 10 th di kelas 5, mereka tertarik untuk les lagi, dan pilihannya di sakamoto. Karena, teman anak saya yang kursus di sakamoto selama 2th, dari nilai biasa jadi juara umum di sekolah saat lulus SD kemarn.
They must be teaching something good to the children there..
25 Agustus 2009 pada 12:56 pm
wah…jadi tertarik nih mau belajar caranya sakamoto juga. Gimana caranya ya??
Ada pengenalan gratis buat guru ngga ya, terutama yg di wilayah jaksel dan jakpus nih.
31 Agustus 2009 pada 9:26 pm
Maaf, mau tanya.. Kalau di Denpasar apakah ada les sakamoto? Kalau ada, alamatnya di mana ya? telp??
5 September 2009 pada 12:13 pm
Wah, kalau yang saya tau nih sempoa dan sakamoto sama bagusnya cuma beda gunanya.
anak saya dulu cuma les sempoa (SAKAMOTO blm ada) dia les dari kelas 5 sd terus sampai modul grand-nya sempoa (kira2 selesainya di SMP kelas 3) Nah awal awal dia bosen, katanya terlalu mudah, tapi saya consult dengan kakak pembimbingnya. menurut pembimbingnya memang cara belajarnya begitu harus belajar dari yang paling mudah dulu. baru di tingkat yang lebih sulit. Nah menurut beliau pelatihan sempoa bertujuan bukan hanya melatih kecepatan berhitung tetapi juga meningkatkan konsentrasi dan melatih kecepatan berpikir dan melatih pemecahan masalah. mendengar begitu, saya bujuk anak saya untuk tetep les. dan untung kakak pembimbingnya membantu saya memberikan goal kepada anak saya dengan menunjukan buku modul grand kepada anak saya. Anak saya gak pernah dapat pr tuh.. yang ada namanya vitamin jadi ceritanya prnya diberikan kalau si anak yang minta (kata kakaknya seperti ke dokter vitamin diberikan ketika butuh). di modul awal anak saya ogah minta pr jadi gak pernah punya vitamin tapi belakangan dia udah suka (mungkin karena terbiasa ya?) jadi setiap pulang kursus dia minta pr yang banyakan.
kira2 di smp kelas 1 anak saya udah enjoy tuh belajarnya. meskipun jadwalnya sibuk dia ogah saya stop lesnya. Tapi smp ada perubahan yang sangat signifikan yang saya dan bapaknya lihat, waktu di sd dia ogah kerjain pr sekolah sampe pakai bujukan dan paksaan, nah di SMP dia dengan sukarela kerjain prnya di depan tv lagi ( dia paling hobi nonton kartun) saya heran, saya cek prnya bener semua lagi. di sd dia paling benci matematika nah di smp dia suka banget pelajaran mate. Dan anak saya termasuk kategori “pelajar malas” (sampai bosen setiap terima raport di panggil guru) nah di SMP dia rangking. saya heran terus saya cari tahu, ternyata temen2 anak saya yang masih les sempoa mengalami hal yang sama tapi yang tidak les sempoa tidak, jadi saya tanya ke pembimbingnya katanya memang itu tujuan belajar sempoa. ( Bapaknya gak percaya jadi cek di internet, ternyata menurut website sempoa di canada memang itu hasil dari belajar sempoa).
Sekarang anak saya sudah di semester 7 universitas negeri (lulus PMDK), IPK nya sekitar 3.7 dan saya lihat kalau dia kerjakan tugas kuliahnya masih pakai bayangan. dan temen2 dia yang les sempoa sekelas dengan dia punya prestasi yang mirip dengan dia (sahabatnya lulus sebagai dokter muda, hasil PMDK juga, tadinya juga siswa payah seperti anak saya).
melihat pengalaman anak saya, ponakan saya pun saya leskan sempoa dari TK (skrg kls 2), sekarang di tempat lesnya ada sakamoto juga, saya tanya penjelasan produknya menurut gurunya untuk menguatkan logika, analisa dan problem solving. dia udah les 6 bulan (sakamotonya) dan masih rewel kalau mau les sakamoto (sempoa dia enjoy,) tapi saya tetep bujukin karena manfaatnya yang sangat bagus.
jadi saya rasa kedua les tersebut bagus cuma beda manfaat aja. thanks mas yudi atas kesempatannya sharing
7 Oktober 2009 pada 11:36 am
anak saya sdh les aritmatika smpai lulus level 10, krn utk mengasah trs kemempuanx kembali saya ingin ikutkan lg sakamoto , dia sdh 13 kali juara lomba tkt lokal maupun nas ,kaloi Purwokwerto dimana lesx tq